Berita Video Tribun Lampung

VIDEO - Tugas Psikolog Forensik Gali Apa yang Dialami Korban

Tidak banyak yang tahu, untuk memeriksa tersangka dan korban suatu kasus diperlukan seseorang yang berprofesi psikolog forensik

Laporan Live Streaming Reporter Tribun Lampung Jelita Dini Kinanti

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG – Tidak banyak yang tahu, untuk memeriksa tersangka dan korban suatu kasus diperlukan seseorang yang berprofesi psikolog forensik. Profesi itu yang dijalani Octa Reni Setiawati sejak tahun 2014.

Octa menceritakan, psikolog forensik adalah seseorang yang memiliki latar belakang pendidikan psikologi dan keterampilan spesifik. Tugas psikolog forensik menggali apa yang dialami korban dan dilakukan tersangka untuk menjadi bahan pertimbangan dalam persidangan. Untuk bisa menggalinya, Octa harus bertemu langsung dengan korban dan tersangka.

Baca: Psikolog: Keisengan adalah Cara Anak Membangun Kedekatan

Sudah banyak korban dan tersangka yang ditemui Octa dalam kasus yang berbeda-beda. Seperti pencabulan, pemerkosaan, pembunuhan, dan sebagainya. Korban pertama yang ditemui Octa adalah korban pencabulan. Korban masih anak-anak dan jumlahnya cukup banyak.

Melihat anak-anak itu Octa merasa miris. Anak-anak yang merupakan generasi penerus bangsa menjadi korban pencabulan. Padahal seharusnya anak-anak dijaga dan dilindungi. Sejak saat itu Octa bertekad, kasus yang diutamakannya adalah kasus dengan korban anak-anak. Octa ingin siapapun tersangka yang menjadikan anak sebagai korban harus mendapatkan hukuman yang setimpal.

"Untuk menggali siapa tersangkanya, apa yang dialami anak itu, dan sejak kapan mengalaminya tentu saya harus menggali dari anak itu sendiri. Cara saya menggalinya dengan berbicara langsung dengan anak itu dengan teknik assesmen psikologi," kata Octa.

Octa mengaku tidak mudah bicara dengan anak-anak karena biasanya anak-anak tidak bisa diajak bicara berhadapan muka seperti bicara dengan orang dewasa. Tapi harus sambil bermain dengan situasi yang nyaman.

Sama halnya dengan anak-anak, korban kasus lain juga terkadang tidak mudah diajak bicara. Apalagi kalau korban sedang menutup dirinya. Kalau sudah begitu, Octa tidak bisa memaksa korban dan mencoba berbicara lagi keesokan harinya.

Agar korban mau berbicara, Octa harus membangun kepercayaan korbannya kalau Octa bukan orang yang berbahaya. Octa juga harus membangun komunikasi yang positif dan hangat dengan korbannya.

"Begitupun dengan tersangka yang melakukan tindak kejahatan terhadap korban, tidak mudah mengajaknya bicara. Terutama saat tersangka tidak mau mengakui perbuatannya. Itu sebabnya berbicara dengan tersangka maupun korban terkadang tidak bisa hanya dalam waktu sehari," ujar Octa. (*)

Sumber: Facebook Tribun Lampung

Videografer: Okta Kusuma Jatha
 

Penulis: Okta Kusuma Jatha
Editor: soni
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved