Berita Video Tribun Lampung

VIDEO - Anton Medan Motivasi Warga Binaan Lapas Rajabasa

Dia meminta para napi menjadikan ini sebagai pelajaran hidup dan mensyukurinya.

Laporan Live Streaming Reporter Tribun Lampung Sulis Setia Markhamah

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG – Tidak ada yang menginginkan berada di lembaga pemasyarakatan dan mendekam di sel tahanan selama bertahun-tahun, bagi Anton Medan, masuk penjara adalah sebuah kesialan.

"Saya bilang masuk penjara itu karena sial. Kalau nggak sial nggak mungkin sampai mendekam di sel," paparnya mengawali motivasinya di hadapan 300an warga binaan Lapas Rajabasa di dalam masjid lapas setempat, Sabtu, 3 November 2018.

Namun begitu, Anton mengaku tak kapok ketiban sial hingga 14 kali masuk keluar sel penjara. "Di penjara pertama umur 12 tahun kena 4 tahun di Sumatera Utara waktu itu. Nggak lama bebas masuk (sel) lagi. Di sini ada gak yang begitu?" tanyanya. 

Menurutnya, ini adalah kali ke empat baginya berkunjung dan share pengalamannya di Lapas Rajabasa. "Sejak 1994 turun membina seluruh lapas di Indonesia. 2017 membina di lapas Selangor, Sabah Malaysia," beber dia. 

Tindak kejahatan yang dilakukannya sebanyak 14 kali itu, terusnya, semuanya adalah kasus pembunuhan dan perampokan.

"Menjalani total masa penjara 18 tahun 7 bulan. Tangan kanan maupun kiri patah, gigi pada copot. Kepala berapa kali cidera. Dari awal, kasus saya pembunuhan, perampokan," kata Ketua Umum Persatuan Islam Tionghoa Indonesia ini. 

Namun dia meminta para napi menjadikan ini sebagai pelajaran hidup dan mensyukurinya. Karena di lapaslah menurutnya banyak pembelajaran hidup yang bisa dipetik.

"Pandai-pandai bersyukur. Di lapaslah saya kenal saya ini manusia. Saya mengawali dakwah itu ke lokasi pelacuran dan lapas sejak 1993. Sebelum 1994 membina seluruh lapas di Indonesia," kata Ketua Pembina Lapas dan Narapidana Seluruh Indonesia itu. 

Sejak berniat memperbaiki diri, sambungnya, selain berdakwah dan memberi motivasi, juga membuka pesantren khusus mualaf Tionghoa. "Kemudia berkembang menerima eks napi. Di sana kami pekerjakan juga untuk usaha buat spanduk. Ada 200 mantan napi," ceritanya. 

Tak hanya itu, Anton mengembangkan sayap bisnisnya dengan membuka jasa instalasi untuk membuat rolling door dan lainnya,  hingga membuka lapak pecel. "Se-Jabodetabek saat ini sudah ada 480 lapak yang saya bangun, yang kerja semua bekas napi. Prosesnya tentu lewat pondok dulu," jelas Anton. (*)

Sumber: Facebook Tribun Lampung

Videografer: Okta Kusuma Jatha

Penulis: Okta Kusuma Jatha
Editor: Reny Fitriani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved