Jadi Pemandu Wisata Tak Semudah yang Dibayangkan

Dara cantik ini menjelaskan, tur wisata yang kerap dipandunya yakni ke Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Bali.

Laporan Reporter Tribun Lampung Sulis Setia Markhamah

TRIBUNLAMPUNG. CO. ID, BANDAR LAMPUNG - Profesi yang digeluti kalangan milenial kian beragam. kebanyakan berangkat dari hobi yang ditekuni hingga jadi ladang penghasilan. Salah satunya sebagai tourguide (pemandu wisata) seperti yang dijalani Yustina Dewi.

Nana mengatakan, dia menekuni pekerjaannya ini sejak Juli 2017 lalu. "Awalnya ditawarin temen jadi tourguide karena tau hobi saya jalan-jalan. Yaudah terus dijalanin sampai saat ini," tutur gadis kelahiran 25 tahun silam itu kepada Tribunlampung.co.id, Jumat (9/11/2018).

Dara cantik ini menjelaskan, tur wisata yang kerap dipandunya yakni ke Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Bali.

"Belum pernah ke Bunaken atau lainnya. Sementara masih di pulau Jawa, ke depan pengennya mandu di luar trip itu," kata Nana.

Rombongan turnya sendiri lebih sering anak sekolah dan mahasiswa. Terkadang juga rombongan pekerja dan umum. Menurutnya, menjadi tourguide ternyata tak segampang yang dibayangkan, karena terkadang menemukan peserta tur yang ngeyelan atau sengaja menjatuhkan profesinya.

"Rombongan tur kan macam-macam ya, ada yang antusias saat kita jelaskan mengenai objek-objek yang dikunjungi terlebih jika belum pernah berkunjung ke tempat tersebut, namun terkadang nemu peserta tur yang sengaja menjatuhkan profesi kita selaku tourguide," beber pemilik instagram @ystnadewi ini.

Menurutnya, menyikapi tipe orang yang seperti itu dirinya harus tetap bisa tenang dan menjaga emosi. "Tetap jaga attitude dan nggak usah terpancing, anggap saja ujian sebagai pemandu," selorohnya.

Nana mengakui tantangan menjadi tourguide adalah harus bisa mengatur waktu tur dan menyettingnya sesuai dengan rundown. Karena ketika ada satu trip yang tidak terealisasi pasti akan ada komplain dari rombongan turnya.

"Pernah sekali pengalaman tur di Bali bawa delapan bus sempet ada satu trip yang nggak bisa dikunjungi karena masalah waktu. Akhirnya kita ambil solusi dilewatin aja Pantai Pandawanya tanpa berhenti dan lanjut ke GWK. Intinya rombongan udah tau di sini loh Pantai Pandawa itu," kata dia.

Mengenai waktu yang ramai tur wisata, terusnya, saat musim liburan sekolah atau kuliah. "Jadi dalam setahun itu enam bulan full sampai nggak sempet pulang ke rumah. Enam bulannya longgar. Paling dalam sebulan hanya satu atau dua trip m," ungkapnya.(*)

Penulis: sulis setia markhamah
Editor: Reny Fitriani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved