Lila Ingin Karya Seni Bisa Dihargai Masyarakat

Masih adanya masyarakat yang tidak menghargai karya seni menjadi tantangan Perupa Perempuan Lampung Lila Ayu Arini.

Lila Ingin Karya Seni Bisa Dihargai Masyarakat
Ist
Lila Ayu Arini 

Laporan Reporter Tribun Lampung Jelita Dini Kinanti

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDARLAMPUNG - Masih adanya masyarakat yang tidak menghargai karya seni menjadi tantangan Perupa Perempuan Lampung Lila Ayu Arini. Tantangan itu sudah dirasakan Lila sejak pertama kali menjadi perupa tahun 2000.

Contoh tidak menghargai karya seni, ketika ada masyarakat yang mengatakan harga karya seni seharusnya murah, karena properti yang digunakan untuk membuat karya seni sudah pasti harganya murah.

"Masyarakat mengatakan seperti itu karena tidak mengerti, kalau membuat karya seni bukan hanya membutuhkan properti. Seperti karya seni berupa lukisan membutuhkan kuas, cat air, dan sebagainya. Tapi karya seni membutuhkan proses, agar karya seni yang dibuat bisa bernilai tinggi," ujar Lila.

Agar bisa melalui proses itu, harus belajar dalam waktu yang tidak sebentar. Seperti Lila yang mengawali belajar sebagai perupa dengan merekam kegiatan ayahnya yang juga seorang perupa. Ia pun sering melihat karya perupa di majalah.

Saat kuliah di STM Bhakti Utama, Lila mencoba-coba membuat lukisan. Saat itu lukisan pertama yang dibuat lukisan wajah ibunya. Setelah lukisan itu jadi, Lila menunjukan ke ibunya. Ternyata ibunya langsung suka dan matanya berkaca-kaca.

Setelah lulus STM Bhakti Utama, Lila memberanikan mendaftarkan diri sebagai mahasiswi di Institut Seni Indonesia untuk mengasah kemampuannya. Namun ternyata Lila gagal.

Kegagalan itu tidak membuat Lila menyerah, ia terus belajar melukis. Sampai akhirnya Lila ikut pameran di saburai. Dalam pameran itu lukisan yang Lila tampilkan adalah lukisan perempuan karena Lila paling suka dengan lukisan human interest.

Seiring berjalannya waktu, semakin banyak pameran yang diikuti Lila. Inspirasi dalam melukis banyak Lila dapatkan dari media sosial dan berita-berita seni dari luar negeri.

Pada tahun 2011 Lila menggagas pameran perupa perempuan di Taman Budaya. Saat pameran itu berlangsung Lila mendapat ide untuk membuat pameran instalasi, supaya ada yang berbeda di pamerannya.

Instalasi adalah seni yang memasang, menyatukan, dan mengkonstruksi sejumlah benda yang dianggap bisa merujuk pada suatu konteks makna tertentu. Di Jawa pameran instalasi sudah banyak, namun di Lampung masih jarang.

Pameran terus diadakan ketika Lila tergabung sebagai anggota komite seni rupa Dewan Kesenian Lampung (DKL) selama dua periode sejak tahun 2012.

Di pameran ini tantangan kembali dihadapi Lila, yakni menemukan perupa yang memiliki ide sama dengannya, dan menjembatani keinginan masyarakat dengan perupa.

Namun tantangan itu berhasil dilalui Lila. Kini karya Lila sudah banyak dipamerkan di Bandar Lampung, Metro, dan Jakarta.

Karya Lila yang bisa terus dilihat masyarakat selain di pameran adalah di Kampung Pelangi yang ada di sebrang Chandra Superstore Tanjungkarang. Disana Lila menjadi salah seorang perupa yang membuat lukisan mural.

Penulis: Jelita Dini Kinanti
Editor: Reny Fitriani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved