Tribun Bandar Lampung

Cerita Sulthon Hasanudin Banting Setir dari TNI ke Dunia Perkeretaapian

Jalan hidup manusia sukar ditebak. Lama jadi tentara, Sulthon Hasanudin banting setir ke dunia perkeretaapian.

Cerita Sulthon Hasanudin Banting Setir dari TNI ke Dunia Perkeretaapian
Tribun Lampung/Eka Ahmad Sholichin
Kepala PT KAI Subdivre IV Tanjungkarang Sulthon Hasanudin 

LAPORAN REPORTER TRIBUN LAMPUNG EKA AHMAD SHOLICHIN

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Jalan hidup manusia memang sukar ditebak. Lama mengabdi sebagai TNI, Sulthon Hasanudin banting setir ke dunia perkeretaapian.

Sulthon Hasanudin adalah kepala PT Kereta Api Indonesia Divisi Regional IV Tanjungkarang yang baru. Ia menggantikan kepala PT KAI Divre IV Tanjungkarang sebelumnya, Suryawan Putra Hia, terhitung 5 November 2018 melalui surat keputusan direksi.

Menjadi tentara pun sebenarnya tak terpikir oleh Sulthon ketika kecil hingga remaja. Apalagi, jika ditanya mau jadi apa, orang dulu umumnya menjawab dokter atau pilot.

"Waktu kecil saya nggak punya cita-cita masuk Akabri (Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, kini Akademi TNI). Saya ikut-ikutan aja, diajak teman. Karena masuk, sudah terlanjur, nggak mungkin balik lagi," kenangnya di sela-sela berbincang dan makan bareng awak media di Rumah Makan Ayam Penyet Surabaya, Kecamatan Enggal, Bandar Lampung, pertengahan November 2018 ini.

Sulthon memilih Angkatan Laut yang pendidikannya di Surabaya, Jawa Timur, dari empat matra sekolah militer saat itu. Pria kelahiran 1965 ini mengabdi total 27 tahun di TNI. Terakhir, jabatannya adalah direktur Logistik Pasukan Perdamaian Dunia Mabes TNI.

"Saya ngurusin Pasukan Garuda ke luar negeri. Ngurusin logistik. Saya kirim helikopter ke Sudan, kirim tank ke Kongo," kata Sulthon yang lulus Akabri tahun 1988.

Terjun ke dunia perkeretaapian berawal dari komunikasi Sulthon dengan seniornya yang terakhir berpangkat mayor jenderal. Sang senior bertugas sebagai Eksekutif Vice President Security di PT KAI.

"Itu kakak akrab saya. Saya tanya, 'sekarang di mana?' Dia jawab, 'di KAI.' Terus saya bilang, 'wah enak dong di KAI.' Dia bilang lagi, 'kamu mau?' Akhirnya saya ikut ke KAI dan keterusan," tuturnya.

Sulthon lalu diminta menjadi General Manager Security di Daerah Operasi (Daop) I Jakarta pada tahun 2013, saat masih bertugas di Mabes TNI. Setahun berjalan, ia menjabat kepala Daop IX Jember (Jawa Timur) yang membawahi sembilan kabupaten.

Pada tahun 2014 itu pula, pria bernama asli Muhammad Sulthon ini mengajukan pensiun dari TNI, dengan pangkat terakhir Kolonel.

"Kemudian, pindah-pindah. Dari Banyuwangi sampai Aceh sudah mengalami," ujar Sulthon. "Dari Jember, sempat ke kantor pusat. Lalu pindah ke Surabaya (Daop VIII), ke Yogyakarta (Daop VI), lalu kepala Divre I Medan dan Aceh," sambungnya.

Sebelum ke Lampung, Sulthon sempat ke Divre II Sumatera Barat dan Daop VII Madiun.

"Dalam bekerja, saya memegang prinsip bahwa pada dasarnya jabatan adalah amanah dan tanggung jawab. Jika masih dipercaya, berarti saya masih punya kehormatan. Kalau dalam hidup ini sudah tidak dipercaya orang, selesai sudah. Kalau masih dipercaya orang, maka jangan mengkhianati kepercayaan yang sudah diberikan," jelas Sulthon.

Penulis: Eka Ahmad Sholichin
Editor: yoso
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved