Tribun Bandar Lampung

Anak-anak Tiga Panti Asuhan Persembahkan Drama di Kidsinema 2018

Riuh tepuk tangan menggema di Ruang Teater Taman Budaya Lampung, Jalan Cut Nyak Dien, Minggu (25/11/2018) pagi.

Anak-anak Tiga Panti Asuhan Persembahkan Drama di Kidsinema 2018
Tribun Lampung
Anak-anak yatim piatu dari tiga panti asuhan mempersembahkan drama di Ruang Teater Taman Budaya Lampung, Jalan Cut Nyak Dien, Bandar Lampung, Minggu (25/11/2018) pagi. 

LAPORAN REPORTER TRIBUN LAMPUNG HANIF RISA MUSTAFA

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Riuh tepuk tangan menggema di Ruang Teater Taman Budaya Lampung, Jalan Cut Nyak Dien, Bandar Lampung, Minggu (25/11/2018) pagi. Penonton bersorak sorai mengiringi akhir pentas drama anak-anak yatim piatu dalam perhelatan Kidsinema 2018.

Anak-anak yatim piatu yang tampil dalam pentas drama ini berasal dari tiga panti asuhan di Bandar Lampung. Masing-masing Panti Asuhan Al-Banat, Telukbetung; Panti Asuhan Raudatul Aitam, Gedong Air, Tanjungkarang Barat; dan Panti Asuhan Mardhotillah, Way Halim. Mereka mempersembahkan drama tentang seorang tukang batu yang tak puas dengan kehidupannya dan ingin menjadi sosok lain.

Dalam drama, tukang batu kerap mengeluh dengan pekerjaannya yang setiap hari memecah batu di tengah terik matahari. Ia lalu berkhayal seandainya menjadi matahari.

Namun, setelah menjadi matahari, ia iri karena ada awan hitam yang melindungi pohon dan batu dari sinar teriknya. Muncullah keinginannya bertukar tempat. Awan hitam pun sepakat.

Setelah menjadi awan, ia sombong dengan berubah menjadi hujan lebat hingga membuat pohon bertumbangan. Akan tetapi, ia kaget lantaran hanya batu yang tidak bisa tumbang. Timbul lagi keinginannya bertukar tempat, kali ini dengan batu.

Dengan bujuk rayu, ia kemudian bertukar tempat dengan batu. Namun nahas, setelah menjadi batu, ada seorang tukang batu yang memecahnya. Ia kesakitan dan meminta tolong.

Di sela-sela pertunjukan itu, narator pun muncul. Narator memberi makna dari drama tersebut. Bahwa, seseorang harus menjadi diri sendiri dan percaya diri. Sebab, sebagai makhluk ciptaan Tuhan, manusia pasti memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing.

"Luar biasa, sungguh menyentuh. Mereka sangat menghayati perannya. Ini menandakan bahwa anak-anak panti asuhan juga memiliki bakat yang terpendam," tutur seorang penonton, Talita (19), warga Palapa, Tanjungkarang Pusat.

Tasya Khomariah (14), anak Panti Asuhan Raudatul Aitam, bersyukur bisa lancar tampil dalam drama tersebut.

Halaman
123
Penulis: hanif mustafa
Editor: yoso
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved