Tribun Tulangbawang

Kesal Solar Langka, Puluhan Ibu-ibu Petambak Dipasena Geruduk Polsek Rawajitu

Puluhan kaum ibu dari petambak Dipasena Kecamatan Rawajitu Timur Kabupaten Tulangbawang menggeruduk kantor Polsek setempat, Senin (10/12) pagi.

Penulis: Endra Zulkarnain | Editor: Reny Fitriani
Tribunlampung/Endra
Ibu-ibu Petambak Dipasena Geruduk Polsek Rawajitu 

Laporan Reporter Tribun Lampung Endra Zulkarnain

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, RAWAJITU - Puluhan kaum ibu dari petambak Dipasena Kecamatan Rawajitu Timur Kabupaten Tulangbawang menggeruduk kantor Polsek setempat, Senin (10/12) pagi.

Kedatangan kaum hawa ke Mapolsek tersebut sebagai luapan kekesalan para petambak di wilayah berikat itu atas kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar diwilayah mereka.

Belum cukup susah dengan tingginya harga pakan,  murahnya harga jual udang dan serangan penyakit WSSV,  kondisi sulit ini masih harus diperparah lagi dengan langkanya solar yang dibutuhkan untuk penerangan dan proses produksi budidaya udang petambak.

Seorang Pria Ditahan Polisi Usai Pergoki Istri Tanpa Busana dengan Selingkuhan

Kelangkaan solar yang terjadi diareal pertambakan udang bumi dipasena itu di sinyalir terjadi karena terhentinya suplai solar eceran yang masuk ke Kecamatan tersebut.

Warga menduga, terhentinya suplai solar itu disebabkan kendaraan yang menyuplai solar tertangkap razia Polsek Rawajitu Selatan dan Polres Tulangbawang.

Buntutnya, ibu-ibu petambak yang tergabung dalam Persaudaraan Perempuan Nelayan Indonesia (PPNI) beramai-ramai mendatangi kantor Polsek Rawajitu untuk mengklarifikasi.

Mereka juga meminta solusi terkait permasalah kelangkaan bahan bakar yang terjadi karena adanya razia yang dilakukan oleh pihak kepolisian setempat.

Ezra Dewi,  salah satu peserta aksi menyampaikan bahwa bahan bakar solar adalah kebutuhan yang amat vital bagi masyarakat di bumi dipasena.

Menurutnya, terhentinya pasokan solar karena di razia polisi berpengaruh sangat besar terhadap ketersediaan solar bagi masyarakat.

"PLN ngga ada, listrik kami harus pakai diesel, SPBU ngga ada, solar kami beli eceran dari pemasok, kalau sekarang di razia solusinya apa??," ujar Ezra.

Ezra pun menambahkan bahwa harga solar di areal pertambakan bumi dipasena saat ini telah mencapai Rp 6.500 - Rp 8 ribu per liter.

"Harga tersebut fluktuasi walau tidak ada informasi kenaikan harga BBM secara formal," katanya.

Diketahui, hampir sepekan ini Petambak Bumi Dipasena, Kecamatan Rawajitu Timur mengeluhkan langkanya Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar.

"Kami butuh solar untuk mengidupkan mesin dan Genset. Kencir harus berputar, air tambak perlu diganti, kalau Genset tidak hidup ya matilah udang-udang kami," terang Suryadi, salah satu petambak di Kampung Bumi Dipasena Mulya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved