Pinus Telurkan Film Dokumenter Tapak Lampung

Ketua PINUS Efin Nurtjahja G. Soehada mengatakan, wilayah Lampung dikenali sebagai potret multikulturalisme yang mewujud di Indonesia.

Pinus Telurkan Film Dokumenter Tapak Lampung
Ist
Pinus Telurkan Film Dokumenter Tapak Lampung 

Laporan Reporter Tribun Lampung Ana Puspita Sari

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDARLAMPUNG - Provinsi Lampung sebagai Provinsi terselatan Pulau Sumatra memiliki posisi penghubung ekonomi strategis antara Pulau Jawa sampai ke ujung utara Pulau Sumatra.

Dibalik nilai khas penghubung teritorial antar pulau tersebut, Lampung menyimpan kekayaan alam, budaya, dan sejarah yang belum banyak diungkap.

Kisah Lampung masa lalu atau Lampung Tumbai masih belum banyak dikaji. Minimnya referensi, kajian, maupun akses terhadap sumber-sumber sejarah menjadikan narasi akan identitas Lampung belum banyak bergaung.

Karena itu, Perkumpulan Peduli Nusantara (PINUS) pimpinan Efin Nurtjahja G. Soehada berikhtiar melakukan kajian narasi sejarah berikut budaya Lampung. Hasil kajian tidak dalam bentuk tulisan, melainkan dalam medium audio visual dalam format serial film dokumenter Tapak Lampung.

Bertepatan dengan diselenggarakannya Kongres Kebudayaan Indonesia 5 - 9 Desember 2018 yang bertajuk Berkepribadian dalam Kebudayaan, dengan penuh kebanggaan Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid berkenan menerima karya PINUS serial film dokumenter Tapak Lampung yang terdiri dari 10 judul film pendek sekaligus.

Ketua Perkumpulan Peduli Nusantara (PINUS ) Efin Nurtjahja G. Soehada mengatakan, wilayah Lampung dikenali sebagai potret multikulturalisme yang mewujud di Indonesia.

“Ia dihuni oleh banyak pendatang, sehingga masyarakatnya akrab dengan kepelbagaian suku dan agama. Dari sudut pandang historis, Lampung juga mencuri perhatian karena berbagai aspek, mulai dari jejak megalitikum, kisah federasi kerajaan Islam yang membentuknya, serta riwayat kolonialisme Eropa," ungkapnya dalam rilis, Minggu (9/12).

Tak hanya itu, hasil bumi dari negeri di ujung Pulau Sumatera nan subur ini pun membuatnya menjadi magnet tersendiri. Kesemua itu menjadikan Lampung sebagai wilayah dengan identitas kultural yang unik.

"Agaknya, identitas kultural ini belum sepenuhnya disadari sebagai modal sosial pembangunan,” imbuh dia.

Tahun 2017 Perkumpulan Peduli Nusantara (PINUS) telah mengawali produksi serial dokumenter ini dengan melakukan riset dan mengkaji sosio-historis Lampung. Riset dilakukan terhadap objek-objek wilayah Lampung yang memiliki potensi wisata dan ekonomi. Awal 2018, tim dokumenter PINUS pun mulai melakukan peliputan ke wilayah tersebut.

Objek peliputan mengerucut pada banyak hal, mulai dari kisah Sekala Bekhak, jejak megalitikum, sastra, kain tapis, hasil bumi kopi dan lada, ketokohan Radin Inten II, syiar Islam dan pertalian dengan Bugis, hingga refleksi multikulturalisme Lampung dan identitas Lampung Sai Bumi Ruwa Jurai.

Bertepatan dengan Kongres Kebudayaan Indonesia 2018 yang menggugah jati diri kebangsaan kita, sepuluh judul serial dokumenter Tapak Lampung yang masing-masing berdurasi 10-12 menit mengenai sejarah Lampung ini pun dapat disaksikan melalui mobil film keliling Direktorat Jenderal Kebudayaan.

Juga di channel Youtube sehingga segala kekhasan, kekayaan budaya Lampung dapat dipelajari, dinikmati, dikagumi baik oleh warga Lampung sendiri, masyarakat Indonesia pada umumnya, dan termasuk warga dunia.

"Upaya mendokumentasikan narasi sejarah Lampung semacam ini saya kira bisa membangkitkan kesadaran mengenai identitas Lampung ke masyarakat luas. Jika kesadaran sejarah ini sudah meluas, saya yakin akan ada manfaat konstruktif terhadap pembangunan ekonomi masyarakat Lampung,” pungkas Efin.(ana/*)

Penulis: Ana Puspita Sari
Editor: Reny Fitriani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved