Tribun Bandar Lampung

Tenaga Kerja Sukarela Naik Status Jadi Honorer: Datang Setengah Jam Sebelum Ganti "Shift"

Senyum pria berusia 24 tahun ini membuka obrolan bersama awak Tribun Lampung, Selasa (8/1/2019) siang.

Tenaga Kerja Sukarela Naik Status Jadi Honorer: Datang Setengah Jam Sebelum Ganti
Tribun Lampung
Perawat Deswiyan Pagis (24) menceritakan pengalamannya, di ruang tunggu Puskemas Gedong Air, Bandar Lampung, Selasa (8/1/2019). 

LAPORAN REPORTER TRIBUN LAMPUNG BAYU SAPUTRA

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Senyum terpancar dari wajah Deswiyan Pagis. Pria berusia 24 tahun ini meladeni wawancara jurnalis Tribun Lampung di ruang tunggu Puskesmas Gedong Air, Kecamatan Tanjungkarang Barat, Bandar Lampung, Selasa (8/1/2019) siang. Ia menceritakan sedikit kisahnya menjadi tenaga kerja sukarela hingga diangkat sebagai tenaga honorer.

"Ini lagi nunggu pasien. Lagi sepi. Tapi kalau ada pasien, saya sibuk lagi. Ini masih nyantai," tuturnya membuka obrolan.

Deswiyan resmi menjadi perawat setelah lulus dari Akademi Keperawatan Panca Bakti, Bandar Lampung. Ia mengabdikan diri di Puskesmas Gedong Air sebagai tenaga kerja sukarela (TKS) mulai tahun 2016.

Kurang lebih tiga tahun bertugas dengan status TKS, Deswiyan lalu diangkat sebagai tenaga honorer oleh Wali Kota Bandar Lampung Herman HN. Ia termasuk di antara tiga TKS yang diangkat menjadi honorer usai diberangkatkan sebagai relawan untuk membantu korban bencana tsunami di Lampung Selatan. Dua TKS lainnya adalah Endri Anto yang juga bertugas di Puskesmas Gedong Air dan Fitri Maryanti dari Puskesmas Sukabumi.

Deswiyan pun tak menyangka bisa "naik" status menjadi honorer. Selama bekerja dengan status TKS, ia hanya berusaha disiplin.

"Biasanya datang 30 menit sebelum pergantian shift. Setiap hari kan ada tiga kali shift," kata pria kelahiran 19 Desember 1994 ini.

Pengalaman bertugas sebagai perawat di lokasi bencana baru dialaminya ketika diberangkatkan Pemkot Bandar Lampung ke Lamsel belum lama ini. Ia dan dua TKS lainnya tergabung dalam satu tim beranggotakan 50 orang.

"Ikut merasakan pedihnya jadi korban. Hati juga teriris melihat korban kehilangan anggota keluarganya," ujar Deswiyan yang bertugas mendampingi dokter.

Pulang dari lokasi bencana lantas diangkat menjadi honorer, membuat Deswiyan kian termotivasi. Warga Gang Merpati, Jalan Panglima Polim, Tanjungkarang Barat, itu berjanji terus bekerja maksimal sebagai perawat.

Apresiasi

Kepala Puskesmas Gedong Air, Titin Agustin, turut gembira dua TKS di kantornya diangkat menjadi honorer. Ia menilai Deswiyan Pagis dan Endri Anto sosok yang bertanggungjawab dalam pekerjaan.

"Mereka ini mampu jika diamanatkan oleh pimpinan. Nggak neko-neko, makanya layak dapat SK (surat keputusan pengangkatan) honorer. Mereka yang diminta Pak Wali ini sudah melewati proses panjang. Kerja mereka juga nyata," jelasnya.

Pengangkatan tiga TKS perawat menjadi tenaga honorer merupakan bentuk apresiasi Pemkot Bandar Lampung atas tugas ketiganya di lokasi bencana tsunami, Lamsel.

"Kami menilai mereka sangat layak untuk dibuatkan SK honorer setelah membantu korban tsunami di Lampung Selatan selama 14 hari," ujar Wali Kota Herman HN. "Ini bentuk apresiasi pemkot dan juga bentuk terimakasih saya," imbuhnya.

Penulis: Bayu Saputra
Editor: yoso
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved