Tribun Bandar Lampung

Kasus Investasi Bodong Rp 3,5 Miliar, Eks Mahasiswi Belum Kembalikan Rp 96 Juta

Mantan mahasiswi universitas swasta di Bandar Lampung tersandung kasus dugaan investasi bodong.

Kasus Investasi Bodong Rp 3,5 Miliar, Eks Mahasiswi Belum Kembalikan Rp 96 Juta
Tribun Lampung/Hanif Risa Mustafa
Kapolsek Tanjungkarang Barat Kompol Hapran (kanan) menggelar ekspose kasus investasi bodong dengan menghadirkan tersangka, Rabu (9/1/2019). 

LAPORAN REPORTER TRIBUN LAMPUNG HANIF RISA MUSTAFA

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Mantan mahasiswi universitas swasta di Bandar Lampung diciduk aparat Polsek Tanjungkarang Barat. Ia tersandung kasus dugaan investasi bodong.

Kapolsek Tanjungkarang Barat Komisaris Hapran menjelaskan, perempuan itu bernama Melika Sari (25), warga Kelurahan Susunan Baru, Kecamatan Tanjungkarang Barat. Pihaknya telah menetapkan Melika sebagai tersangka.

"Tersangka melakukan tindak pidana penipuan dan penggelapan berkedok investasi multilevel marketing makanan ringan," ujar Hapran dalam ekspose kasus di kantornya, Rabu (9/1/2019).

Total ada 11 orang yang menjadi korban dalam kasus ini. Namun, Polsek Tanjungkarang Barat hanya melakukan penyidikan untuk satu korban.

Kompol Hapran mengungkapkan, proses sidik hanya dilakukan untuk satu korban lantaran 10 korban lainnya sudah menerima pengembalian modal yang diinvestasikan.

"Dari 11 korban, hanya satu korban yang masuk proses sidik. Tersangka sudah mengembalikan modal 10 korban lainnya dengan cara 'gali lubang tutup lubang'," paparnya.

Adapun nilai keseluruhan investasi bodong ini, beber Hapran, mencapai Rp 3,5 miliar.

"Tinggal korban terakhir yang mengalami kerugian Rp 96.350.000," imbuhnya.

Putar Uang

Kompol Hapran menerangkan, tersangka menjalankan investasi bodong dengan cara menggaet pemodal sebanyak-banyaknya. Tersangka, sambung dia, menjual produk makanan ringan seharga Rp 70 ribu per dus.

"Tersangka menawarkan ke beberapa investor. Tersangka menjual produk makanan ringan Rp 70 ribu per dus. Modalnya, Rp 47 ribu per dus. Keuntungannya dibagi dua," jelas Hapran. "Kemudian, dari 11 pemodal ini, modal diputar. Namun, untuk pemodal terakhir, uang tidak kembali. Setelah dicek, usaha yang dimaksud ternyata fiktif," lanjutnya.

Atas perbuatannya, tersangka dijerat dengan pasal 378 sub 372 Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Ancaman hukumannya berupa pidana penjara maksimal tujuh tahun.

Tersangka Melika sendiri mengakui perbuatannya hingga menyebabkan kerugian orang lain.

"(Usaha) nggak ada. Uang cuma saya putar dari pemodal-pemodal, antara satu dengan yang lain. Ya supaya uangnya kembali," tuturnya.

Penulis: hanif mustafa
Editor: yoso
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved