Tribun Bandar Lampung

Rektor Unila Persilakan Pusat Kroscek Pemilihan Dekan Fakultas Kedokteran

Rektor Universitas Lampung Hasriadi Mat Akin mempersilakan pusat mengkroscek proses Pildek Fakultas Kedokteran.

Rektor Unila Persilakan Pusat Kroscek Pemilihan Dekan Fakultas Kedokteran
Tribun Lampung/Bayu Saputra
Rektor Universitas Lampung Hasriadi Mat Akin memperlihatkan maket (model mini) Rumah Sakit Pendidikan Unila di lantai dua gedung rektorat, Rabu (9/1/2019). 

LAPORAN REPORTER TRIBUN LAMPUNG BAYU SAPUTRA

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Rektor Universitas Lampung Hasriadi Mat Akin mempersilakan pusat mengkroscek proses Pemilihan Dekan (Pildek) Fakultas Kedokteran. Ini terkait mencuatnya dugaan pelanggaran aturan dalam pildek tersebut.

"Oh, nggak masalah. Silakan saja turun. Nanti kami jelaskan seperti apa (proses pildek)," kata Hasriadi di sela-sela menunjukkan maket (model mini) pembangunan Rumah Sakit Pendidikan Unila di lantai dua Gedung Rektorat Unila, Rabu (9/1/2019).

Adapun pusat yang dimaksud, yaitu Kementerian Risek Teknologi dan Pendidikan Tinggi serta Konsil Kedokteran Indonesia.

Sementara aturan yang diduga dilanggar dalam Pildek Fakultas Kedokteran Unila, yakni Peraturan Menristek Dikti Nomor 18 Tahun 2018. Kemudian, Peraturan Konsil Nomor 10 Tahun 2012 tentang Standar Pendidikan Profesi Dokter Indonesia.

Hasriadi pun tidak mempersoalkan jika ada pihak yang memprotes hasil Pildek Fakultas Kedokteran Unila. Namun yang pasti, menurut dia, pildek telah selesai sesuai aturan.

Hasriadi menjelaskan, rektorat hanya mendengarkan aspirasi dari bawah terkait Pildek Fakultas Kedokteran. Aspirasi dari bawah, dalam hal ini suara Senat Fakultas Kedokteran yang berjumlah 17 orang.

"Pemilihan itu sesuai suara senat fakultas, bukan keinginan rektor. Rektorat hanya mendengarkan aspirasi dari bawah," ujar Hasriadi. "Kalau memang (dekan terpilih) tidak boleh, waktu pencalonan seharusnya digagalkan dong," imbuhnya.

Merujuk pemberitaan tribunnews.com, Selasa (1/1/2019), Pildek Fakultas Kedokteran Unila yang berlangsung pada 28 Desember 2018 terindikasi melanggar Permenristek Dikti Nomor 18 Tahun 2018. Pasal 23 ayat 3 Permenristek Dikti berperihal Standar Nasional Pendidikan Kedokteran itu menyebutkan, dekan yang memimpin Fakultas Kedokteran memiliki kompetensi di bidang kedokteran.

Aturan lain yang diduga dilanggar adalah Peraturan Konsil Nomor 10 Tahun 2012 tentang Standar Pendidikan Profesi Dokter Indonesia. Poin 8.1 di halaman 11 Perkonsil menyatakan, orang yang memimpin instutisi pendidikan kedokteran adalah dekan atau ketua program studi dengan latar belakang pendidikan dokter.

Sebagai catatan, terdapat tiga calon dekan Fakultas Kedokteran Unila. Ketiganya adalah Dr. dr. Asep Sukohar, Dr. dr. Muhartono, S.Ked, M.Kes, Sp PA, dan Dr Dyah Wulan SRW, SKM, MKes. Masih merujuk pemberitaan tribunnews.com, dalam pemilihan, Asep meraih dua suara, Muhartono satu suara, dan Dyah 13 suara, dari total 17 suara. Ada satu anggota senat fakultas yang abstain.

Merujuk Permenristek Dikti 18/2018 dan Perkonsil 10/2012 tersebut, pildek diduga melanggar aturan lantaran dekan terpilih Fakultas Kedokteran semestinya memiliki kompetensi di bidang kedokteran, tidak hanya di bidang kesehatan.

Dyah Wulan sendiri belum berhasil dimintai konfirmasi. Awak Tribun Lampung telah beberapa kali menghubungi melalui ponsel, tetapi tidak ada respons.

Sementara Asep Sukohar, saat dihubungi melalui ponsel, menyatakan patuh pada hasil pildek serta kebijakan rektor.

"Menurut saya, sudah jelas ada aturannya," kata Asep. "Kalau sudah seperti ini, saya patuh kepada rektor, termasuk hasil pildek," imbuhnya.

Penulis: Bayu Saputra
Editor: yoso
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved