Pemuda Ngotot Masuk Tempat Karaoke yang Sudah Tutup, Paksa Intimi Wanita PL

Pemuda Ngotot Masuk Tempat Karaoke yang Sudah Tutup, Paksa Intimi Wanita PL

Pemuda Ngotot Masuk Tempat Karaoke yang Sudah Tutup, Paksa Intimi Wanita PL
ilustrasi 

Pemuda Ngotot Masuk Tempat Karaoke yang Sudah Tutup, Paksa Intimi Wanita PL

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, PANARAGAN - Supriyanto alias Bangil (30), warga Tiyuh Pulung Kencana, Tulangbawang Tengah (TbT), Tubaba berhasil diringkus petugas Polsek TbT karena kasus pemerkosaan, Senin (28/1) pukul 04.00 dini hari.

Supriyanto disangkakan telah memerkosa WI (19), pemandu lagu (PL) Karaoke Bintang yang berada di Tiyuh Pulung Kencana.
Kapolsek TbT Kompol Zulfikar M, mewakili Kapolres Tulangbawang AKBP Syaiful Wahyudi, mengatakan, kejadian yang dialami WI terjadi pada Senin (28/1), sekitar pukul 02.00 WIB.
"Peristiwa terjadi di salah satu room Karaoke Bintang di Tiyuh Pulung Kencana," terang Zulfikar, Selasa (29/1).
Ketika itu, korban yang merupakan warga Jalan Raden Intan, Bandar Lampung tersebut sedang berada di room karaoke yang sudah tutup bersama rekannya berinisil SW (20) dan MS (18).
Korban mendengar suara seorang pria berteriak memanggil minta dibukakan pintu.
Pria tersebut beralasan mengambil barangnya yang tertinggal di room karaoke. Korban dan dua rekannya ketika itu tidak mau membukan pintu.
Tak lama berselang, terdengar suara orang yang melompat dari arah kamar mandi, yang ternyata merupakan pelaku yang berusaha masuk ke room karaoke.
Usai berhasil masuk pelaku mengancam korban dan dua rekannya menggunakan senjata tajam jenis badik.
Pelaku juga memaksa korban melakukan hubungan layaknya suami istri.
Bila menolak korban akan dibunuh dan dibuang ke tanggul irigasi.
"Korban ketakutan, di bawah ancaman sajam dengan mudah pelaku melakukan aksi kejahatannya," beber Zulfikar.
Usai pelaku kabur, korban bersama rekan-rekannya menghubungi Polsek TbT.
Polisi meluncur ke tempat kejadian perkara dan mencari pelaku.
"Sekitar pukul 04.00 WIB, pelaku berhasil ditangkap sedang bersembunyi di dekat Balai Desa Tiyuh Pulung Kencana, yang berjarak 500 meter dari TKP," terang Kompol Zulfikar.
Pelaku akan dijerat pasal 285 KUHP tentang Pemerkosaan.
"Diancam dengan pidana penjara paling lama 12 tahun," tandas Kapolsek.

Dalam perkara tersebut, petugas melakukan penyitaan barang bukti berupa sajam jenis badik, dengan panjang sekira 28 cm.

Barang bukti lain yang diamankan berupa selimut warna putih dan biru muda. 

Kemudian, kaus lengan panjang warna hitam putih motif batik, rok jins pendek warna biru muda, dan pakaian dalam milik korban.

Nenek 80 Tahun Korban Perkosaan

Lembaga Advokasi Perempuan (LAP) Damar Lampung mencatat 40 kasus kekerasan terhadap perempuan selama Januari-Oktober 2018 terjadi di Bumi Ruwa Jurai.

Dari faktor usia korban, Direktur Eksekutif LAP Damar, Sely Fitriani mengungkap fakta bahwa korban perkosaan berusia antara 6 tahun hingga 80 tahun.

"Karakteristik tindak perkosaan berdasarkan kategori usia, yakni usia termuda korban 6 tahun dan usia tertua korban 80 tahun," kata Sely dalam keterangan tertulis yang diterima Tribunlampung.co.id, Selasa (18/12/2018).

Dari data tersebut, Sely mengungkapkan, anggapan yang berkembang di masyarakat bahwa perkosaan terjadi karena perempuan menggoda dan memancing laki-laki melalui penampilan mereka, sebenarnya telah gugur.

“Bagi anak perempuan yang berusia 6 tahun, tentu sulit dibayangkan keseksian atau menggoda laki-laki," ungkap Sely.

"Angka tersebut menunjukkan bahwa perempuan, tanpa dibatasi usia, rentan menjadi korban kekerasan, terutama bagi anak perempuan,” ungkap Sely menambahkan.

Sedangkan untuk usia pelaku, Sely mengatakan, hal itu berkisar antara 18 tahun sampai 25 tahun.

Sebanyak 6 orang atau 15 persen, imbuh Sely, berbanding terbalik dengan usia korban.

“Hal ini menunjukkan bahwa ada dominasi dan kekuasaan orang dewasa (pelaku) terhadap anak-anak (korban),” tandas Sely.

Sebanyak 40 kasus kekerasan terhadap perempuan, lanjut Sely, diterima Damar melalui pengaduan langsung, sambungan telepon, dan penjangkauan langsung.

Kasus kekerasan berdasarkan wilayah terbesar berada di Kota Bandar Lampung dengan 24 kasus (60 persen).

Kemudian, urutan kedua adalah Kabupaten Lampung Utara sebanyak 7 kasus (17,5 persen).

Dari 40 kasus kekerasan tersebut, sebanyak 14 korban atau 36 persen merupakan usia anak.

Halaman
12
Penulis: Endra Zulkarnain
Editor: Heribertus Sulis
Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved