Bocah 12 Tahun Idap Kanker Darah, Keluarga Butuh Uluran Tangan

Malang menimpa Risky Kurniawan. Bocah 12 tahun ini mengidap kanker darah kategori ganas.

Bocah 12 Tahun Idap Kanker Darah, Keluarga Butuh Uluran Tangan
ISTIMEWA
Risky Kurniawan, bocah 12 tahun pengidap kanker darah. 

LAPORAN REPORTER TRIBUN LAMPUNG ROMI RINANDO

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Malang menimpa Risky Kurniawan. Bocah 12 tahun ini mengidap kanker darah kategori ganas. Keluarganya yang dari kalangan ekonomi bawah membutuhkan uluran tangan dermawan untuk biaya pengobatan Risky.

Hasil diagnosis yang menyatakan Risky menderita kanker darah keluar pada awal Januari 2019. Saat itu, anak ketiga pasangan Saimin dan Siti Sadiah ini telah hampir sebulan menjalani rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek, Bandar Lampung.

Desi Nurlaili, kakak Risky, menuturkan, adiknya pernah jatuh dari sepeda motor ketika berboncengan dengan kakaknya. Ketika itu, Risky menjalani perawatan dengan cara urut.

"Dari situ, berat badannya turun. Terus, orangtua bawa dia ke RSUDAM. Hampir sebulan nggak sembuh, terus dokter nyuruh cek ke laboratorium. Ternyata, kena kanker darah ganas," jelas Desi, Rabu (27/2/2019).

Agar bisa pulih, ungkap Desi, pihak RSUDAM menyarankan keluarga membawa Risky ke Rumah Sakit Gatot Subroto, Jakarta. Namun, keluarganya bingung lantaran tidak memiliki cukup uang.

"Saya, bapak, ibu, bingung. Katanya harus ke Jakarta, karena di sana yang ada obatnya. Tapi, kami nggak ada biaya. Orangtua saya itu buruh serabutan. Kadang jadi tukang parkir di pasar," ujar Desi.

Siti Sadiah, ibu Risky, mengungkapkan, biaya pengobatan di RSUDAM selama ini menggunakan Jaminan Kesehatan Nasional Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan. Itu di luar biaya operasional sehari-hari.

"Selama ini kami pakai BPJS Kesehatan. Yang berat itu, biaya sehari-hari. Keluarga yang nunggu juga butuh biaya. Apalagi kalau harus ke Jakarta, katanya harus ngontrak rumah," kata warga RT 2 RW 7 Desa Jati Baru, Kecamatan Tanjung Bintang, Lampung Selatan, ini.

Saidah menuturkan, Risky menunjukkan gejala tak biasa sekitar empat bulan lalu. Saat itu, jelas dia, Risky sering mengalami lemas.

Belum lagi, Risky tidak sama dengan anak-anak kebanyakan. Ia tidak bisa berbicara secara normal.

"Anak saya ini nggak sekolah, karena dia nggak bisa bicara lancar. Cuma bisa manggil orangtuanya. Katanya harus masuk sekolah yang beda (Sekolah Luar Biasa). Tapi, kami nggak ada biaya juga," katanya.

Sadiah dan keluarganya pun berharap bantuan pemerintah dan uluran tangan para dermawan untuk membantu biaya demi kesembuhan Risky.

"Saya cuma berdoa kepada Allah, semoga ada dermawan dan bantuan yang datang," tuturnya. (*)

Penulis: Romi Rinando
Editor: yoso
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved