Arist Merdeka Sirait Ingatkan Rumah dan Sekolah Belum Tentu Aman bagi Anak

Arist Merdeka Sirait menyebut rumah dan lingkungan sekolah berpotensi menjadi tempat predator anak.

Arist Merdeka Sirait Ingatkan Rumah dan Sekolah Belum Tentu Aman bagi Anak
Tribun Lampung/Bayu Saputra
PAPARKAN PANDANGAN - Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Arist Merdeka Sirait memaparkan pandangannya dalam seminar pendidikan dan diskusi interaktif di kantor Desa Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan, Senin (18/3/2019). 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Arist Merdeka Sirait menyebut rumah dan lingkungan sekolah berpotensi menjadi tempat predator anak. Ini merujuk berbagai kasus kekerasan seksual terhadap anak yang pelakunya justru orang terdekat.

Arist Merdeka Sirait menjelaskan, Lampung kini menjadi pusat perhatian nasional, bahkan internasional. Itu setelah mencuatnya beberapa kasus kekerasan seksual terhadap anak. Terakhir, kasus kekerasan seksual terhadap anak perempuan oleh ayah dan kakaknya di Kabupaten Pringsewu.

"Kasus di Pringsewu kemarin seharusnya membuka mata semua elemen masyarakat agar bergerak memutus mata rantai predator anak," katanya usai mengisi seminar pendidikan dan diskusi interaktif di kantor Desa Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan, Senin (18/3/2019).

"Para guru dan orangtua juga harus memberi perhatian agar anak-anaknya tidak menjadi korban kekerasan. Sebab, saat ini, sekolah dan rumah belum tentu aman bagi anak," imbuhnya.

Mengutip data Lembaga Perlindungan Anak Lampung, sepanjang 2018, terdapat 87 anak di Lampung yang mengalami kekerasan. Pelakunya mulai dari orang terdekat hingga orang sebaya. Jumlah tersebut meningkat dari data 2017 dengan 70 kasus kekerasan anak.

Ketua LPA Lampung Arianto Werta berharap seratusan guru Pendidikan Anak Usia Dini dan Taman Kanak-kanak yang mengikuti seminar pendidikan bisa terus arif dalam mengajar.

"Karena, pendidikan dasar itu bermula dari PAUD dan TK. Kami mengajak untuk setop kekerasan terhadap anak," ujarnya.

Beragam Bentuk

Psikolog Lampung, Retno Riani, mengungkap beragamnya bentuk kekerasan terhadap anak. Ia mencontohkan, anak yang tidak berdaya saing cenderung mendapat perlakuan kekerasan.

"Kekerasan terhadap anak bisa berada pada ranah privat, sehingga sulit terjangkau oleh orang lain. Apalagi jika anak itu cenderung lemah dan tidak berdaya, sehingga cenderung terabaikan," katanya, Selasa (19/3/2019).

Retno juga mencontohkan kekerasan emosional terhadap anak, seperti jarang memeluk anak, tidak memperlakukan anak secara baik, hingga berkata yang menyinggung harga diri anak.

"Ada juga bentuk kekerasan terhadap anak berupa penelantaran anak. Tidak memenuhi hak-hak anak. Misalnya, tidak memberi makan yang layak dan tidak menyekolahkan. Tapi, yang paling menonjol dan menimbulkan trauma biasanya adalah kekerasan seksual," terangnya. (Tribunlampung.co.id/Bayu Saputra)

Penulis: Bayu Saputra
Editor: yoso
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved