Kolom Jurnalis

Pemandangan di Puncak Lingkar Nagrek Bikin Menggoda

Sisi kiri kanan jalan Lingkar Nagrek adalah jurang yang sangat dalam. Namun demikian, jika dilihat dari puncak Lingkar Nagrek,

Pemandangan di Puncak Lingkar Nagrek Bikin Menggoda - IMG01475-20110904-1335.jpg
foto-foto tribunlampung.co.id/taryono
Pemandangan di Puncak Lingkar Nagrek Bikin Menggoda - IMG01476-20110904-1336.jpg
Pemandangan di Puncak Lingkar Nagrek Bikin Menggoda - IMG01479-20110904-1337.jpg
TEPAT pukul 14.00, Minggu (4/9/2011), saya berada tepat di puncak Lingkar Nagrek, Jawa Barat. Matahari tepat di atas kepala saya, tapi saya tidak merasakan terik, saya malah merasakan udara sejuk yang berhembus pelan-pelan mengoyang-goyongkan rumput dan dedaunan yang ada di samping kiri kanan saya.

Suasana ini  sangat nyaman dan bikin mata kita bisa mengantuk, sehingga terkadang kita lupa bahwa kita sedang berkendara di Lingkar Nagrek.

Sisi kiri kanan jalan Lingkar Nagrek adalah jurang yang sangat dalam. Namun demikian, jika dilihat dari puncak Lingkar Nagrek, pemandangan indah menghampar di depan mata kita.

Maka wajar kalau kemudian sebagian pengendara motor, berhenti sejenak untuk menikmati indahnya pemandangan tersebut.

Di puncak Lingkar Nagrek, saya sempat beristirahat beberapa menit, sembari menikmati  batagor dan bakso yang di jajakan di sana. Selain kedua makanan tersebut, di sana juga dijual beberapa minuman ringan.

Saat itu saya sempat melihat beberapa pengendara melepas lelah sambil duduk dan tidur-tiduran. Di puncak Lingkar Nagrek, saya juga sempat melihat bulan, meski tidak begitu besar bentuknya. Entalah, siang bolong kok ada bulan.

Dari pengamatan saya saat itu, jalur Lingkar Nagrek belum dipasangi rambu-rambu pengatur, padahal jalur ini memiliki panjang sekitar 4,5 kilometer.

Wajar kalau kemudian banyaknya pengendara baik roda dua maupun roda empat berhenti untuk  berfoto dengan latar belakang gunung atau tebing yang menjadi pagar jalan.

Di jalur Lingkar Nagreg yang dibangun sejak 2007 dengan total biaya sekitar Rp 900 miliar itu, juga menyuguhkan pemandangan yang memperlihat jembatan kereta api. Kebetulan di kawasan yang bisa melihat jembatan kereta api itu juga terdapat pinggiran jalan yang lebar sehingga banyak digunakan pengendara sebagai rest area.

Keinginan pengendara untuk menunjukkan diri telah melewati jalur Lingkar Nagreg itu rupanya tidak hanya dilakukan di titik-titik yang punya pinggiran jalan lebar.

Di dalam jalur semi terowongan yang panjangnya sekitar 400 meter dan tidak memiliki pinggiran jalan dengan atap lajur-lajur beton itu juga dimanfaatkan beberapa pengendara roda dua untuk mengabadikan diri dengan berfoto-foto. Padahal berhenti di dalam lajur semi terowongan ini sangat berbahaya. (*)

Penulis: taryono
Editor: taryono
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved