Kolom Jurnalis

Libia Bakal seperti Irak

KEMATIAN MUAMMAR Kaddafi bukan hanya kabar gembira bagi penentangnya.

Libia Bakal seperti Irak
ILUSTRASI
KEMATIAN MUAMMAR Kaddafi  bukan hanya kabar gembira bagi penentangnya. Tapi juga menjadi tontonan yang menarik. Buktinya, Sabtu (22/10/2011), jenazah mantan pemimpin Libia Muammar Kaddafi dipamerkan di sebuah toko daging di Kota Misrata.

Ratusan warga kota itu dibebaskan untuk melihat dan mengabadikan jenazah Kaddafi yang dibiarkan terbaring di atas sebuah kasur tipis. Sebagian warga mengabadikan bekas pemimpin mereka itu dengan telepon seluler.

Tidakan tersebut tentu saja mengundang reaksi keras dari keluarganya. Adalah Aisha, putri kandung Moammar Khadafi, Aisha sangat terpukul melihat hal ini. Apalagi, pemandangan yang mengenaskan itu telah menjadi tayangan yang menyebar ke seluruh dunia.

Aisha bahkan harus dilarikan ke rumah sakit setelah melihat tayangan televisi, yang memperlihatkan seorang remaja bernama Ahmad Shebani mengaku merebut pistol emas Khadafi kemudian menembak mati mantan sang ayah.

Aisha merupakan putri Khadafi yang selalu berdiri mendukung ayahnya. Ia menuding Dewan Transisi Nasional (NTC) telah mengkhianati ayahnya. Mereka adalah orang-orang yang selama ini loyal terhadap rezim ayahnya lalu tiba-tiba saja membangkang.

Muammar Kaddafi boleh saja tewas, tapi  masa depan Libia pascatewasnya sang diktator tersebut kini menjadi   teka-teki. Apakah akan terus terjadi perang saudara atau bagaimana?

Apalagi sebelumnya, Menteri Pertahanan NTC Jalal Al Digheily, menegaskan tewasnya pemimpin Libia Muamar Kaddafi bukan akhir dari perjuangan untuk membebaskan Libia dari tirani kekuasaan.

Dalam perang saudara itu, menurut pantauan Liga Arab, telah telah menewaskan lebih dari 26.000 orang. Libia dilanda pertempuran hebat dalam tujuh bulan terakhir antara pasukan NTC dan tentara yang loyal terhadap rezim.

Libia bisa jadi masa depannya seperti Irak. Irak, meskipun telah menggelar pemilu pertama pasca tumbangnya rezim Saddam Hussein, namun hingga kini Irak  gagal membentuk pemerintahan yang baru.

Malahan aksi kekerasan di Irak masih saja kerap terjadi. Kabarnya lebih dari 100 orang tewas dalam serangan di berbagai tempat di Irak bulan Juli, dan itu merupakan bulan terburuk Irak sejak tahun 2008.

Menurut ketentuan perjanjian keamanan 2008 antara Baghdad dan Washington, semua tentara AS harus ditarik keluar dari Irak pada akhir tahun ini.

Kalau kebijakan ini berjalan, kemungkinan perang internal (antar-kelompok di Irak) mungkin akan lebih hebat lagi, dan intervensi asing akan bertambah. Semoga saja tidak. (*)

Penulis: taryono
Editor: taryono
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved