Kolom Jurnalis

Mahfud MD Menanti 'Pinangan' dari Parpol Besar

KETUA Mahkamah Konstitusi Mahfud MD rupanya belum tergoda menyatakan diri untuk maju pada pemilihan presiden dan wakil

Mahfud MD Menanti 'Pinangan' dari Parpol Besar
TRIBUNNEWS.COM
Mahfud MD
KETUA Mahkamah Konstitusi Mahfud MD rupanya belum tergoda menyatakan diri untuk maju pada pemilihan presiden dan wakil presiden 2014 mendatang. Ini tentu agak aneh. Padahal, ia tokoh yang dikenal bicara ceplas-ceplos. Malahan, dia menyatakan menunggu tahun 2013 untuk menyatakan maju atau tidak.

Lihatlah. Sejumlah hasil suvei menunjukkan bahwa ia sangat potensial untuk jadi kandidat pada Pemilu 2014. Hasil survei Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS) bertema A Few Good Man, menyebutkan bahwa Mahfud MD adalah figur calon wakil presiden (cawapres) paling banyak dipilih responden, yakni 15,6 persen. Di bawahnya ditempati Sri Mulyani 8 persen, Pramono Edhi Wibowo 7,1 persen, Din Syamsuddin 6,8 persen, dan Said Aqil Siradj.

Mahfud MD mendapat penilaian tertinggi karena dinilai memiliki kejujuran dan kepandaian yang lebih baik dibandingkan dengan calon-calon wapres potensial lainnya.

Bagi saya sangatlah wajal kalau sejumlah hasil survei menunjukkan Mahfud MD lebih populer dibandingkan tokoh lain.  Ini bisa jadi karena selama ini Mahfud MD membuat gebrakan-gebrakan dalam kasus pemberantasaan kasus korupsi di Indonesia, sehingga membuat para koruptor ketar-ketir.

Misalnya saja,  pemutaran rekaman percakapan antara Anggodo Widjojo, adik Anggoro Widjojo yang menjadi tersangka kasus korupsi sistem komunikasi radio terpadu, dengan para petinggi kejaksaan dan kepolisian.

Saat itu, Mahfud MD melakukan hal baru yang sebelumnya belum pernah dilakukan. Membuka isi rekaman yang membuat heboh itu terbuka untuk masyarakat umum. Isi rekaman percakapan itu kian menyadarkan dan meyakinkan publik betapa bobroknya hukum di Tanah Air, karena berada dalam cengkeraman kekuasaan mafia peradilan, meski kerap dibantah para penegak hukum itu sendiri.

Kemudian, Mahfud MD membeberkan skandal suap bendahara Umum Partai Demokrat M Nazaruddin pernah memberikan uang senilai 120 ribu dolar Singapura atau sekitar Rp800 juta kepada Sekjen MK, Janedjri M Gaffar pada September 2010 silam.

Tentu untuk maju pada pilpres 2014 mendatang bukan perkara mudah bagi Mahfud MD, ia tidak cukup hanya menggandalkan kepopuleran. Tapi juga mesti ada 'kendaraan politik': partai politik. Dan inilah yang tidak dimiliki oleh Mahfud MD.

Pertanyaanya, mungkinkah partai-partai besar nanti mau 'meminang' Mahfud MD menjadi capres? Entahlah. Mungkin nasib Mahfud MD seperti (alm) Nurcholis Madjid--cendekiawan muslim. Meskipun, saat  tahun 2003, sejumlah jajak pendapat menyatakan  menyatakan ia populer untuk maju pilpres 2004. Tapi ia tidak punya 'kendaraan politik'.

Dan akhirnya,  ia mencoba  ikut Konvensi Pemilihan Calon Presiden Partai Golkar. Namun, kemudian ia mundur dari konvensi karena keikutsertaan Akbar Tanjung dan perbedaan nilai dalam menegakkan good governance. Selain Akbar Tanjung, empat orang lainnya: Surya Paloh, Aburizal Bakrie, Wiranto, dan Jusuf Kalla. Akbar Tanjung ternyata bukanlah calon paling populer yang diajukan oleh DPD Golkar.(*)

Penulis: taryono
Editor: taryono
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved