kolom jurnalis

'Panasnya' Jelang Duel Timnas Indonesia-Malaysia

AROMA 'PANAS' sangat terasa jelang duel Timnas Indonesia (U-23) lawan Timnas Malaysia (U-23) di Stadion Glora Bung Karno, nanti sore.

'Panasnya' Jelang Duel Timnas Indonesia-Malaysia
wartakota
pendukung timnas
AROMA 'PANAS' sangat terasa jelang duel Timnas Indonesia (U-23) lawan Timnas Malaysia (U-23) di Stadion Glora Bung Karno, nanti malam.

Paling tidak ini bisa dilihat dari judul-judul surat kabar yang terbit di Lampung: 'Siap Teror Malaysia dan 'Ayo Cabik Malaysia'. Itu baru lokal, belum lagi media yang terbit di Jakarta dan sejumlah kota lainnya.

Ya, duel keduanya memang sarat dengan pertaruhan harga diri bangsa. Tak heran kalau kemudian Malaysia pun tak kalah 'panas'. Tengoklah Surat Kabar My Metro, Malaysia, yang menurunkan  tulisan yang berjudul 'Lupakan Kutukan'.

Dalam laporannya, harian tersebut menulis Pelatih Timnas (U- 23) Malaysia Ong Kim Swee meminta pemainnya berjuang berhabis-habisan saat melawan Indonesia. Pasalnya, pertandingan itu menentukan timnya untuk masuk ke babak berikutnya.

Malaysia sendiri kini berada di posisi dua  mengumpulkan tujuh poin. Sedangkan Indonesia unggul dua poin dari Malaysia. 

Kim Swee berharap pemainnya mampu menahan ejekan dan hinaan pendukung tuan rumah.

"Kita tidak diterima dengan cara yang baik oleh penyokong tuan rumah yang sentiasa tidak pernah memihak kepada Malaysia dalam apa acara sekalipun.

"Jika kita mahu mengatasi pasukan tuan rumah dan menjaga maruah daripada tercalar, inilah masanya. Apa yang mustahak saya mahu mereka main ikut kekuatan dan strategi bersama," katanya seperti dikutip My Metro.

Tahun lalu, My Metro juga pernah menulis: "Lagak tim Nasional Indonesia seperti tim berstatus bintang dengan melarang seluruh pemainnya untuk mengabaikan permintaan wawancara sedangkan pelatih utama, Alfred Riedl hanya memberi waktu singkat kala diminta wawancara oleh para media."

Di luar itu,  suasana sejuk  justru terjadi  terjadi antara kedua pemerintahan. Indonesia Rabu kemarin memutuskan untuk membuka kembali  penempatan tenaga kerja Indonesia (TKI) sektor domestik (pembantu rumah tangga/PRT) ke Malaysia. 

Sebelumnya, memang sempat terjadi hubungan 'panas' di antara kedua. Pasalnya, sejumlah TKI di Malaysia mengalami kekerasan fisik dari majikannya. Karena itu kemudian  pemerintah menghentikan sementara penempatan TKI ke Malaysia pada  Juni 2009. 

Begitulah. Hubungan panas dingin antara kedua pemerintahan mau tidak mau juga merembet  di lapangan hijau karena sarat dengan pertaruhan harga diri bangsa. (*)
Penulis: taryono
Editor: taryono
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved