Kolom Jurnalis

Amerika Serikat Frustasi terhadap Cina

SETELAH pekan lalu Presiden Amerika Serikat Barack Obama menegur Presiden Cina Hu Jintao

Amerika Serikat Frustasi terhadap Cina
AP Photo/Charles Dharapak
Presiden Amerika Serikat Barack Obama bertemu Presiden China Hu Jintao dalam Konferensi Tingkat Tinggi APEC di Honolulu, Sabtu (12/11). Kedua pemimpin tersebut membahas situasi perdagangan kedua negara.
SETELAH pekan lalu Presiden Amerika Serikat Barack Obama menegur Presiden Cina Hu Jintao di Konferensi Tingkat Tinggi APEC di Honolulu terkait hubungan dagang  negaranya dengan Cina.

Kemarin Obama menyatakan bahwa AS tidak takut kepada Cina.  Pernyataan ini muncul karena Obama menilai bahwa kekuatan Cina  semakin merajalela di kawasan Asia-Pasifif.

Obama  benar-benar putus asa dalam menjinakkan kekuatan yang Cina. Pada Konferensi Tingkat Tinggi APEC di Honolulu, pekan lalu. Obama menyatakan bahwa warga AS sudah sangat frustrasi dalam hubungan dagang dengan Cina. Mereka merasa Cina tidak sportif dalam menetapkan nilai tukarnya.

Pernyataan ini merupakan pernyataan Obama yang terkeras soal soal perdagangan AS dengan Cina. Bahkan, Obama mengancam akan mengambil langkah untuk menghukum jika Cina tetap tidak taat aturan main.

Pada tahun 2009 lalu, Obama menuding Cina telah memanipulasi mata uangnya. Cina dinilai telah menerapkan kebijakan mata uang yang tidak adil, sehingga merugikan partner-partner dagangnya, termasuk AS.

Negara adidaya itu bahkan menyalahkan kebijakan Cina yang tidak fleksibel terhadap mata uangnya, sebagai penyebab defisit perdagangannya.

Pada 14 Oktober yang lalu, dalam forum The Economic Club of New York  Menlu AS Hillary Clinton  menyatakan bahwa pusat ekonomi kini bergeser ke Asia.

Pernyataan itu, seperti ditulis Jurnal Foreign Affairs adalah bagian dari upaya Amerika Serikat  untuk menegaskan kembali perannya sebagai kekuatan Pasifik, respon terhadap kekhawatiran di kalangan negara Asia-Pasifik tentang kebangkitan Cina.

Apa yang dialami Amerika Serikat tentu berbeda bila kita tengok pada tahun 1991 dan 2003 di era George HW Bush dan Bill Clinton. Saat itu justru yang mengalami frustasi adalah Cina karena saksi Amerika Serikat terkait tragedi pembantaian di Lapangan Tiananmen dan pertemuan Bush dengan Dalai Lama, pemimpin Tibet di pengasingan. (*)

 

Penulis: taryono
Editor: taryono
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved