Mbah Marijan "Ngeyel" dapat Penghargaan

BEKAS JURU kunci gunung Merapi, almarhum Mas Penewu Surakso Hargo atau lebih akrab dipanggil Mbah Marijan, menerima

Mbah Marijan
ist
Mbah Marijan
BEKAS JURU kunci gunung Merapi, almarhum Mas Penewu Surakso Hargo atau lebih akrab dipanggil Mbah Marijan, menerima penghargaan Anugerah Budaya 2011 Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (29/11/2011).

Adapun terpilihnya Mbah Maridjan kali ini karena dia konsekuen menjalankan tugas meski bahaya mengancam. Penghargaan diberikan kepada juru kunci Merapi itu untuk kategori pelaku pengembangan adat dan tradisi.

Mbah Marijan ditemukan tewas dalam posisi sedang bersujud di rumahnya,  Rabu (27/10/2010) pagi oleh tim evakuasi korban letusan Gunung Merapi

Sebelumnya, Mbah Marijan  menolak dievakuasi dari lereng Gunung Merapi. Penolakan Mbah Marijan ini, celakanya juga diikuti  penduduk lereng Merapi. Karena itu, tim evakuasi yang terdiri dari SAR dan kepolisian sempat ribut dengan penduduk lereng Merapi.

Warga menolak dievakuasi karena meyakini belum mendapat perintah mengungsi dari Kiai Petruk.  Menurut warga, Kiai Petruk merupakan penguasa gunung Merapi. Mitos tersebut hingga kini begitu diyakini penduduk lereng Merapi sehingga mereka memilih bertahan di desanya sebelum mendapat perintah.

Keyakinan penduduk lereng merapi inilah yang menyulut ketegangan dengan petugas evakuasi. Sultan Hamengkubuwono X mengatakan pihak keraton berkali-kali meminta Mbah Maridjan turun gunung saat Merapi berstatus awas. Kata Sultan, ini mungkin cara yang diinginkan Mbah Maridjan untuk meninggal dengan melaksanakan tugas sebagai juru kunci.

Sebelumnya, Sultan juga mengatakan, banyaknya korban letusan Gunung Merapi di Desa Cangkringan, Umbulharjo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta karena kesombongan Cangkringan.

Sebab tokoh panutan di desa itu kekeh tidak mau dievakuasi saat status Merapi dinaikkan menjadi Awas, Senin (25/10/2011) lalu.

Tokoh panutan di Desa Cangkringan ada dua orang: Mbah Marijan dan Ponimin. Kedua orang yang dianggap paling berpengaruh itu tidak mau dievakuasi ke tempat pengungsian yang telah disediakan. Sehingga banyak warga yang masih "ngeyel" tidak mau mengungsi. (*)

Penulis: taryono
Editor: taryono
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved