Kolom Jurnalis

Kemitraan Berlandas Kepercayaan dan Transparansi

BICARA pola kemitraan, sesungguhnya ini menjadi roh dari pasal 33 ayat 1 UUD 1945 yang menyatakan bahwa perekonomian

Ada banyak sebab, mengapa pola kemitraan tidak berjalan dengan baik. Namun yang paling mendasar yakni tidak dijalankannnya prinsip-prinsip kemitraan secara baik oleh pihak-pihak yang bermitra. Seperti, tidak adanya transparansi, kepercayaan, dan kesetaraan antara pihak yang bermitra. Kondisi itu berdampak pada tidak ditegakkannya kontrak oleh pihak-pihak yang bermitra. Kondisi ini kadang semakin diperparah, ketika hukum juga tidak ditegakkan ketika konflik kemitraan terjadi. Catat saja konflik kemitraan petambak udang di Dipasena yang hingga kini penyelesaiannya belum jelas. Padahal pemerintah pusat sudah membentuk tim untuk menyelidiki persoalan tersebut.

Untuk mendapatkan kemitraan yang ideal, prinsip kesetaraan, kepercayaan, transparan harus dipegang teguh. Selain itu, pihak-pihak yang bermitra, baik pengusaha besar (inti) dengan pengusaha kecil (plasma) harus sama-sama mengetahui sosial kultur dari kedua belak pihak. Pihak pengusaha kecil harus memahami siapa dan bagaimana kemitraan yang dibangun dengan pengusaha besar.

Pengusaha besar harus mengetahui kondisi sosial ekonomi serta harapan dari pengusaha kecil. Kondisi sosial, karakter masyarakat terkadang menjadi faktor determinan kesuksesan dari suatu kemitraan. Sebagaimana kita ketahui, Indonesia terdiri dari beragam suku dan budaya. Karakter masyarakat satu daerah berbeda dengan daerah lain. Karena itu, pendekatan penyelesain masalah antara satu sama lain terkadang berbeda.

Kemitraan yang ideal harus berlandasan kerjasama yang saling menguntungkan, saling percaya, saling terbuka, setara. Semua pihak yang bermitra harus menjadi "tuan" bagi usahanya, sama-sama menempatkan diri sebagai pengusaha yang berperan penting bagi keberlangsungan sebuah usaha.

Potensi  Besar

Jika kita kaitan dengan kondisi di Provinsi Lampung, pola kemitraan pada sektor perikanan sangat penting. Karena, provinsi ini sangat kaya dengan potensi perikanannya. Baik perikanan laut maupun budidaya. Bahkan sejumlah kecamatan menjadi sentral budidaya perikanan. Seperti Pesawaran, Lampung Selatan, Tulangbawang, dan lainnya. Di Tulangbawang menjadi salah satu sentral produksi udang yang dikelola oleh CP Prima melalui pertambakan udang Aruna Wijaya Sakti (AWS).

Dirjen Pengolahan, Pemasaran Hasil Perikanan Kementerian Kelautan Perikanan (KKP) Martani Husain pernah mengatakan, Lampung memiliki peran yang sangat strategis bagi produksi ikan budidaya terutama udang, karena berdasarkan data Kementerian Perdagangan, komoditas udang masuk dalam lima produksi unggulan ekspor nonmigas Indonesia.

Beragam program budidaya berkembang di provinsi ini, Mulai dari ikan, kuda laut, teripang, bakau, rumput laut, udang windu dan banyak lagi. Budidaya sektor perikanan menjadi pilihan, karena provinsi ini mempunyai garis pantai terpanjang di Indonesia. Yaitu lebih 1.000 kilometer, dengan hampir 130 pulau kecil di sekitarnya. Luas perairan Lampung sendiri mencapai 24.820 kilometer atau 41,2 persen dari wilayah Provinsi Lampung.

Lampung hingga kini masih mencatatkan dirinya sebagai wilayah yang memiliki produksi udang terbesar di Indonesia. Dari total produksi udang nasional tahun 2009 sebesar 348.100 ton, sebanyak 40 persen dihasilkan Lampung. Bahkan berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung, per 1 Agustus 2011, sektor perikanan cukup menyokong nilai ekspor Lampung. Ikan dan udang mendongkrak nilai ekspor senilai 7,32 juta dolar AS (per Juni 2011). Ekspor hasil perikanan ini, sebagian besar berasal dari hasil budidaya, khususnya udang.

Tidak hanya di Lampung, realisasi produksi perikanan budidaya di Indonesia sendiri pada tahun 2009 sebesar 4,7 juta ton, naik pada tahun 2010 menjadi 6,2 juta ton. Sementara 2011 ini ditargetkan mencapai 6,8 juta ton. Kementerian KKP menargetkan Indonesia akan menjadi negara penghasil produk perikanan terbesar pada tahun 2015. Pemerintah pun memfokuskan pada program budidaya perikanan.

Produksi perikanan budidaya itu akan dikerek sebesar 221 persen dari 5,26 juta ton menjadi 16,89 juta ton. Dan Lampung dengan seluruh potensi yang dimilikinya, sangat berperan untuk menyumbang perolehan target itu. Apalagi, masih ada sekitar 50 ribu hektare arel tambak yang belum tergarap dan budidaya laut dari potensi 50.518,25 hektare baru tergarap sekitar 300 hektare.

Halaman
123
Editor: taryono
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved