RSU Pringsewu Tak Miliki Fasilitas Layanan USG

Rumah Sakit Umum Pringsewu (RSUP) tidak memiliki fasilitas layanan ultrasonografi (USG).

Editor: taryono
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID- Rumah Sakit Umum Pringsewu (RSUP) tidak memiliki fasilitas layanan ultrasonografi (USG).  Pasalnya, dua unit alat USG yang dimiliki rumah sakit pusat rujukan di Pringsewu itu rusak sejak beberapa tahun lalu.

Direktrur RSUP Djohan Luis mengatakan, pasien yang membutuhkan pelayanan USG, khususnya dengan pelayanan jaminan kesehatan pemerintah akan dirujuk ke Rumah Sakit Umum Abdul Moeloek (RSUAM).

Ia mengaku bahwa pihaknya telah mengajukan permohonan bantuan alat USG ke pemerintah pusat.
“Mudah-mudahan tahun ini kita dapat dua (alat USG),” tukasnya saat dihubungi, Kamis (20/6/2012).  Sementara DPRD Pringsewu berencana memanggil pihak manajemen Rumah Sakit Umum Pringsewu (RSUP) terkait pelayanan USG.

"Kami akan  klarifikasi pihak rumah sakit mengenai hal tersebut," ujar Sekretaris Komisi A DPRD Pringsewu Heri Prolentari Dwi. Anggota Komisi A lainnya, Zunianto mengatakan rencana pemanggilan itu baru akan dijadwalkan komisi. “Harapannya fasilitas pelayanan rumah sakit umum bisa lebih baik lagi,” tukasnya.

Diberitakan sebelumnya, pasien Jamkesmas Evi Yunita (15), warga Sukoharjo II, Kecamatan Sukoharjo,  menghabiskan dana hingga Rp 650 ribu ke RSUP. Di antara biaya tersebut untuk membayar pelayanan USG putri  Ali Hasan dan Kusmiati tersebut.

Ali mengatakan, untuk mendapat pelayanan USG rumah sakit mengarahkan putrinya diperiksa ke pihak swasta, di salah satu apotek dekat  RSUP. Ali mengungkapkan biaya sekali USG di pelayanan kesehatan swasta mencapai Rp 100 ribu.

Sementara, Evi menjalani dua kali USG. USG pertama saat Evi masih dirawat di Ruang Kebidanan RSUP lantaran anemia berat, seharga Rp 100 ribu. Ditambah biaya obat Rp 49 ribu. Tak hanya itu, dia mesti dibebani biaya pemeriksaan darah sebanyak Rp 100 ribu di laboratorium rumah sakit.

Sedangkan USG kedua, saat pemeriksaan  rawat jalan pasca Evi dirawat, Rabu (13/6/2012). Biaya USG kali ini mencapai Rp 150 ribu ditambah biaya obat Rp 250 ribu. Sehingga totalnya mencapai Rp 650 ribu.

Itu belum ditambah dengan biaya lainnya, karena Evi saat itu tranfusi darah hingga tujuh kantung.
Ditambah sulitnya mencari darah untuk keperluan tranfusi tersebut. "Percuma saja jika pasien Jamkesmas masih harus mengeluarkan biaya sebesar itu," kata Ali kepada Tribun Lampung saat itu.

Padahal, keluh Ali, sesuai tujuannya Jamkesmas berfungsi meringankan biaya berobat bagi warga miskin. (robertus didik)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved