Citizen Reporter

Belajar dari Malaysia

Menghadiri International Conference di Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) Banyak memberikan pelajaran

Editor: soni
Belajar dari Malaysia
ISTIMEWA
Oki Hajiansyah Wahab

Oki Hajiansyah Wahab (Mahasiswa S3)
Melaporkan dari MAlaysia

Menghadiri International Conference di Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) Banyak memberikan pelajaran berharga bagi saya. International Conference on Social and Humanities yang keempat ini menghadirkan 250 presenter dari berbagai negara memberikan pengalaman berharga tentang bagaiman fasilitas belajar kultur belajar dan adalah dua faktor yang saling mendukung.

Ketika para mahasiswa Indonesia kesulitan untuk bisa menulis di Jurnal Internasional-sebagai konsekuensi aturan DIKTI-, kampus-kampus di Malaysia sejak jauh-jauh hari mempersiapkan sehingga mahasiswanya tidak mengalami kesulitan. Ini yang saya sebut sebagai visi menuju world class university, sebuah visi yang tidak hanya slogan tapi juga disertai berbagai tindakan nyata. Kampus menyediakaan berbagai kebutuhan belajar, akses pembiayaan dan penghargaan bagi para dosen dan mahasiswa yang berkarya maupun berprestasi.

Biaya kuliah dalam konteks SPP sebenarnya hampir sama antara Malaysia dan UKM, yang berbeda adalah dengan biaya yang sama mahasiswa mendaptkan fasilitas belajar yang lebih baik dari kampus-kampus di Indonesia. Perpustakaan yang lengkap, koleksi ribuan jurnal internasional yang selalu terupdate, layanan kesehatan gratis bagi mahasiswa dan berbagai peluang beasiswa tersedia bagi mereka para penstudi.

Penghargaan atas dosen dan para penstudi menjadi faktor tumbuhnya iklim belajar yang kondusif, wajar jika di usia antara 30-35 terdapat banyak sekali lulusan doktor di Malaysia. Ian, seorang student asal Indonesia yang telah tujuh tahun tinggal di Malaysia menuturkan, ada banyak cara bagaimana mahasiswa asal Indonesia bisa survive, salah satunnya menjadi Research Asistant (RA) yang mendapatkan reward 1.500-1800 RM (setara Rp. 4.500.000-5.400.000).

Sementara biaa hidup mahasiswa lajang berkisar antara 1000-1500 RM setiap bulannya. Dengan kata lain tanpa harus menunggu kiriman orang tua para mahasiswa bisa tetap bertahan studinnya.

Saya perlu memberikan penghormatan pada mahasiswa asal Indonesia yang gigih dan berjuang keras untuk dapat bertahan studi di Malaysia. Semangat perantau ada dalam diri para mahaasiswa asal Indonesia, mereka tidak segan-segan menjadi cleaning service, pelayan restoran dengan upah RM 5  (sekitar Rp. 15.000) agar bisa terus melakukan studi sambil berharap bisa meraih beasiswa yang tersedia di UKM atau menjadi RA.

Para Profesor di UKM sibuk dengan berbagai agenda riset sehingga mereka perlu mengangkat RA , disinilah kesempatan para mahasiswa asal Indonesia. Asal kita gigih , tekun maka kita bisa mengambil berbagai jamala (beasiswa) yang tersedia di Kampus. Ada uang pengembalian buku yang diberikan kampus, berobat gratis, pengajuan alat untuk riset yang difasilitasi kampus sehingga memudahkan mahasiswa untuk melakukan berbagai riset.
Sabiran  (30) mahasiswa asal Aceh, mahasiswa program Master Teknik  menuturkan dirinya kini menyambi sebagai RA dalam salah satu riset. Setiap pagi ia  pergi Pukul 07.00 dan kembali menjelang magrib. Bediam di laboratorium sangat menyenangkan, dibanding kita tinggal di kos, lab yang diisi dengan fasilitas dan sarana terbaru membuatnya semakin bergairah untuk belajar.

Saya bertemu dengan ridwan mahasiswa asal Aceh yang juga tengah menempuh studi Master Sains dan Politik mendiskusikan sebuah paper untuk masuk dalam jurnal internasional., ada reward dari Fakultas sebesar 3000 RM (Setara Rp.9.000.000) jika paper kita masuk dan dipresentasikan dalam jurnal atau konferensi Internasional. Di Indonesia macem itu juga bang?tanya Ridwan, yang hanya saya jawab dengan senyuman.
Penuturan Doni, Sabiran, Ridwan membuat saya merasa "iri" betapa mahasiswa mendapatkan berbagai kemudahan fasilitas, kesempatan beasiswa, akses yang mendorong mereka untuk terus melakukan  riset-riset kreatif dalam pengembangan studinnya. Wajar jika ribuan mahasiswa Indonesia pergi belajar ke Malaysia.

Mahasiswa asal, Riau , Aceh, Sulawesi Selatan memang mendominasi populasi mahasiswa di UKM,. Hal yang mengagetkan adalah ketika mereka menceritakan program Pemerintah daerah-nya punya program mencetak ratusan doktor setiap tahunnya, dan tidak hanya terbatas bagi para dosen, umum-pun bisa, ujar Ridwan. Mudahan-mudahan Lampung kedepan memiliki program serupa yang dapat diakses oleh warga-nya.(wakos)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved