Yang Muda Harus Berencana
Soekarno pernah berkata: Beri aku satu pemuda, maka akan kuguncang dunia. Filosofi ini memiliki arti betapa pemuda
Angka kematian ibu usia di bawah 16 tahun juga tinggi. Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi pernah mengatakan, angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di Indonesia masih tinggi. Penyebabnya, persalinan banyak dilakukan di rumah dan usia ibu melahirkan yang terlalu muda. Kematian ibu banyak terjadi karena pendarahan. Dan pendarahan ini banyak terjadi pada ibu usia muda, 15-16 tahun.
Sesungguhnya anatomi tubuh anak belum siap untuk proses mengandung maupun melahirkan. Sehingga hamil di usia muda dapat menimbulkan komplikasi. Data dari UNPFA tahun 2003 memperlihatkan, 15-30 persen di antara persalinan di usia dini disertai dengan komplikasi kronik berupa kerusakan pada organ kewanitaan yang menyebabkan kebocoran urin atau feses ke dalam vagina.
Wanita berusia kurang dari 20 tahun sangat rentan mengalami hal tersebut. Kerusakan organ kewanitaan juga dapat terjadi akibat hubungan seksual di usia dini. Pernikahan usia muda juga merupakan faktor risiko untuk terjadinya karsinoma serviks.
Pernikahan dini erat kaitannya dengan fertilitas, kehamilan dengan jarak yang singkat, juga terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan. Hubungan sesksual di usia muda juga berdampak pada meningkatnya risiko penyakit menular dan bahayanya lagi bisa menularkan infeksi HIV.
Berdasarkan data, infeksi HIV terbesar didapatkan dari penularan langsung patner seks yang telah terinfeksi lebih dahulu. Survei SDKI menyebutkan, setiap hari 2.000 pasangan muda terinfeksi HIV dan setiap tahun 16 juta remaja putri menjadi ibu.
Data jumlah kasus AIDS sampai dengan Juni 2012 sebesar 26.483 kasus. Hampir separuh dari jumlah kasus itu, 45,9 persen diantaranya terjadi di kelompok usia 20-29 tahun. Mengingat inkubasi AIDS antara 3-10 tahun setelah terinfeksi HIV, maka disimpulkan sebagian besar orang muda yang terkena AIDS telah terinfeksi pada usia yang lebih muda lagi.
Pernikahan dini juga membuat remaja terpaksa berhenti sekolah. Sementara dalam usia yang dini, remaja belum memiliki bekal pengetahuan yang cukup mengenai kesehatan reproduksi. Ditambah keterbatasan gerak sebagai istri dan kurangnya dukungan untuk mendapat pelayanan kesehatan dan keterbatasan ekonomi, memberi kontribusi terhadap angka kelahiran bayi dari remaja sekaligus kematian sang ibu.
Menurut SKRRI tahun 2007, sebanyak 13 persen remaja perempuan tidak tahu tentang perubahan fisiknya dan hampir separuhnya 47,9 persen tidak mengetahui kapan masa subur seorang perempuan. Lebih jauh, pernikahan dini juga memicu perceraian dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Lantas apa yang membuat kasus pernikahan dini di Indonesia meningkat?
Persoalan Ekonomi hingga Terjebak Pergaulan Bebas
Tentu ada banyak faktor yang menyebabkan kasus pernikahan dini meningkat cukup signifikan di Indonesia. Jika kita tilik lebih jauh, faktor penyebab di perkotaan sedikit berbeda dengan pedesaan
.
Di pedesaan, kasus pernikahan dini banyak terjadi karena faktor ekonomi. Kemiskinan dan ketidakberdayaan orangtua, membuat mereka menikahkan anak dalam usia dini. Kondisi ini diperparah dengan minimnya pengetahuan orangtua tentang pentingnya menikahkan anak pada usia yang siap. Minimnya pengetahuan orangtua ini juga dipengaruhi oleh tingkat pendidikan orangtua di pedesaan yang juga rendah.
Selain itu, faktor sosial dan budaya masyarakat pedesaan. Di desa masih ada anggapan, seorang anak harus menikah ketika sudah tamat SMP atau ketika sudah memasuki masa haid. Padahal, organ reproduksi remaja belum siap dan belum memiliki pengetahuan yang cukup tentang kesehatan reproduksi dan bekal berumah tangga. Ditambah lagi, akses informasi di pedesaan juga tidak semudah di kota. Dan minimnya lapangan pekerjaan di desa, membuat anak perempuan maupun orangtua tidak memiliki pilihan selain menikah di usia muda.
Survei Data Kependudukan Indonesia 2007 menyebutkan, kasus pernikahan dini banyak terjadi di pedesaan dan hanya 5,2 persen di perkotaan. Data SDKI 2012, remaja putri yang melahirkan di desa sebanyak 69 per 1.000 remaja putri dan di perkotaan 32 per 1.000 remaja putri. Minimnya tenaga kesehatan pendamping persalinan dan tidak aktifnya posyandu di desa maupun di kota turut ambil bagian meledaknya kasus pernikahan dini.
Sementara itu di perkotaan dengan tingkat pendidikan yang lebih baik, akses informasi yang lebih tinggi, kasus pernikahan dini lebih disebabkan faktor yang cukup kompleks. Mulai dari pergaulan bebas, melakukan seks bebas dan akhirnya terpaksa menikah. Sayangnya, kondisi ini pun terjadi karena banyak faktor. Seperti, kurangnya perhatian orangtua terhadap anak, sehingga anak merasa tidak mendapatkan kasih sayang dan mencari "kehangatan" di luar.
Kebutuhan hidup yang tinggi di perkotaan kerap membuat orangtua terlalu sibuk beraktivitas di luar, sehingga kurang perhatian terhadap anak. Akibatnya sang anak yang masih remaja kerap melampiaskan perasaannya pada hal-hal negatif. Seks bebas yang berujung pada kehamilan, terlibat narkoba, dan banyak lagi.
Psikolog Retroriani PSi mengatakan, usia remaja merupakan usia yang masih labil, cenderung ingin mencoba hal-hal yang baru. Di usia itu, remaja mencari jati dirinya. Sehingga sangat memerlukan bimbingan dan arahan orangtua.