Gempa Aceh dan Kekuatan Selular

“Aceh diguncang gempar 6,2 skala richter sekitar pukul 14.37 WIB hari ini (2 Juli).

Penulis: Gustina Asmara | Editor: taryono
Gempa Aceh dan Kekuatan Selular - images3.jpg
ilustrasi
Gempa Aceh 6,2 SR

“Aceh diguncang gempar 6,2 skala richter sekitar pukul 14.37 WIB hari ini (2 Juli). Gempa berkedalaman 10 kilometer. Lokasi gempa berada di 35 kilometer barat daya Kabupaten Bener Meriah, tepatnya di sekitar 4.70 lintang utara dan 96.61 bujur timur. Sejumlah warga Banda Aceh dan sekitarnya berhamburan ke luar rumah. Sejumlah rumah yang berada di kawasan Kabupaten Bener Meriah, dikabarkan mengalami kerusakan. Belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa akibat kejadian ini."

Kabar ini pun menyebar cepat melalui pesan BlackBerry, facebook, twitter dan media online se-Tanah Air. Termasuk ke BlackBerry Massager milik keluarga Mukhtar, di Way Kandis, Bandar Lampung, Provinsi Lampung.

Perantauan asal Aceh sejak tahun 2000 ini pun langsung bergegas menghidupkan televisi. Dengan cepat memencet sejumlah nomor di remote control, mencari chanel-chanel yang memberitakan gempa di Aceh.

Benar saja, di salah satu saluran televisi, diberitakan jika Aceh kembali diguncang gempa. Kali ini, pusat gempa di Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah. Jantung Mukhtar pun berdegup kencang. Meski diinformasikan tidak berpotensi tsunami, namun pusat gempa itu berada dekat dengan rumah kedua saudara kandungnya.

Kakak dan adiknya tinggal di Takengon yang merupakan ibu kota Aceh Tengah. Kedua saudara kandungnya ini, tinggal bersebelahan pada sebuah ruko dua lantai. Dengan wajah khawatir,ia pun mengambil ponselnya. Memencet nomor telepon sang kakak.

Sekian detik, sambungan telepon selular langsung terjawab. Sang kakak, mengabarkan, getaran gempa begitu terasa di dalam rumah. Bahkan, toples-toples besar berisi manisan, dagangan mereka di toko tersebut berjatuhan di lantai. “Kami langsung lari berhamburan ke luar rumah saat itu. Alhamdulillah tidak ada yang terluka,” tutur Mukhtar menirukan kalimat sang kakak.

Menurut kakaknya, semua orang yang ada di daerah tersebut berlari ke luar rumah maupun kantor. Ada yang berlari ke tanah lapang, ada yang menunggu jauh di luar rumah atau kantor mereka. Bahkan ada yang langsung memutuskan untuk mengungsi ke rumah yang lebih aman.

“Kakak dan adik beserta keluarga pun tak berani tinggal di dalam rumah. Mereka satu hari tidur di dalam mobil di luar rumah mereka. Apalagi, anak kakak sangat trauma dengan gempa. Ada guncangan sedikit saja, dia sudah ketakutan,” ceritanya. Meski begitu, kakak dan adik mengatakan, rumah mereka tidak mengalami keretakan atau kerusakan lainnya. Hanya barang-barang di dalam rumah saja yang berjatuhan ke lantai.

Lega mendengar kabar kedua saudara kandungnya selamat dan tidak kurang satu apapun, Mukhtar pun mencari informasi mengenai keluarga yang lain. Dia pun sibuk memencet sejumlah nomor selular para sahabat dan keluarganya. Kabar pun dengan cepat di dapat. Kali ini, kata Mukhtar, saluran telepon selular tidak ada yang terganggu.

“Alhamdulillah, kedua orang tua kami aman, jauh dari lokasi gempa. Karena tinggal di Sigli. Namun, salah satu keponakan kami ternyata rumahnya mengalami retak. Dan banyak teman kami yang tinggal di Desa Blang Mancung, Kecamatan Ketol-Aceh Tengah, lokasi yang dekat dengan gempa, rumah mereka banyak yang hancur atau rusak parah,” ceritanya didampingi sang istri yang juga kelahiran Aceh, Badriah.

Menurut kabar dari temannya yang tinggal di Blang Mancung, gempa kali ini rupanya sedikit berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Meski hanya berkekuatan 6,2 skala richter, namun rumah-rumah yang berada di daerah pusat gempa banyak yang hancur. “Sebelumnya, tidak merata hancurnya. Namun kali ini banyak sekali yang hancur,” ceritanya.

Sambungan Selular Sempat Putus Saat Bencana

Dituturkan Mukhtar, setiap ada kabar mengenai gempa yang melanda Aceh, jantungnya langsung berdegup kencang. Bencana tsunami tahun 2004 lalu telah meninggalkan trauma mendalam bagi keluarganya dan rasanya juga seluruh warga yang tinggal di Aceh.

"Kami kehilangan tujuh anggota keluarga kami. Dan rasanya semua yang tinggal di Aceh, mengalami kehilangan saudara, sanak keluarganya. Itu meninggalkan trauma bagi setiap keluarga di Aceh," ceritanya.

Dituturkan dia, meski saat kejadian di tsunami 2004, dirinya dan sang istri Badriah telah merantau ke Lampung, namun kesedihan yang mendalam juga dirasakan dirinya dan istri. Bukan saja karena memang mereka dilahirkan di tanah Aceh dan besar di sana, tapi juga seluruh keluarga besar mereka berada di provinsi itu.

Saat peristiwa tsunami, mereka sempat kehilangan komunikasi dengan seluruh keluarga di Aceh. Jaringan komunikasi selular saat itu terputus. Saat itu pula, mereka langsung pulang ke Aceh untuk melihat keluarganya.

"Kami saat itu, begitu khawatir. Kami melihat di televisi, tsunami begitu dasyat menghantam Aceh. Dan di salah satu tv, terlihat rumah adik saya hancur ditejang tsunami. Kami pun langsung bergegas berangkat hari itu juga ke Aceh," katanya.

Karena tiket pesawat sudah tidak ada yang bersisa, ia bersama keluarga akhirnya terpaksa melalui jalur darat. Ia menuturkan, masih begitu melekat diingatannya, mayat-mayat bergelimpangan di jalan-jalan, di sungai-sungai, saat dirinya bersama sang istri memasuki Aceh.

"Air mata tak mampu ditahan lagi, melihat kesedihan yang mendalam itu. Kami mencari-cari keluarga kami. Saluran komunikasi via selular terputus. Akhirnya kami menemukan orangtua kami, saudara-saudara. Kami bahkan sempat ikut membersihkan mayat-mayat tersebut dan menguburkannya," ujarnya.

Karena itu, setiap ada kabar ada gempa di Aceh, jantung ini kata Mukhtar langsung berdegup kencang. Semua saluran informasi, mulau dari tv, internet hingga telepon selular digunakan untuk mendapatkan informasi selengkap-lengkapnya.

Menurutnya, hampir seluruh keluarganya masih di Aceh. Kedua orangtuanya dan orangtua sang istri tinggal di daerah Sigli. Begitu juga saudara-saudara kandungnya. Dirinya maupun keluarga di Aceh kerap telepon-telepon. Seperti saat ini, sejak kejadian gempa itu sampai hari ini (14/7), dirinya suka telepon-teleponan, maupun SMS.

"Sekarang enaklah, sudah banyak bonus telepon gratis dan SMS gratis. Jadi bisa telepon dan SMS kapan saja," ujarnya seraya tersenyum. Ditambahkan Badriah, dirinya dan keluarga di Lampung hampir setiap tahun pulang ke Aceh. Tepatnya saat mau Lebaran, yah pas mudik Lebaran. "Kami kadang suka konvoi sama keluarga, sepupu yang ada di sini, dan teman-teman juga yang mau mudik ke Aceh, jadi perjalanan terasa menyenangkan," ceritanya.

Saat disinggung tidak ingin membawa keluarga, orangtua untuk pindah dari Aceh? Dirinya mengatakan, keluarga sudah pada betah di sana. "Yang penting meski kami berjauhan, namun komunikasi tetap lancar. Tidak mesti selalu tatap muka, namun melalui saluran telepon selular kan bisa setiap saat berkomunikasi, tetap terasa dekat,” ujar dia.

Pentingnya Jaringan Selular yang Andal

Sampai Minggu (7/7) korban tewas akibat gempa bumi berkekuatan 6,2 skala Richter di Nanggroe Aceh Darussalam bertambah menjadi 40 orang. Berdasarkan catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sebanyak 31 orang meninggal di kawasan Aceh Tengah, sementara 9 orang tewas di Kabupaten Bener Meriah.

"Hingga Minggu, tercatat 40 orang meninggal," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan pers, Minggu (7/7). Ia mengatakan, sebanyak 63 orang luka berat masih dirawat di rumah sakit dan 2.362 orang menjalani rawat jalan.

Jumlah pengungsi mencapai 22.125 orang, dan sebanyak 15.919 rumah rusak dan 623 bangunan fasilitas umum rusak. BNPB juga merinci, sebanyak 232 desa dari 352 desa di Aceh Tengah terkena langsung dampak gempa. Di daerah tersebut, 4 orang masih dinyatakan hilang. Mereka yang dirawat di rumah sakit karena luka berat mencapai 40 orang. Pengungsi sebanyak 19.870 orang tersebar di 70 titik.

Adapun jumlah rumah rusak di wilayah tersebut mencapai 13.862 unit dengan rincian 5.516 rusak berat, 2.750 rusak sedang, dan 5.596 rusak ringan. Adapun fasilitas umum yang rusak ada 547 unit, seperti puskesmas, sekolah TK hingga SMA, masjid, mushala, dan kantor pemerintahan.

Di Kabupaten Bener Meriah, delapan dari 233 desa mengalami dampak langsung gempa. Dari delapan desa itu, 23 orang luka berat masih dirawat di RS PMI Lhokseumawe dan RSU Banda Aceh. Selama tujuh hari pascagempa 6,2 skala Richter di Aceh, sebanyak 52.113 jiwa warga masih mengungsi.
     
Informasi yang diperoleh dari Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho di Jakarta, Selasa (9/7), jumlah pengungsi mencapai 52.113 jiwa atau 12.301 KK, dengan jumlah di Bener Meriah 19.984 jiwa (5.034 KK) dan di Aceh Tengah 32.129 jiwa (7.267 KK).
     
Para pengungsi tersebut berada di 70 titik pengungsian dan banyak pengungsi mandiri yang berada di halaman rumah atau pekarangan rumah dengan mendirikan tenda. Hingga Minggu penanganan tanggap darurat masih dilakukan. Status tanggap darurat ditetapkan oleh Gubernur Aceh selama 3-17 Juli 2013, dan dapat diperpanjang sesuai kebutuhan di lapangan.

Pakar gempa Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Danny Hilman Natawidjaja mengatakan.gempa Aceh ini berdampak besar karena sumbernya di daratan dan dekat dengan permukaan. “Kedalaman gempa dangkal, hanya 10 kilometer. Karena sumbernya dangkal maka guncangannya sangat terasa dan banyak bangunan roboh," kata Danny, Rabu (3/7).

Peneliti Geo-Hazard Tsunami and Disaster Mitigation Research Centre (TDMRC)-Unsyiah Ibnu Rusydy mengatakan, pusat gempa Aceh ini berada di segmen Aceh. Segmen Aceh adalah bagian dari Patahan Sumatera yang berdasarkan studi Danny dibagi menjadi 19 segmen, antara lain Seulimuem, Semangko, Musi, dan Barumun.

Ia mengungkapkan, dengan banyaknya bangunan yang rusak di Aceh, maka ia menduga, wilayah yang banyak mengalami kerusakan merupakan wilayah yang dilewati sesar yang aktif.

Belum diketahui secara pasti karakteristik tanah di lokasi gempa Aceh  awal Juli ini. Namun, dengan banyaknya bangunan rusak, bisa dipastikan bahwa kualitas bangunannya masih buruk. Danny mengatakan, di Aceh, gempa memang lebih sering disebabkan oleh aktivitas tektonik di samudera. Namun, gempa daratan tak bisa diremehkan. Menurutnya, gempa daratan dengan magnitud yang tak begitu besar saja bisa sangat merugikan bila tak diantisipasi.

Gempa yang kembali melanda Aceh mengundang keprihatinan semua pihak. Negeri ini berduka. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun turun meninjau langsung korban gempa pada Selasa (9/7). Pertama kali, presiden mengunjungi Kabupaten Ketol, Kabupaten Aceh Tengah. Di sana, presiden berdialog dengan korban gempa.

Ketol merupakan daerah terparah yang terkena gempa. Di daerah ini, hampir 90 persen rumah penduduk rusak parah. Sebelumnya, presiden mengatakan, dirinya setiap hari mendapat laporan bagaimana penanganan korban gempa. Ia juga berkomunikasi langsung dengan unsur pimpinan di Aceh. Dia juga melakukan telekonferensi dengan Pemprov Aceh.

Gempa 6,2 SR 2 Juli lalu bukanlah yang pertama terjadi di Aceh. Sejak tsunami tahun 2004, setiap tahunnya Aceh terus diguncang gempa. Sepanjang tahun 2005 terjadi gempa-gempa kecil dengan kekuatan bervariasi antara 2,0 SR sampai 4,8-5,0 SR.

Kemudian gempa kembali terjadi pada awal tahun 2006. Kemudian tahun 2010, gempa berkekuatan 7,2 SR terjadi di Simelue yang memakan korban jiwa dan bangunan banyak yang retak. Lalu, pada tahun 2012, gempa 8,5 SR terjadi pukul 15.38 WIB di perairan sebelah barat Aceh.  

Pada awal tahun 2013, Aceh sebenarnya sempat diguncang gempa, dengan intensitas 6,0 SR dan kedalaman 85 km disertai gempa susulan beberapa hari setelahnya. Pusatnya di 15 km barat daya Banda Aceh. Saat itu, ada satu orang meninggal dunia, 7 luka dan 416 unit rumah rusak.

Dengan seringnya provinsi ini mengalami gempa, betapa pentingnya ketersediaan jaringan telekomunikasi yang andal. Namun, hampir setiap gempa, jaringan komunikasi di daerah gempa terganggu. Seperti saat gempa 6,2 SR kemarin, jaringan komunikasi selular di daerah gempa sempat terganggu. Penyebabnya, catu daya listrik padam dan trafik komunikasi yang tinggi sehingga sambungan ngadat.

Tentu ini menjadi pekerjaan rumah setiap operator selular untuk kedepannya agar mengembangkan infrastruktur yang mampu mengantisipasi bencana alam. Seperti di Aceh ini, infrastruktur yang dibangun setiap operator selular idealnya tahan dengan gempa, dan mampu mengantisipasi secara dini ketika bencana gempa terjdi di daerah tersebut. Sehingga persoalan catu daya listrik yang mati dan tingginya trafik komunikasi selular yang menyebabkan sambungan telepon ngadat atau mati, tidak terjadi lagi.

Sebab, di saat bencana alam, ketika daerah-daerah terisolasi, jalan terputus, maka jaringan telepon selular yang andal dapat menjadi juru selamat untuk menghubungkan daerah terisolasi, mencari pertolongan, dan segala hal yang diperlukan para korban gempa dan tim-tim penyelamat.

Layanan seluler ini juga menjadi andalan bagi semua pihak untuk mencari informasi termasuk koordinasi dalam penanggulangan bencana. Petugas penanggulangan bencana alam, kepolisian, rumah sakit, awak media massa, masyarakat, dan pihak lainnya tentu sangat terbantu dengan adanya jaringan selular yang andal. Dan yang pasti, bagi korban yang mengalami bencana dan bagi keluarga serta sanak keluarga yang ingin mengetahui kabar keluarga mereka yang terkena bencana, jaringan selular yang andal adalah berkah. (gustina asmara)

Sumber: Tribun Lampung
Tags
XL Axiata
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved