Kolom Jurnalis

Mobil Murah, Strategi Menghadapi Pasar Bebas Asean

Kehadiran mobil murah, mau tidak mau memaksa bangsa ini membangun ratusan pabrik komponen mobil murah.

Mobil Murah, Strategi Menghadapi Pasar Bebas Asean
KOMPAS.COM
toyota Agya dan Daihatsu Ayla 

PERTENGAHAN September lalu, mobil murah dan ramah lingkungan (LCGC) Toyota Agya dan Daihatsu Ayla diluncurkan dan mulai dipasarkan.

Agya dijual dengan harga  Rp 99,9 juta sampai Rp 120,75 juta  per unit. Sementara Ayla ditawarkan berkisar Rp 76 juta hingga Rp 106 juta.

Dipastikan kedua mobil tersebut  menggunakan komponen lokal hingga 40 persen dan teknologi ECO terbaru, yang menjadikan mobil ini ramah lingkungan dan kadar gas buang rendah.

PT Astra Daihatsu Motor menargetkan bisa menguasai 40 persen pasar untuk kendaraan jenis city car ini dari total keseluruhan jenis mobil yang diproduksi di Indonesia. Sementara Toyota Astra Motor menargetkan hingga akhir tahun bisa menjual 15 ribu unit Agya.

Kedua mobil murah itu, sejatinya membidik segmentasi pasar kalangan middle low yang terobsesi memiliki mobil murah berkapasitas kecil.

Bagi Toyota dan Daihatsu, kalangan middle low potensinya sangat besar dalam menyumbang transaksi penjualan mobil murah ramah lingkungan sepanjang tahun ini.

Para produsen mobil asal Jepang kini bisa fokus menggarap segmentasi pasar middle low dengan menyasar kalangan pengguna sepeda motor yang terobsesi memiliki sebuah mobil berharga murah.

Tak mau ketinggalan dengan Toyota dan Daihatsu, Rabu pekan lalu, PT Honda Prospect Motor (HPM) meluncurkan Brio Satya. Mobil mobil murah  jagoan Honda itu ditawarkan dalam tiga pilihan dengan banderol paling murah mulai Rp 106 juta.

Brio Satya dirancang sebagai jawaban Honda untuk program LCGC, yang diproduksi di Indonesia dengan kandungan lokal yang ditingkatkan hingga 85 persen.

Meski Honda Brio Satya dibanderol murah bukan berarti murahan. Bahkan bos Honda, Tomoki Uchida, menyatakan soal kualitas, dia menjamin Satya bukan mobil murahan.

Apalagi mobil tersebut juga menggunakan platform Honda Brio yang sudah dikenal ketangguhannya. Sama halnya dengan dua kompetitornya tersebut, Honda Brio Satya juga membidik keluarga baru menikah atau punya anak.

Honda menargetkan jagoan baru tersebut  bisa terjual 30 persen dari angka yang ditargetkan untuk Brio Series, yakni 4.000 unit sebulan. Berarti, 1.200 unit Satya diharapkan bakal menyumbang penjualan tiap bulan.

Naiknya Permintaan Komponen Dalam Negeri

Kehadiran mobil murah dan ramah lingkungan  atau low cost and green car (LCGC)  mestinya mengutamakan bahan baku mesin komponen dalam negeri, sehingga bisa membangun kemandirian industri nasional.

Tetapi nyatanya, kandungan  komponen lokal mobil murah baru mencapai 40 persen. Artinya, masih ada 60 persen komponen yang harus diimpor dari luar negeri.

Terlepas dari itu semua, saya memperkirakan kehadiran mobil murah  akan mendorong naiknya permintaan komponen dalam negeri. Misalnya saja seperti ban, kaca film, radiator, dan intercooler.

PT Asahimas Flat Glass Tbk, perusahaan yang bergerak pada bisnis kaca mobil, pun ketiban rezeki dari kehadiran mobil murah. Perusahaan ini telah mendapat komitmen dari produsen mobil Toyota Agya untuk memasok kaca mobil.

Begitu juga dengan PT Gajah Tunggal Tbk, perusahaan yang bergerak pada ban mobil, mendapatkan orderan memasok ban untuk  Toyota Agya dan Daihatsu Ayla.

Kehadiran mobil murah, mau tidak mau memaksa bangsa ini membangun ratusan pabrik komponen  mobil murah. Langkah ini dilakukan agar industri mobil murah tidak tergantung dari impor.

Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan setidaknya akan ada 100 pabrik pembuatan LCGC yang berdiri di dalam negeri.

Menariknya, meski baru diluncurkan dalam hitungan minggu, keberadaan mobil murah terbukti meningkatkan investasi industri komponen dalam negeri. Dari 100 industri komponen yang diharapkan  pemerintah, saat ini sudah terealisasi 70 persennya.

Itu dibuktikan dengan adanya lima pabrik mobil baru dan sekitar 70 pabrik komponen otomotif.

Siap Bersaing di Pasar Bebas Asean

Industri otomotif Indonesia saya kira tidak perlu cemas menghadapi pasar bebas Asean 2015. Sebab, pemerintah saat ini sudah menggulirkan produksi mobil murah dan ramah lingkungan.

Dengan demikian, Indonesia siap bersaing dengan Thailand di Asean. Bahkan mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla mengaku optimistis dalam waktu dua tahun ke depan bisa menyamai kedudukan Thailand di industri otomotif.

Apalagi ini didorong  masuknya investasi sejumlah agen pemegang merek yang tak cuma menaikkan kapasitas produksi, tetapi membangun pabrik baru.

Bergairahnya industri otomotif Indonesia sudah pasti bakal memberikan dampak di berbagai sektor, mulai dari lapangan pekerjaan baru, investasi, peluang melakukan ekspor, hingga peningkatan pendapatan pajak.

Sementara di sektor manufaktur, diperkirakan sekitar 30  ribu pekerja bakal terserap. Sedangkan di luar itu, diperkirakan 40 ribu tenaga kerja yang bakal terserap.

Ke depan para produsen mobil murah dan ramah lingkungan harus memenuhi 60 persen komponen yang sebelumnya diimpor dari luar negeri.

Langkah yang mesti dilakukan adalah membangun pabrik komponen lokal. Apalagi saat ini baru berdiri 70 pabrik komponen.

Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kementerian Perindustrian Budi Darmadi  mengatakan untuk bisa memproduksi satu unit mobil yang komponennya 100 persen dibuat dalam negeri, maka  membutuhkan 500-600 pabrik komponen.

Jadi  jika ingin program mobil murah dan ramah lingkungan berkembang dan menguasai pasar otomotif di Asean, maka mau tidak mau harus membangun pabrik komponen sebanyak mungkin.

Pembangunan pabrik komponen, ada baiknya tidak hanya terfokus di pulau Jawa. Tujuannya agar ada pemerataan penyerapan tenaga kerja dan pembangunan kawasan-kawasan industri otomotif baru di luar pulau Jawa. Saya kira Lampung bisa dipertimbangkan untuk pembangunan pabrik komponen mobil murah.

Bagi daerah-daerah  yang akan menjadi lokasi pembangunan pabrik komponen, mesti memberikan kemudahan perizinan dan menciptakan iklim investasi yang kondusif, lalu menyediakan infrastruktur yang memadai.

Ada baiknya juga menggandeng sekolah-sekolah menengah kejuruan yang punya pengamalan merakit atau membuat komponen mobil, misalnya mobil Esemka. Setidaknya ada 32 SMK di Indonesia yang punya pengalaman memproduksi mobil Esemka.

Terakhir, ke depan produksi mobil murah dan ramah lingkungan mestinya tidak hanya fokus pada mobil keluarga, tetapi  juga pikap yang bisa digunakan di kawasan perkebunan. Untuk Lampung, saya kira ini pasar yang cukup besar jika mengacu pada data-data penjualan mobil pikap yang ada. (taryono)

Editor: taryono
Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved