Bagaimana Hukum Membaca Wirid Lailaa Hailallah?

apakah boleh membaca wirid "Laila Hailallah"? Terima kasih

Tayang:
Editor: soni

Assalamualaikum Wr. Wb. Kepada Yth. Ketua MUI Lampung, bagai mana cara berwirid yang benar dan apakah boleh membaca wirid "laila hailallah"? Terima kasih

Pengirim: +6281379221xxx

La ilaha illallah Jadi Lafal Zikir Paling Utama

Di dalam Al - Quran perintah berdzikir diungkapkan berkali-kali dan pada umumnya muncul dalam tiga redaksi, yaitu: "Dan sebutlah nama Tuhanmu" (Al-Insan, 76:25), atau 'Dan sebutlah Tuhanmu' (Ali Imran, 3:41), atau 'Dan sebutlah Allah' (Al-Anfal, 8:45; Al-Jumu'ah 62:10).

Berdzikir dapat dilakukan dengan berbagai lafal yang ma'tsur dari hadis-hadis Nabi saw seperti subhanallah, alhamdulillah, Allahu akbar, la ilaha illallah, istighfar, salawat, al-asma al-husna, membaca ayat-ayat suci al-Quran, dan lain sebagainya.

Hanya saja, lafal dzikir yang paling utama dan paling agung adalah al-nafy wa al-itsbat (di-Indonesiakan menjadi "nafi-isbat"), yaitu ungkapan la ilaha illallah 'Tidak ada Tuhan selain Allah'.

Yang didasarkan pada hadis Nabi yang menyatakan bahwa Dzikir yang paling utama adalah la ilaha illallah" (Shahih Ibni Hibban, III:126; Sunan al-Tirmidzi, V: 426 dan Sunan Ibn Majah, II: 1249).

Selanjutnya Nabi SAW mengatakan: "Allah benar-benar mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan la ilaha illallah semata-mata mengharap ridha-Nya" (Shahih al-Bukhari, I: 164, V: 2063).

Di samping itu, keutamaan dzikir ini dapat dipahami dari sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam-imam hadis lainnya:

"Orang yang paling berbahagia dengan syafaat ku di Hari Kiamat kelak adalah orang yang berdzikir dengan la ilaha illallah secara murni dari kalbu atau jiwanya" (Musnad Ahmad, II:373; Shahih al-Bukhari, I: 49, V: 2402; al-Sunan al-Kubra, III: 42).

Lafal dzikir nafi isbat (la ilaha illallah), dipilih dan dilazimkan oleh ahli Thariqah Naqsyabandiyah sebagai lafal dzikir yang paling dominan.

Dalam Khulashah al-Tashanif fi al-Tashawwuf yang terhimpun dalam Majmu' Rasail al-Imam al-Ghazali, Imam al-Ghazali menegaskan, "Penyucian jiwa yang paling efektif adalah dengan mengintensifkan dzikir Tarekat al-Naqsyabandiyah, yaitu dzikir dengan ismu dzat dan nafi isbat" [Majmu' Rasail al-Imam Ghazali , hal 179].

H Mawardi AS
Ketua MUI Lampung (eka)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved