Ini Aset-Aset Lampung Tempo Dulu yang Disoroti Lampung Heritage
Kegiatan komunitas Lampung Heritage tidak hanya terbatas pada aktivitas belajar sejarah Lampung Tempo Dulu.
Laporan Reporter Tribun Lampung Heru Prasetyo
TRIBUNLAMPUNG.co.id-Kegiatan komunitas Lampung Heritage tidak hanya terbatas pada aktivitas belajar sejarah Lampung Tempo Dulu.
Lebih dari itu, komunitas ini juga berusaha mengajak masyarakat luas mendorong pemerintah menyelamatkan bangunan bersejarah yang terancam musnah di berbagai daerah di Lampung.
Teguh Prasetyo, pegiat Lampung Heritage, menilai upaya penyelamatan bangunan bersejarah di Lampung sudah selaiknya menjadi prioritas utama pemerintah. Selain di sana, banyak tersimpan sejarah masa lalu Provinsi Lampung, tentu akan menjadi aset yang teramat berharga dari sisi pariwisata jika dikelola dengan baik.
Sayangnya, hingga kini, menurut dia, langkah ini masih jauh panggang dari api. Banyak bangunan bersejarah di Lampung justru telah berubah bentuk seiring perkembangan waktu. "Kita berusaha untuk desak pemerintah memberikan perhatian lebih ke bangunan cagar budaya atau bangunan sejarah yang masih banyak lainnya," ungkap dia, Jumat (1/11/2013).
Sekarang pun, LH berusaha memberikan kontribusi mereka dengan fokus melakukan penyelamatan gedung Daswati (Daerah Swatantra Tingkat) I, tempat cikal bakal terbentuknya Provinsi Lampung. "Bangunan itu sarat dengan sejarah terbentuknya provinsi Lampung, tapi lihat saja kondisinya saat ini yang nyaris berubah menjadi ruko," ujar dia merujuk bangunan yang letaknya di tak jauh dari Lapangan Parkir GOR Saburai Bandar Lampung.
"Saat ini kita sudah membentuk tim untuk melakukan kampanye penyelamatan gedung Daswati tersebut bersama pecinta Lampung Heritage. Salah satunya dengan menggarap proyek film dokumonter pendek," ujarnya.
"Tentu dengan harapan gedung Daswati ke depan tetap lestari dan dikembangkan menjadi cagar budaya yang dapat menjadi saksi bisu Lampung kepada generasi selanjutnya," tambahnya.
Ia pun berharap, masyarakat bersama LH dapat bersinergi mengingatkan pemerintah pentingnya bangunan bersejarah. Cukup kasus bangunan bekas lembaga pemasyarakatan zaman Belanda di Kelurahan Lebak Budi yang disulap menjadi pasar tradisional oleh pemerintah setempat. Atau penghancuran total Masjid Agung Taqwa di Kota Metro yang seharusnya lebih baik dilakukan renovasi, bukan dibangun menjadi bentuk yang baru.
"Jangan ada lagi kasus serupa tadi. Pemerintah harus lebih peka dan paham nilai historis suatu daerah. Masyarakat pun harus berperan aktif dalam hal ini, dan khususnya anggota LH ke depannya semoga dapat lebih memberikan manfaat kepada masyarakat dan Lampung pada khususnya," katanya.

