Elvira Perjuangkan Janji Hati Tembus Gramedia
Menjadi seorang penulis bukanlah sebuah perkara yang mudah
Laporan Reporter Tribun Lampung Heru Prasetyo
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Menjadi seorang penulis bukanlah sebuah perkara yang mudah. Rasa-rasanya kesulitan itu setara dengan rumitnya untuk dapat memasukkan tulisan kita ke penerbit bonafit sekelas Gramedia Pustaka Utama. Namun siapa sangka, penulis belia Lampung bernama Elvira Natalia sukses membawa Janji Hati miliknya ke jajaran best seller bersama penerbit tersebut.
Usianya belumlah genap 17 tahun. Namun angka tersebut tidak banyak berarti bagi pemilik rambut panjang ini. Justru usia muda, baginya merupakan masa emas untuk menorehkan tinta emas dalam perjalanan hidup. Memberikan suatu yang berarti, menghasilkan karya untuk dikenang di masa akan datang.
Semangat itulah yang mendasari dan akhirnya membawanya ke jajaran penulis top Gramedia. Novel Janji Hati yang rilis pada Juni 2013 silam, sudah menjadi bukti bahwa usia bukan sebuah penghalang untuk sukses menggapai keinginan. Berangkat dari hobi corat coret sebuah cerita pendek, novel bergenre teenlit itupun ia garap serius dan disodorkan ke beberapa penerbit.
"Aku emang hobi banget nulis, Janji Hati ini salah satu tulisan yang awalnya cuma coretan seharian," ungkap dia pada Tribunlampung.co.id, Rabu (20/11/2013).
"Engga ada niatan atau pikiran di awal untuk bisa jadi seperti ini, diterbitin penerbit besar dan booming," ujarnya tersipu. "Beberapa bulan nulis itu ya cuma pingin nulis aja, tapi ternyata malah bisa masuk Gramedia," kata Vira lagi.
Hanya pada satu titik, Vira pun berpikir sangat disayangkan bila luapan perasaan dan pemikiran ia dalam tulisan berakhir begitu saja sebagai koleksi pribadi. Mulailah ia berburu kesempatan menyodorkan karyanya ke sejumlah penerbit. Titik ini, ungkap siswi Kelas XII IPA 3 SMA Xaverius Pahoman bisa jadi momen tersulit dan terpenting dalam hidup dan karier kepenulisannya.
Tanpa bekal pengetahuan yang memadai mengenai dunia penerbitan ia lantas mencoba menyodorkan karya Janji Hati ke Gramedia.
Apakah diterima? Tidak semudah itu, manuskrip putri pertama dari dua saudara ini ditolak oleh Gramedia karena dinilai terlalu biasa dan tidak ada bedanya dengan cerita cinta pada novel teenliit pada umumnya.
Penolakan itupun tidak mematahan semangat Elvira. Ia justru kian termotivasi dan penolakan tersebut dijadikan sebuah evaluasi tersendiri olehnya. Alhasil, dengan catatan yang diberikan pihak Gramedia, selang waktu kurang lebih tiga bulan ia gunakan untuk merombak kisah Amanda, Dava dan Leo dalam Janji Hati. Mengubah cerita tanpa perlu mengubah esensi kisah cinta didalamnya yang diminati kalangan remaja.
"Dari ditolak itu, aku langsung garap ulang naskahnya. Engga sakit hati, justru jadi termotivasi biar cepet jadi dan bisa dikirim ulang naskah barunya. Dan Puji Tuhan, ternyata revisi naskah aku diterima Gramedia dan sudah terbit Juni kemarin," tutur kelahiran 25 Desember 1996.
Bagi Vira, capaiannya kini menjadi prestasi tersendiri bagi pribadi dan masyarakat Lampung. Pasalnya hingga kini hanya sedikit orang Lampung yang mampu berkancah di dunia kepenulisan dan masuk bagian keluarga besar Gramedia Pustaka Utama. (*)