Direktur RSUD dr Dadi Tjokrodipo: "Apa Kami Tega Buang Jompo"

Direktur RSUD dr Dadi Tjokrodipo Kota Bandar Lampung, dr Indrasari Aulia, angkat bicara terkait penangkapan lima tersangka pembuangan

Laporan Reporter Tribun Lampung  Romi Rinando

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID-Direktur RSUD dr Dadi Tjokrodipo  Kota Bandar Lampung, dr Indrasari Aulia, angkat bicara terkait penangkapan lima tersangka pembuangan kakek jompo yang diduga dilakukan karyawannya.

Indra menyatakan pihaknya menyerahkan semua proses hukum para tersangka ke kepolisian.

"Semua kita serahkan ke proses hukum saja, dan saya tidak mau mencampuri proses hukum yang kini masih berjalan. Kalau sanksi terhadap lima tersangka, kita lihat kedepan sampai kasus ini benar-benar jelas," kata Indra saat dihubungi Tribunlampung.co.id, Jumat (31/1/2014).

Saat ditanya terkait sudah seringkalinya RSUD dr Dadi Tjokrodipo membuang pasien jompo, seperti yang diungkapkan beberapa tersangka, Indra membatahnya.

"Tidak ada itu. Apa  kami tega melakukan itu. Dan itu tidak ada perintah saya membuang pasien," tegasnya.

Kemarin, Polresta Bandar Lampung bersama Polsek Tanjungkarang Barat meringkus lima orang tersangka yang membuang kakek jompo Suparman atau Mbah Darno alias Mbah Edi hingga meninggal dunia. Kelima tersangka adalah para pegawai di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dadi Tjokrodipo.

Kelima tersangka adalah Muhaimin (32), sopir ambulans; Andi Karyadi alias Rika perawat di bagian rawat inap; Andi, bagian sanitasi; Dika, bagian sanitasi; dan Rudi, seorang tukang parkir.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Bandar Lampung Komisaris Dery Agung Wijaya mengatakan, petugas pertama kali menangkap Muhaimin di rumahnya di Jalan Cut Mutia, Kelurahan Pengajaran, Telukbetung Utara, Kamis (30/1/2014).

Dari keterangan Muhaimin diketahui ada peran orang lain. Polisi lalu meringkus Rika, Dika, Andi, Rudi di RSUD Dadi Tjokrodipo. Menurut Dery, kelima orang ini ikut serta dalam pembuangan Suparman. Mengenai adanya keterlibatan pejabat RSUD Dadi Tjokrodipo, Dery belum bisa memastikan.

Begitu juga motif pembuangan Suparman. Ini dikarenakan, kelima tersangka masih dalam pemeriksaan penyidik.

Selain menangkap lima orang tersangka, polisi juga menyita sebuah mobil ambulans yang diduga dipakai untuk membuang Mbah Darno. Mobil yang disita adalah jenis Suzuki APV warna silver plat merah BE 2472 AZ.

Menurut Dery, mobil tersebut sudah diubah oleh tersangka Muhaimin. Para tersangka mencabut lampu rotator dan mencopot stiker ambulans di mobil tersebut.

"Kami masih mencari siapa yang menyuruh mengubah mobil tersebut," ucap dia.

Polisi menjerat kelima tersangka dengan Pasal 306 ayat (2) KUHP subsider Pasal 304 KUHP tentang penelantaran seseorang dalam keadaan sengsara hingga mengakibatkan kematian. Para tersangka terancaman hukuman pidana penjara selama sembilan tahun.

Tags
Lampung
Editor: taryono
Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved