Modal dari Jual Perhiasan, Bebek Belur Kini Beromzet Rp 60 Juta Sebulan

"Uang yang saya dapatkan hanya cukup untuk membayar gaji karyawan dan membeli bahan makan," kata Cici.

Modal dari Jual Perhiasan, Bebek Belur Kini Beromzet Rp 60 Juta Sebulan
TRIBUN LAMPUNG/JELITA DINI KINANTI
Indah Citra Halley, pemilik RM Bebek Belur Lampung. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Tidak memiliki keahlian memasak, bukan berarti tidak bisa buka usaha kuliner. Ini setidaknya dibuktikan Indah Citra Halley. Wanita yang akrab disapa Cici ini berhasil membangun Rumah Makan Bebek Belur dengan dibantu sang ibu yang ahli memasak.

Cici menceritakan, awal dia merintis usaha bebek belur sangat sulit. Tahun 2010, ia baru lulus kuliah. Saat itu ia bertekad ingin membuka usaha kuliner, namun tidak memiliki modal dan keahlian memasak. Ia pun meminta sang ibu membantunya.

"Ibu saya sangat ahli dalam memasak. Dia sempat memiliki rumah makan di Metro dan rumah makan tersebut laris. Jadi saya meminta ibu saya bersama-sama membangun usaha kuliner di Bandar Lampung. Ibu yang menciptakan masakan, dan saya yang mengelola manajemennya," jelas dia, Senin (22/1).

Modal awalnya pun memakai uang sang ibu dan menjual perhiasan. Setelah uang terkumpul, ia mencari tahu makanan apa yang masih jarang ada di Lampung. Ia pun mengunjungi dan mencicipi menu-menu di beberapa rumah makan.

"Dari sana saya tahu, ternyata jarang rumah makan yang menyajikan makanan daging bebek. Ia pun memutuskan untuk membuat rumah makan dengan menu utama daging bebek," kata dia.

Langkah selanjutnya, ia memikirkna logo dan nama rumah makannya. "Setelah saya mencoba membuat berbagai gambar animasi, saya berpikir sepertinya lucu kalau membuat gambar bebek yang babak belur dengan luka dikepala, dan saya putuskan untuk membuat nama rumah makan saya bebek belur, yang artinya bebek yang babak belur," cerita dia.

Dan di tahun 2011, ia menyewa sebuah ruko di Jalan ZA Pagar Alam. Awal membuat rumah makan Cici hanya punya lima karyawan dengan juru masak sang ibu. Awal membuka usaha, daging bebeknya tidak langsung diminati konsumen. Sebab, daging bebek yang disajikan daging bebek biasa.

"Karena rumah makan saya sepi, uang yang saya dapatkan hanya cukup untuk membayar gaji karyawan dan membeli bahan makan. Selama setahun saya mengalami itu. Akhirnya tahun 2012, saya dan ibu mencoba mencari resep baru yang memiliki cita rasa beda. Mereka keluar masuk rumah makan dan membeli beberapa buku masakan. Lalu kami memutuskan untuk membuat bebek bledek. Yaitu bebek dengan campuran cabai hijau dan cabai merah yang digiling," ujarnya.

Awal dia membuat bebek bledek juga tidak langsung disukai konsumen, karena rasa bebeknya terlalu pedas. Sampai akhirnya rasa pedasnya dikurangi. Resep bebek bledek inilah yang membuat rumah makan bebek belur Cici akhirnya dikenal orang. Rumah makannya pun mulai ramai didatangi konsumen.

Lalu tahun 2013, Cici dan ibunya kembali membuat resep baru yaitu bebek sambal hijau. Resep inipun kembali membuat rumah makannya makin dikenal orang. Cici pun bisa meraup omzet hingga 30 juta per bulan. Tahun 2014, Cici membuka dua cabang di Jalan Pramuka Rajabasa Bandar Lampung. Di sinipun rumah makannya laris manis. Kini, dari satu rumah makan, Cici bisa mengantongi omzet hingga Rp 60 juta sebulan.(jelita dini kinanti/tribun lampung)

Editor: Andi Asmadi
Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved