Eksekusi Mati
Andrew Chan The God Father Bali Nine Belajar Jadi Pendeta
Empat lembar surat tulisan tangan bertinta biru milik Andrew Chan terlampir dalam satu bendel memori peninjauan kembali (PK) yang diajukan olehnya
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Empat lembar surat tulisan tangan bertinta biru milik Andrew Chan terlampir dalam satu bendel memori peninjauan kembali (PK) yang diajukan olehnya melalui pengacara Todung Mulya Lubis. Surat tersebut ditulis oleh pria yang disebut-sebut sebagai gembong (god father) kelompok "Bali Nine" dengan bahasa Indonesia yang rapi.
Pengadilan Negeri Denpasar sudah menerima surat PK warga Negara Australia itu, Jumat (30/1). Surat tersebut ditujukan kepada Mahkamah Agung RI dan Presiden RI Joko Widodo.
Dalam surat itu Andrew menulis bahwa kehidupannya selama 10 tahun menghuni Lapas Kerobokan Denpasar sangat sulit, terlebih karena keluarganya tinggal jauh sehingga jarang bertemu.
Namun diakuinya surat tersebut bukan untuk mengeluh karena ia menyadari dirinya pantas dipenjara lama. Ia hanya memohon agar pembacanya dapat melihat lubuk hatinya yang terdalam bahwa ia telah berubah.
"Saya ibarat cangkir yang hancur, akan tetapi bukan berarti saya tidak dapat diperbaiki. Dalam sepuluh tahun terakhir, sistem yang terdapat di negeri yang Yang Mulia pimpin telah mebuat saya menjadi utuh untuk mencintai penduduk Indonesia dan membantunya," tulis Andrew.
Ia juga memohon diberikan kesempatan kedua. Selain itu, juga Andrew menyatakan telah menghabiskan waktunya untuk mengajarkan kepada orang lain untuk tidak melakukan kesalahan yang sama dengannya.
Andrew yang tertangkap bersama sembilan temannya dari Australia karena menyelundupkan 8,2 kg heroin ke Bali pada 2005 itu mengaku sedang belajar menjadi pendeta.
Ingin tahu kelanjutannya? Jangan lupakan Tribun Lampung cetak edisi Minggu 1 Februari 2015