'Obat Gila' Ini Sering Dikonsumsi Penjahat Sebelum Beraksi

Obat ini membuat penderita merasa lebih tenang dan tidak terlalu tegang.

Shutterstock
Ilustrasi 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, SLEMAN - Peredaran obat-obatan jenis psikotropika makin meresahkan, apalagi pengedar menyasar kalangan remaja yang sebagian besar masih berstatus pelajar.

Selain itu, obat-obatan yang termasuk golongan psikotropika golangan IV bukan tanaman, yaitu Riklona clonazepam dan alprazolam juga sering digunakan pelaku kejahatan untuk melancarkan aksi mereka.

Dokter menyebut, Alprazolam adalah obat yang termasuk dalam kelompok benzodiazepines. Biasanya obat ini digunakan untuk mengatasi kecemasan dan serangan panik.

Obat ini membuat penderita merasa lebih tenang dan tidak terlalu tegang. Dosis obat ini sebaiknya diambil yang paling rendah dengan frekuensi paling pendek sesuai dengan gejala yang ada

Kasat Reserse Narkoba Polres Sleman, AKP Anggaito Hadi, menjelaskan kedua obat sebenarnya adalah obat untuk mengatasi gejala parkinson dan digunakan untuk mengurangi efek samping obat antipsikotik pada pasien gangguan jiwa atau gila.

Dengan mengkonsumsi obat-obatan tersebut, pengguna akan mendapatkan efek halusinasi, dan peningkatan emosi.

"Tak heran banyak yang menyalahgunakan obat-obatan jenis ini, pil ini membuat penggunanya menjadi berani atau nekat melakuan suatu perbuatan," ujar Anggaito.

"Obat-obat ini sering dikonsumsi pelaku kejahatan, mereka akan berani melakukan perkelahian, penganiayaan, pembacokan, atau tindak pidana lainnya," imbuhnya.

Dari tangkapan selama ini, Anggaito menuturkan bahwa banyak pengedar yang menjual pil-pil tersebut di kalangan para pelajar.

Hal itu lantaran pil-pil tersebut dijual dengan harga murah, dan beberapa dokter dengan bebas menjual obat-obatan tersebut.

Akan tetapi terkait peraturan saat ini, pihaknya tak dapat memproses dokter-dokter yang mengeluarkan resep tersebut.

"Ya karena ada etika dokter, bahwa ada pasien yang mengeluh sakit, maka ia dapat mengeluarkan resep," jelasnya.

Anggaito menambahkan mengkonsumsi obat-obatan tersebut secara terus menerus, akan mendapatkan efek samping berupa penglihatan kabur, sembelit, keringat bercucuran, hingga sulit atau nyeri saat buang air kecil. (*)

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved