Meradang, Manajemen RS Immanuel Bantah Anak Tirikan Pasien BPJS

Dituduh buruk dalam pelayanan untuk peserta Badan Pelayanan Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, manajemen Rumah Sakit Imanuel

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Dituduh buruk dalam pelayanan untuk peserta Badan Pelayanan Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, manajemen Rumah Sakit Imanuel Bandar Lampung meradang.

"Jangan ragukan pelayaan kami, kami tidak pernah beda-bedakan pasien," kata Kepala Humas RS Imanuel Bandarlampung, Alquirina, Jumat (10/4/2015).

Menurut Alquirina, setelah BPJS Kesehatan memutus sepihak kerja sama dengan RS Imanuel, banyak pasien menangis karena merasa sudah nyaman dengan pelayanan rumah sakit tersebut.

"Bisa dibayangkan selama Januari sampai Februari 2015, ada 9.000 pasien BPJS yang telah kami layani dengan berbagai penyakit," ujar dia.

Misalnya, lanjut Alquirina, poli penyakit dalam yang paling banyak melayani pasien memiliki tiga dokter spesialis.

"Semua melayani pasien bahkan lebih dari jam kerja yang telah ditentukan, bahkan pasien kelas tiga pun ditangani dokter spesialis yang melakukan visit sebanyak dua kali," kata dia lagi.

Pihaknya meyayangkan manajemen BPJS Kesehatan Bandarlampung memutus sepihak kerja sama itu tanpa aturan yang telah disepakati bersama.

"Kami tidak diberi peringatan 2 dan 3, tapi tiba-tiba diputus secara sepihak dan tidak dijelaskan dimana letak kesalahan kami," keluhnya.

Ia berharap, ke depan BPJS lebih profesional.

"Kami pada prinsipnya mendukung program ini, tapi mari kita bermitra dengan baik. Kami juga sebelumnya telah menjalin kerja sama dengan asuransi lainnya, tapi tak pernah membuat kami serepot ini," kata dia lagi.

Sementara itu, berdasarkan pantauan di rumah sakit lainnya, masih ditemukan sikap menomorduakan pasien pengguna BPJS. Seperti di RS Urip Sumoharjo, Bandarlampung, kerap menolak pasien kelas tiga dengan alasan penuh. Hal itu dirasakan oleh Yulianto saat mengurus orangtuanya yang hendak rawat inap di sana.

"Saya malah ditawari naik kelas, padahal ruang untuk pasien BPJS setelah saya cek masih ada yang kosong beberapa kamar," kata dia.

Pemandangan serupa juga tampak di RS A Dadi Tjockrodipo, Bandarlampung. Pasien poli yang menunggu sedari pagi baru bisa terlayani setelah menunggu beberapa jam.

"Saya menunggu sejak pagi, tapi sudah tiga jam menunggu ternyata dokternya tidak ada, terpaksa esok hari saya ke sini," kata Ratna.

Editor: soni
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved