Selain Bersepeda, Angga Pernah Ajak 2 Adiknya Jalan Kaki ke Palembang
Dia kecapekan, posisinya belum jauh dari kampung kami, sekitar 5 kilometer dari sini. Ia pun tak kuat menggendong kedua adiknya.
Penulis: syamsiralam | Editor: Heribertus Sulis
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, GUNUNG SUGIH - Entah apa yang ada di benak Yonggi Angga Saputra (12), mengenai Kota Palembang, Sumatera Selatan, dan pamannya bernama Nardi. Sebelum bersepeda selama lima ke Palembang sepekan lalu, Angga sempat dua kali mencoba pergi ke Bumi Sriwiijaya tanpa pamit dengan kedua orangtuanya.
RASIMIN (32), ayah Angga, belum pernah mengajak Angga ke kediaman pamannya di Palembang. Begitu pun sang ibu, Turyati (31).
Menurut Rasimin, Angga bukan kali ini saja membuat orangtuanya panik. Sekitar dua bulan lalu, Angga juga kabur dan menghilang dari rumahnya selama tiga hari. Setelah dilacak, akhirnya diketahui bocah yang telah putus sekolah itu berada di daerah Wates, Bumi Ratunuban, atau berjarak 50 kilometer dari kediamannya di Kampung Sendang Mulya, Sendang Agung.
"Kejadiannya ya kayak gini (bersepeda ke Palembang). Kami sibuk mencarinya selama tiga hari, sebelum ditemukan di pinggir jalan di Wates sana, sedang duduk. Katanya lagi nunggu bis kosong mau ke Palembang," jelas Rasimin, kepada Tribun Lampung, Jumat (8/5).
Saat itu pun Angga menghilang tanpa mengonsumsi makanan, sama seperti kisah perjalanannya bersepeda ke Palembang. Ketika ditanya, Angga mengaku hanya berjalan saja menyusuri jalan, tanpa makan dan minum.
Sekitar satu bulan lalu, sambung Rasimin, Angga kembali mencoba pergi ke Palembang. Percobaan kali kedua itu lebih menghebohkan. Sebab, Angga mengajak kedua adiknya yang masih berusia dua tahun dan sembilan tahun.
"Tapi itu satu hari saja. Dia kecapekan, posisinya belum jauh dari kampung kami, sekitar 5 kilometer dari sini. Ia pun tak kuat menggendong kedua adiknya," lanjut Rasimin.
Rasimin menuturkan, ia dan istrinya bukan tak bisa menjaga anak. Namun, ia mengaku sehari-harinya harus bekerja mulai pukul 07.00 hingga 17.30 WIB, sebagai buruh pembuat genting dan bata. Dari rumah ke lokasi pekerjaan berjarak lebih kurang dua kilometer. Sementara Turyati sehari-hari seperti ibu rumah tangga lainnya.
Menurut Turyati, hingga kini mereka belum tahu sejak kapan Angga memiliki niat bepergian ke Palembang. Karena sehari-harinya Angga bermain seperti anak-anak lainnya. "Ya setiap harinya teman-temannya datang ke sini ngajak bermain. Bermainnya ya di sekitar sini, main bola, mancing di kali dekat rumah sini. Dia tidak menyendiri kok," kata Turyati.
Ibu tiga anak itu juga menolak anggapan kurang perhatian terhadap Angga. Ia juga membantah disebut sering memarahi Angga sehingga kerap ingin meninggalkan rumah.
Narti (30), tetangga Rasimin, mengatakan, Angga memang cukup pendiam. Ia pun tidak nakal terhadap teman-temannya. Narti sendiri mengaku tak kaget ketika mengetahui Angga bersepeda ke Palembang tanpa makan dan minum selama lima hari.
"Ya sebelumnya juga kan dia pernah kayak gini. Memang ya warga juga ikut mencarinya. Tapi, karena memang Angga begitu ya kita akhirnya pasrah saja," kata Narti, yang kini khawatir apabila Angga mengajak anak lainnya.
Sementara Camat Sendang Agung Suharno, mengaku prihatin dengan Angga. Ia pun berinisiatif untuk memasukkan Angga ke sebuah pondok pesantren, supaya bisa menempuh pendidikan lebih lanjut.
"Kita mau pondokkan saja. Biayanya biar kita yang menanggung. Satu dua hari ini akan kita urus prosesnya. Kita berharap pendidikan Angga bisa dilanjutkan, sayang jika tidak. Semoga dengan dipondokkan dia bisa dapat pengawasan lebih baik," bebernya.
Namun, rencana itu tak disambut positif oleh Angga. Bocah sulung dari tiga bersaudara itu menggelengkan kepala sebagai tanda penolakan untuk kembali bersekolah atau belajar di pondok pesantren.(syamsir alam)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/angga-di-depan-rumahnya_20150508_103001.jpg)