Membangun Perikanan Lampung

Potensi Besar, Pemanfaatan Belum Maksimal

Selain budidaya ikan air laut dan payau, Provinsi Lampung juga memiliki potensi untuk budidaya ikan air tawar

Potensi Besar, Pemanfaatan Belum Maksimal
ist
ilustrasi tambak udang 
MEMILIKI luas perairan mencapai 24.820 km2, hampir menyamai luas daratan, garis pantai yang panjang mencapai 1.105 km2, Provinsi Lampung memiliki potensi perikanan yang luar biasa. Potensi perikanan tangkap di Bumi Ruwai Jurai ini mencapai 380 ribu ton per tahun. 
Potensi perikanan laut (perikanan tangkap) ini tersebar di Pantai Timur (Laut Jawa), Selat Sunda (Teluk Lampung dan Teluk Semangka) dan Pantai Barat. Di Pantai Timur, potensi perikanan mencapai 11.800 ton per tahun dan didominasi jenis ikan demesal. Sementara di Selat Sunda, potensinya mencapai 97.752 ton per tahun dengan dominasi ikan karang. Sedangkan di pantai barat, potensinya mencapai 182.864 ton per tahun.
Dari  potensi yang besar itu, jumlah yang dimanfaatkan baru 120.366,58 ton per tahun. Ini berarti masih ada sekitar 259.233 ton atau sekitar 68,22% yang belum dimanfaatkan, terutama untuk wilayah perairan lepas pantai atau Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia. 
Untuk budidaya perikanan laut potensinya juga sangat besar. Potensi lahan untuk kegiatan budidaya ini mencapai lebih dari 10.600 ha. Saat ini, dari potensi lahan yang ada itu, seluas 681 ha dimanfaatkan untuk budidaya ikan kerapu, mutiara 3.999 ha, rumput laut 1.325 ha dan kerang-kerangan 4.596 ha. 
Sedangkan lahan yang potensial untuk budidaya air payau, baik untuk pembesaran ikan/udang maupun pembenihan luasnya mencapai 61.200 ha. Potensi tersebut menyebar di pantai timur Lampung yang membentang dari utara sampai selatan seluas 52.500 ha, teluk Lampung seluas 700 ha, teluk Semangka 2.000 ha dan pantai barat seluas 5.000 ha. Dan komoditas yang potensial untuk dikembangkan secara budidaya yaitu udang, ikan bandeng,ikan kakap dan ikan kerapu. 
Selain budidaya ikan air laut dan payau, Provinsi Lampung juga memiliki potensi untuk budidaya ikan air tawar. Potensi ini salah satunya dapat dilihat di Kabupaten Lampung Selatan yang mencapai 275 ribu ton per tahun. Produksi itu berasal dari 1.150 ha lahan budidaya yang tersebar di sejumlah kecamatan di Lampung Selatan. 
Lahan seluas 1.150 ha ini merupakan lahan yang telah dimanfaatkan. Sedangkan luas lahan yang belum dimanfaatkan mencapai 11 ribu hektar atau sekitar 90 persennya Berdasarkan data statistik tahun 2011, luas areal bersih kegiatan budidaya perikanan yaitu untuk tambak 14.050 hektare (ha), kolam 6.192 ha, minapadi 1.023 ha, keramba 1.131 ha, KJA 290 ha, dan budidaya ikan laut sebanyak 1.031 ha. 
Pada tahun 2000, produksi perikanan di Lampung sebagian besar masih dari kegiatan usaha penangkapan yang mencapai 85%. Sisanya, 15% kegiatan usaha budidaya, khususnya udang. Produksi perikanan tangkap di Provinsi Lampung relatif stabil. Pada tahun 2009, produksinya mencapai 164.552 ton per tahun, tahun 2010 143.813 ton per tahun, lalu tahun 2012 144.486 ton per tahun. 
Eksportir Udang Terbesar
Provinsi Lampung tercatat sebagai daerah penghasil udang terbesar di Indonesia. Dari produksi udang nasional yang mencapai 348.100 ton, sebanyak 45% dihasilkan dari wilayah Lampung. Komoditas udang ini masuk dalam lima produk unggulan ekspor nonmigas Indonesia. Bahkan perusahaan tambak udang terbesar di Indonesia yaitu CP Prima ada di Lampung. 
Dirjen Perikanan Budidaya KKP Made L Nurdjana bahkan peenah menyebut Provinsi Lampung potensinya luar biasa. Produksi udang Lampung merupakan yang terbesar, kerapu juga terbesar. Jadi Lampung merupakan pusat produksi untuk budidaya. 
Sementara menurut Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) Kementerian Kelautan dan Perikanan Saut P Hutagalung, udang masih menjadi komoditas unggulan perikanan Indonesia. Komoditas ini menguasai 33 persen dari total ekspor perikanan Indonesia. Pasar utama ekspor perikanan ini yaitu Amerika Serikat, Jepang, Asean, Uni eropa, dan Tiongkok. Amerika Serikat merupakan negara yang membeli udang Lampung terbesar.Total nilai ekspor dari sektor perikanan tahun 2014 mencapai 4.683 miliar dolar AS.
Nilai ekspor ikan dan udang sendiri selama tahun 2014 sebesar 213,1 juta dolar AS. Sedangkan pada Desember 2014 mengalami peningkatan ekspor sebesar 25,74% (4,23 juta dolar AS). Ikan dan udang menyumbang ekspor Provinsi Lampung sebesar 5,74 persen. Nilai tukar petani sektor perikanan tangkap sebesar 107,57 persen dan perikanan budidaya sebesar 97,37%.
Meski begitu, masih banyak lahan tambak yang belum termanfaatkan secara baik. Menurut Gubernur Lampung M  Ridho Ficardo, lahan tambah yang belum termanfaatkan ini seluas 31.801,78 hektare. Sementara yang sudah dimanfaatkan seluar 38.062,76 hektar. Gubernur berharap, para pengusaha, investor termasuk nelayan dapat memanfaatkan potensi yang besar ini.
Hambatan dan Masalah
Meski potensi perikanan Lampung sangat besar, namun sejumlah masalah masih dihadapi. Mulai dari pengolahan yang masih tradisional, kapal tangkap yang sudah tua, belum terintegrasinya sistem produksi dari hulu dan hilir, hingga akses pasar ke luar negeri. 
Sampai saat ini, mayoritas nelayan di Lampung masih menggunakan cara-cara tradisional dalam mengelola produk perikanan. Salah satu contoh, nelayan di Pulau Pasaran, Bandar Lampung. Mereka mengelola ikan teri untuk pasar dalam negeri dengan cara yang masih tradisional. Perebusan ikan, penjemuran, hingga pengemasan ikan masih sangat tradisional. Sehingga, daya saingnya juga tidak terlalu tinggi.
Nelayan juga kerap dihadapi kesulitan modal. Beberapa tahun terakhir, para nelayan "tertekan" dengan tingginya harga solar. Mahalnya harga solar membuat nelayan dan pelaku usaha menekan biaya operasional. Pengurangan biaya operasional secara otomatis mempengaruhi produksi tangkapan ikan. Kualitas produk dan harga juga menjadi tidak bersaing. 
Pada pengembangan perikanan budidaya, para pelaku usaha juga masih dihadapkan pada permasalahan implementasi kebijakan tata ruang, terbatasnya prasarana saluran irigasi, terbatasnya ketersediaan dan distribusi induk dan benih unggul, serangan hama dan penyakit udang.
Produksi ekspor udang Lampung sempat anjlok beberapa tahun lalu karena serangan virus. Tahun 1990-an, ribuan tambak udang windu ditutup pemiliknya karena serangan penyakit bintik putih yang sangat ganas. 
Serangan serupa kembali terjadi pada tahun 2000-an. Namun di tahun 2000-an ini, virus yang menyerang berjenis infection Myonecrosis (IMNV) atau virus Myo. Virus ini menyerang udang vaname. Ratusan petambak pun  kembali gulung tikar. 
Dan di tahun 2015 ini, serangan virus udang kembali terjadi. Kali ini virus yang mewabah yaitu virus white faces disease atau telek putih. Menurut Kepala Bidang Budidaya Dinas Kelautan dan Perikanan Lampung, Candra Murni, pihaknya telah melakukan penelitian mengenai banyaknya kematian udang-udang milik petambak.
"Kami melakukan penelitian pada tiga lokasi areal tambak udang di Lampung, yakni di Lampung Selatan, Lampung Timur dan Dipasena. Dari hasil penelitian terungkap saat ini sedang mewabah virus white feses disease atau lebih dikenal dengan Telek Putih," kata Chandra, beberapa waktu lalu.
Virus ini menurutnya menyebar sangat cepat dan biasanya menyerang pada udang yang berusia 20-30 hari paska tebar benur. "Ciri yang terlihat udang-udang ini mau diberi makan, tapi biasanya sore hari sudah tidak mau lagi dan tak lama mengambang kotoran berwarna putih dan saat dilakukan pengeringan kolam, udang-udang sudah banyak yang mati," kata dia.
Bahkan untuk persoalan ini, produsen pakan ikan dan udang CP Prima memproduksi pakan khusus guna mengatasi masalah penyakit kotoran putih (white feces disease). Direktur Utama CP Prima Irwan Tirtariyadi mengatakan, setelah diberikan pakan khusus itu, udang bisa grow lagi. "Jadi penyakitnya hilang sekitar satu hingga dua minggu, ujarnya seperti dikutip Bisnis, Senin (15/6/2015).
Dia menambahkan pakan khusus diproduksi di seluruh pabrik pakan udangnya, yaitu Surabaya, Lampung, dan Medan, agar petambak udang dapat dengan mudah menjangkau pakan ini. Irwan mengatakan pakan khusus ini hanya diproduksi dalam skala kecil. Paling tidak, lanjutnya, produksi pakan khusus masih di kisaran ratusan ton.
Persoalan berikutnya di sektor perikanan Lampung adalah kerusakan lingkungan laut. Akibat eksploitasi yang besar-besaran di masa lalu, garis pantai tergerus dan terjadi pendangkalan perairan pantai. Sudah beberapa tahun ini, nelayan di Pulau Pasaran harus mencari ikan hingga ke Teluk Lampung. Ini karena tingginya pencemaran air laut di sekitar pulau, sehingga kuantitas dan kualitas ikan berkurang. 
Belum lagi, masyarakat juga menjadikan pantai dan laut sebagai tempat membuang sampah dan limbah, baik dari rumah tangga maupun industri. Ancaman pencemaran perairan teluk Kota Bandar Lampung, berasal dari limbah domestik sekitar 1 juta penduduk dan sekitar 42 industri di kota ini. Wilayah pesisir dan pantai di Lampung bahkan menjadi kantung-kantung kemiskinan masyarakat nelayan.
Di kawasan pantai timur Lampung, kerusakan hutan mangrove dan terumbu karang sangat besar. Sampai saat ini belum ada penanganan secara terpadu untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. 
Wakil Ketua Kadin Lampung Yuria Putra Tubarat pernah mengatakan, pelaku usaha masih terkendala dengan akses pasar ke luar negeri. Secara teknis masalah pengusaha yaitu perizinan, kemampuan dan pemahaman transaksi luar negeri dan pembiayaan. Sampai saat ini, pelaku usaha dan nelayan masih kesulitan untuk mengakses pembiayaan. Sehingga, pengembangan usaha sektor perikanan menjadi sedikit lambat.
Dengan semua masalah tersebut, konsumsi ikan masyarakat Lampung juga masih terkategori rendah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Lampung, konsumsi ikan masyarakat Lampung hanya 28 kg per tahun. Idealnya, 70-75 kg per tahun. Konsumsi yang rendah ini salah satunya karena tingginya harga ikan di pasaran. Sehingga, masyarakat lebih memiliki mengonsumsi panganan lain.
Sinergi Semua Pihak
Melihat potensi perikanan Lampung yang besar, namun masih diselimuti berbagai persoalan maka harus ada langkah-langkah kongkrit dari semua stakeholder untuk mengatasi masalah di atas, sekaligus menggenjot produksi perikanan di Lampung.
Beberapa hal yang bisa dilakukan seperti, memberikan akses yang mudah bagi masyarakat untuk mendapatkan pembiayaan, sehingga nelayan dan pelaku usaha bisa memperbaiki armada tangkap serta meningkatkan produksi perikanannya. Baik itu perikanan tangkap laut, budidaya laut maupun budidaya air tawar. 
Saat ini, pemerintah memang telah membuka keran Kredit Usaha Rakyat, (KUR) yang salah satu prioritasnya untuk pelaku usaha di sektor perikanan. Bunga KUR saat ini sudah diturunkan dari 18% menjadi 12%. Nah, kebijakan yang baik ini tentu harus sampai kepada masyarakat secara luas dan ada kemudahan dalam penyalurannya. 
Untuk persoalan perusakaan lingkungan laut, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Lampung bersama pihak terkait memang harus gencar melakukan upaya-upaya perbaikan. Penanaman mangrove harus digencarkan, agar abrasi pantai bisa diperbaiki sehingga ikan-ikan bisa kembali berlimpah. 
Kampanye dan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya lingkungan laut yang bersih juga tidak boleh bosan-bosan dilakukan. Saat ini, jarang sekali kita mendengar pemerintah terkait memberikan edukasi dan kampanye yang besar-besaran untuk "penyelamatan" laut Lampung. Padahal kerusakannya, terkhusus di daerah pesisir dan teluk Lampung sudah sangat parah.  
Edukasi terkait pengelolaan komoditas perikanan juga harus gencar dilakukan. Agar kualitas produk perikanan dari Lampung terjaga dan bisa bersaing di pasar luar Lampung bahkan pasar luar negeri. Awal tahun ini, DKP Lampung telah melakukan pilot project sitem percontohan rantai dingin kepada nelayan. Menurut Kepala DKP Lampung Setiato, pada sistem ini, ikan hasil tangkapan nelayan dan budidaya langsung dikondisikan dalam suhu maksimal 4 derajat celcius. Sistem ini dimulai dari ikan baru ditangkap. 
Proyek percontohan ini diluncurkan DKP Lampung di Gudang Lelang, Bandar Lampung pada Maret 2015. Menurut Setiato, sistem ini merupakan langkah pemerintah untuk menjadikan nelayan dan pelaku budidaya sebagai penyedia produk perikanan yang sesuai dengan standar kualitas ekspor. 
Agar potensi perikanan Lampung tergarap maksimal, pemerintah juga harus menciptakan iklim investasi yang baik. Berbagai kemudahan dalam berinvestasi harus diberikan. Seperti pengurusan izin yang mudah dan cepat, tidak high cost, tidak ada pungli. Sehingga, investor-investor tertarik menanamkan modalnya untuk membangun sektor perikanan di Lampung. 
Dan untuk perusahaan yang telah berinvestasi di Lampung, pemerintah dan pengusaha juga perlu membangun sinergi yang positif. Agar investasi yang ada tetap jalan dan memberikan efek positif terhadap ekonomi Lampung dan kesejahteraan masyarakat sekitarnya. 
Pemerintah hendaknya juga tanggap ketika ada kasus-kasus serius yang menimpa sektor perikanan Lampung. Seperti adanya serangan virus telek putih ini. Semua pihak harus bergerak cepat mencari solusi terbaik, agar virus tidak menyerang cepat dan kembali menggulung pelaku usaha dan petambak di Lampung. 
Terakhir, pemerintah juga hendaknya memberikan kemudahan dan membantu para pelaku usaha untuk menembus pasar ekspor yang lebih luas. Sehingga, komoditas-komoditas unggulan di sektor perikanan Lampung bisa semakin kuat. (gustina asmara/dari berbagai sumber) 
Tags
ekbis
Penulis: Gustina Asmara
Editor: taryono
Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved