Fadli Zon dan Setya Novanto Dilaporkan ke Mahkamah Kehormatan Dewan

Ini tidak etis dan memalukan. Kita sebagai negara besar dijual di sana.

KOMPAS.COM/ICHA RASTIKA
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Adian Napitupulu saat jumpa pers di Jakarta, Minggu (9/11/2014). 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, JAKARTA - Anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan, Adian Napitupulu bakal memimpin rekan-rekannya mendatangi Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) untuk melaporkan tindakan Ketua DPR Setya Novanto dan Wakil Ketua DPR Fadli Zon yang hadir dalam kampanye kandidat presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Rencananya Senin (7/9/2015) Setya dan Fadli akan dilaporkan ke MKD oleh Adian Cs. "Senin pukul 12, kami berlima akan ke MKD," tegas Adian di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (5/9/2015).

Kelima orang yang dimaksud Adian adalah dirinya sendiri, Charles Honoris, Maman Imanulhaq, Diah Pitaloka dan Budiman Sudjatmiko.

Kelima orang tersebut menentang kehadiran Setya Novanto dan Fadli Zon dalam kampanye Donald Trump. Diah Pitaloka menilai Ketua DPR Setya Novanto dan Wakil Ketua DPR Fadli Zon telah melanggar kode etik DPR karena turut hadir dalam kampanye calon presiden Amerika Serikat Donald Trump.

"Dalam pasal 292 peraturan DPR RI tentang Tata Tertib mengenai kode etik disebutkan bahwa setiap anggota selama menjalankan tugasnya untuk menjaga martabat, kehormatan, citra dan kredibilitas DPR," kata Diah.

Diah menyebut, selain melanggar kode etik, baik Setya maupun Fadli juga telah melanggar politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif. Akibat dari hadirnya pimpinan DPR di kampanye Donald Trump bisa menimbulkan persepsi Indonesia memihak salah satu capres Amerika.

"Ditinjau dari politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif, pimpinan DPR RI hendaknya tidak ikut terlibat dalam perpolitikan negara lain," tuturnya.

Sementara Charles Honoris merasa malu dan sedih melihat kelakuan pimpinan DPR Setya Novanto dan Fadli Zon yang menghadiri acara kampanye kandidat presiden AS Donald Trump.

"Ini tidak etis dan memalukan. Kita sebagai negara besar dijual di sana," kata Charles.

Politikus PDI Perjuangan itu menuturkan, tidak seharusnya Setya Novanto dan Fadli Zon berada di tengah-tengah acara kampanye Donald Trump. Bahkan yang sangat disayangkan, pin DPR masih terpasang di baju Setya Novanto saat menghadiri acara kampanye tersebut.

"Artinya dia (Setya Novanto) diperkenalkan sebagai Ketua DPR. Bukan sebagai pribadi," tuturnya.

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved