Pengungsi Rohingya Ngaku Diperkosa Ternyata Bohong, Relawan Lapor Polisi

Hasil visum yang dilakukan RSU Cut Meutia menunjukkan, keempat perempuan Rohingya itu tidak mengalami pemerkosaan.

Tayang:
Editor: Andi Asmadi
AFP PHOTO / SUTANTA ADITYA
Anak-anak pengungsi dari etnis Rohingya berdiri di pengungsian di Birem Bayuen, Aceh Timur, Rabu (20/5/2015). Anak-anak ini merupakan bagian dari para pengungsi Rohingya yang meninggalkan kampung halaman mereka di Rakhine, Myanmar, karena konflik. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, LHOKSEUMAWE — Komite Nasional untuk Solidaritas Rohingya (KNSR) Aceh segera melaporkan empat pengungsi perempuan Rohingya yang mengaku telah diperkosa.

Pasalnya, hasil visum yang dilakukan RSU Cut Meutia menunjukkan, keempat perempuan Rohingya itu tidak mengalami pemerkosaan.

"Aceh menerima sangat baik warga Rohingya. Relawan dari berbagai lembaga, masyarakat Aceh, meninggalkan keluarganya siang dan malam untuk membantu pengungsi Rohingya itu. Lalu, mereka berbohong dan mengaku diperkosa. Ini perlakuan yang sangat memalukan kita, relawan, Aceh, dan Indonesia," ujar Ketua KNSR Aceh Mustafa MY Tiba kepada Kompas.com, Jumat (2/10/2015).

Mustafa menambahkan, gara-gara cerita bohong warga Rohingya tersebut, dunia menghujat Aceh dan Indonesia seolah-olah telah memperlakukan mereka dengan tidak baik. Faktanya, sambung Mustafa, semua relawan dan rakyat Aceh sudah berbuat yang terbaik untuk mereka.

"Untuk itu, kita perlu memberikan efek jera agar hal seperti ini tidak terulang lagi. Senin nanti, kita lapor ke polisi untuk diusut tuntas," ujarnya.

Selain itu, tambah Mustafa, pihaknya menduga ada pihak lain yang memprovokasi warga Rohingya itu agar berbohong. Karena itu, mereka berani berbohong dan secara sistematis membuat gaduh di lokasi penampungan.

"Kami tahu warga Rohingya ini tidak memiliki pengetahuan yang baik. Kami curiga ada pihak lain yang mengajari mereka berbohong. Aktor di balik ini juga harus diusut dan ditangkap," ujarnya.

Sebelumnya ramai dikabarkan, sebanyak enam orang pengungsi Rohingya di penampungan Blang Adoe, Kecamatan Kuta Makmur, Aceh Utara, Senin (28/9/2015) sekitar pukul 21.00 WIB, disekap dan diperkosa sejumlah orang tak dikenal di kawasan Jalan Line Pipa, tak jauh dari penampungan.

Keenam pengungsi itu mengaku, para penyekap menuduh mereka kabur dari lokasi penampungan. Dari keenam pengungsi tersebut, empat di antaranya adalah perempuan yang mengaku menjadi korban pemerkosaan.

Menurut cerita beberapa pengungsi Rohingya yang sudah bisa berbicara bahasa Melayu, keenam orang pengungsi itu memanjat pagar di bagian belakang penampungan. Mereka mengaku ingin menemui saudaranya yang datang dari Malaysia. Namun, setibanya di luar penampungan, sekelompok pria tak dikenal menangkap mereka.

Empat perempuan yang mengaku diperkosa itu berinisial AM, HA, ZU, dan TI. Sementara itu, dua orang lainnya adalah IS dan AB yang mengaku sempat ditelanjangi. Buntut dari kejadian tersebut, para pengungsi Rohingya lainnya marah dan menggembok pintu pagar penampungan sekitar pukul 22.00 WIB. Bahkan, para relawan yang berjaga di kawasan itu diusir ke luar penampungan.

Sehari sesudahnya, pada Selasa (29/9/2015) pagi, Koordinator Working Group Shelter Khuzaimah dan UNHCR datang ke penampungan, tetapi tak bisa masuk karena gerbang pagar digembok. Baru pada pukul 10.00 WIB mereka diizinkan masuk setelah dua petugas UNHCR bernegosiasi dengan seorang pengungsi Rohingya bernama Rasyid.

"Berdasarkan cerita dari IS dan AB serta korban lainnnya, mereka diperkosa setelah ditelanjangi. Karena itu, semalam ada yang kesal dan menggembok pintu," kata Muhammad Rasyid yang dibenarkan Mohammad Husein, warga Rohingya lainnya.

Informasi tentang pelecehan seksual ini beredar luas di Aceh Utara dan Lhokseumawe. Pada siang hari, Sekda Aceh Utara Isa Anshari, Asisten I Pemerintah Aceh Utara Anwar Adlin, dan Kepala Humas Pemerintah Aceh Utara Amir Hamzah mendatangi lokasi penampungan.

"Untuk memastikan benar atau tidak mereka menjadi korban pemerkosaan kita minta divisum. Namun, keluarganya tak mengizinkan. Bahkan, pintu kamar dikunci dari dalam. Saya sudah bicara dengan keluarganya, tetapi tidak bersedia juga. Karena itu, kita akan cari solusi lain sehingga mereka bisa divisum," ujar Isa Ansari.

Sampai Selasa sore, hanya satu orang dari empat orang yang mengaku diperkosa dibawa ke Rumah Sakit Cut Meutia Aceh Utara untuk divisum. "Kita tunggu hasil visumnya saja apakah benar diperkosa atau tidak," kata Ketua Komite Nasional Solidaritas Rohingya (KNSR) Aceh, Mustafa MY Tiba.

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved