"Untung Ada BPJS Kesehatan"

Saat ini, jumlah pesertanya mencapai 150 juta orang se Indonesia. Jumlah ini akan terus bertambah hingga akhir 2015.

TRIBUN LAMPUNG/GUSTINA ASMARA
Pihak Rumah Sakit Imanuel Bandar Lampung tengah melayani pasien BPJS Kesehatan, Selasa (13/10). 

DALAM usia yang tergolong muda, BPJS Kesehatan kini telah menjelma menjadi program jaminan sosial terbesar di dunia. Saat ini, jumlah pesertanya mencapai 150 juta orang se-Indonesia. Jumlah ini akan terus bertambah hingga akhir 2015.

Program jaminan layanan kesehatan ini mengkover semua lapisan masyarakat, tanpa membedakan golongan, usia, dan lain sebagainya. Semua masyarakat bisa menjadi peserta BPJS Kesehatan tanpa pandang bulu.

Dengan iuran yang murah, namun manfaat besar, seluruh lapisan masyarakat pun berbondong bondong mendaftarkan diri ke BPJS Kesehatan. Masyarakat juga tak lagi merasa khawatir untuk berobat dan bakal menanggung biaya yang besar.

Hal ini setidaknya dirasakan Harsen Oktolepal, warga Waykandis, Kecamatan Tanjungsenang, Bandar Lampung. Ia mengaku sangat terbantu dengan kehadiran BPJS Kesehatan. Dengan membayar iuran cuma Rp 59.500 sebulan, ia sudah mendapat kover kesehatan pada fasilitas kelas satu.

"Dulu kalau mau berobat kan mikir-mikir dulu. Kalau tidak sakit-sakit parah banget, tidak ke dokter. Karena kita tahu pasti keluar biaya besar, apalagi kalau ke rumah sakit swasta. Tapi sekarang, sakit sakit sedikit tinggal langsung ke dokter saja atau dirujuk ke rumah sakit dan tidak keluar biaya sama sekali," ceritanya, Senin (12/10).

Ia menuturkan, sempat beberapa kali ditawarkan asuransi swasta. Bahkan pernah juga berinisiatif untuk bertanya ke asuransi asuransi kesehatan yang ada. Namun, semuanya berpremi diatas Rp 300 ribu. Menurutnya, biaya sebesar itu cukup berat untuknya yang hanya berprofesi sebagai pedagang ikan hias.

"Saya ingin mengkover diri saya, istri dan anak saya. Saya berpikir, jika satu orang sudah Rp 300 ribu lebih kalau tiga orang bisa 1 jutaan. Itu berat bagi saya. Namun asuransi kesehatan ini penting. Karena itu, ketika saya mendengar kabar ada BPJS Kesehatan dengan premi di bawah Rp 100 ribu, saya langsung mendaftar," ujarnya.

Harsen sudah menjadi peserta BPJS Kesehatan sejak September 2014. Ia mendaftarkan dirinya, istri, anak dan ibu mertuanya. Ia pun menceritakan, pernah satu hari istrinya mengalami keguguran dan dirujuk ke rumah sakit Urip Sumoharjo (rumah sakit tipe B), Bandar Lampung. Istrinya yang bernama Widyawati, dirawat di rumah sakit ini selama tiga hari.

"Saya sudah khawatir, apa akan ada tambahan biaya saat keluar rumah sakit. Mengingat biaya rumah sakit swasta cukup mahal dan saya cuma bayar iuran Rp 59.500 saja sebulan ke BPJS Kesehatan. Ternyata saya tidak mengeluarkan biaya sepeser pun. Alhamdulillah sekali," ujarnya.

Pengalaman serupa dirasakan Andi Rianto, yang juga berprofesi sebagai pedagang. Ia mengaku, menjadi peserta BPJS Kesehatan sejak awal tahun lalu dengan mengambil fasilitas kesehatan kelas pertama. Ia juga mengaku sangat terbantu dengan adanya BPJS Kesehatan.

Halaman
1234
Penulis: Gustina Asmara
Editor: soni
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved