Cara Hadapi Saudara Yang Mau Menang Sendiri
Saya punya saudara suka mau menang sendiri dan perbuatannya sudah menyakiti orang lain namun dia tidak pernah peduli.
Penulis: Eka Ahmad Sholichin | Editor: soni
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Yth Psikolog. Saya punya saudara suka mau menang sendiri dan perbuatannya sudah menyakiti orang lain namun dia tidak pernah peduli. Jadi bagaimana cara menghadapinya? Terima kasih atas penjelasannya.
Pengirim: +6285369812xxx
Sebaiknya Ajak Orang Yang Dianggap Objektif
Kami jelaskan bahwa bertemu seseorang yang cenderung mau menang sendiri dan selalu melukai hati orang lain, sangatlah menyebalkan. Kehadirannya selalu membuat kita tidak nyaman, membuat marah, dan jengkel.
Tapi menghindar dari orang yang menyebalkan tak semudah yang dibayangkan. Ada kondisi yang kadang-kadang menjebak kita berada dalam satu lingkungan dengannya. Apalagi ini masih saudara kita. Jadi agak kesulitan untuk menghindarinya.
Dalam situasi seperti Anda, yang dibutuhkan adalah menyamarkan ketidaksukaan sehingga tidak menjadi konflik yang serius. Misalnya:
a. Mendengarkan. Lebih baik dengarkan argumennya yang mau menang sendiri. Misalnya dia menyukai artis tertentu dan menjelekkan artis lain, jangan ditentang pendapatnya. Mungin ini akan menyiksa, tetapi justru akan membuat Anda lebih cepat keluar dari obrolannya dari pada sibuk mendebat argumennya yang tak penting.
Karena mendebat dengan orang yang selalu ingin menang sendiri akan membuat waktu terbuang sia-sia dan membuat marah.
b. Abaikan kehadirannya. Memberi tempat pada orang yang menyebalkan dan melukai hati hanya akan memancing emosi, marah, dan membuat Anda terjebak dalam konfrontasi tidak penting
c. Kelola emosi Anda. Jangan biarkan diri Anda terpancing dengan perkataannya yang mungkin mengusik Anda. Diam terkadang adalah hal yang baik. Menanggapi komentar menyebalkan dengan marah justru berpotensi menjatuhkan kredibilitas Anda. Saat emosi, biasanya fokus terhadap persoalan yang sesungguhnya menjadi kabur karena Anda lebih fokus terhadap konflik semu yang diciptakan manusia menyebalkan.
d. Ada baiknya ajak orang lain yang dia anggap obyektif. Hal ini dilakukan untuk memahaminya sehingga ia mengerti bahwa apa yang dilakukannya banyak menyakiti orang lain. Perlu diingat bahwa kemampuan untuk memahami orang lain itu terbentuk dari kecil dan pola asuh sangat mempengaruhi. Orangtua yang egois biasanya memiliki anak-anak yang egois juga.
Retno Riani MPsi
Psikolog