Kasus Papa Minta Saham

Aliansi Aksi Bersih-Bersih Ancam Unjuk Rasa Jika Setnov Batal Lengser

Ribuan massa memadati halaman depan Kompleks Parlemen saat proses sidang perkara dugaan pelanggaran etik di Mahkamah Kehormatan Dewan

Editor: soni
KOMPAS.com/NABILLA TASHANDRA
Ribuan orang memadati halaman depan Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (16/12/2015). Massa tersebut terdiri dari massa pendukung dan kontra Setya Novanto 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, JAKARTA - Ribuan massa memadati halaman depan Kompleks Parlemen saat proses sidang perkara dugaan pelanggaran etik di Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) tengah berlangsung.

Tak hanya massa yang mendorong Ketua DPR RI Setya Novanto agar diturunkan dari jabatannya, ada pula sekelompok massa yang pro terhadap Novanto.

Koordinator Lapangan Aliansi Aksi Bersih-Bersih, Fahri menuturkan, pihaknya meminta Novanto untuk segera diturunkan dari jabatannya.

Jika tidak diturunkan, pihaknya mengancam untuk melakukan aksi hingga Novanto diturunkan.

"Kami sudah tiga minggu berturut-turut turun aksi. Setya Novanto harus terus. Kami akan terus lakukan aksi," kata Fahri di depan halaman depan Kompleks Parlemen, Rabu (16/12/2015).

Fahri mengatakan, pihaknya akan membawa sekitar 1.000 orang massa yang masih akan terus berdatangan ke depan gerbang Kompleks Parlemen.

Di sisi lain, ada sekelompok orang yang pro dengan Setya Novanto.

Koordinator Lapangan Aliansi Masyarakat dan Pemuda Antikorupsi, Saleh Kabakoran mengatakan, pihaknya mendesak pimpinan MKD agar lebih objektif dalam menentukan putusan.

"Alat bukti yang dijadikan Sudirman Said untuk melaporkan Bapak Setnov tidak mempunyai legal standing. Kami menduga dokumen tersebut melanggar hukum," kata Saleh.

Saleh menambahkan, pihaknya membawa sekitar 1.000 massa yang akan terus berdatangan dan akan terus melakukan aksi hingga putusan Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) selesai.

Dari pantauan Kompas.com, tak ada bentrok yang terjadi antara kelompok pro dan kontra Setya Novanto.

Selain melakukan aksi terkait kasus tersebut, ada pula kelompok yang meminta Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla untuk mundur karena tidak mampu mewujudkan Nawa Cita.

Akibat aksi ini, kemacetan memanjang hingga kawasan Semanggi, Jakarta Selatan.

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved