Bilqiz Diduga Derita Gizi Buruk, Hanya Bisa Menangis Saat Lapar

Saat ini berat badan putri dari pasangan Anton Subroto (30) dan Ernita (27) warga Desa Cempaka Barat, Sungkai Jaya adalah 4,7 kilogram.

Penulis: anung bayuardi | Editor: Reny Fitriani
Tribunlampung/Anung
Bilqiz (1,5) bersama sang ibunda Ernita 

Laporan Reporter Tribun Lampung Anung Bayuardi

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, KOTABUMI - Di usianya yang masih balita, Alenta Bilqis (1,5) hanya bisa menangis jika kondisinya sedang lapar ataupun mengantuk. hal ini diperparah dengan kondisi berat badannya yang dibawah ideal dengan usia sebayanya. Saat ini berat badan putri dari pasangan Anton Subroto (30) dan Ernita (27) warga Desa Cempaka Barat, Sungkai Jaya adalah 4,7 kilogram. Bilqis sapaannya diduga terkena penyakit gizi buruk

Ernita menceritakan awalnya, putrinya terlahir secara normal dengan berat badan 3,8 kilogram. menginjak usia 5 bulan tiba-tiba buah hatinya mengalami batuk-batuk dengan disertai darah segar yang keluar dari mulut dan hidungnya. "Berat badannya waktu usia 5 bulan sudah capai 7,5 kilogram," katanya.

Melihat kondisi tersebut, mereka lantas membawanya ke RSU Ryacudu Kotabumi untuk dilakukan perawatan. Saat itu, terang Ernita dokter mendiagnosis Alenta Bilqis terkena infeksi paru-paru. Hal inilah yang menyebabkan kondisi berat badannya semakin turun dari waktu ke waktu.

Saran dokter, Alenta diobati penyakitnya tersebut dengan diberikan obat secara terus menerus selama enam bulan. "Dia (Bilqis) minum obat paru-paru khusus anak selama enam bulan," katanya.

Hingga usianya satu tahun setengah, kondisi berat badannya berangsur naik. Dimana saat itu, beratnya mencapai 6 kilogram. Namun dalam sepekan terakhir, kondisi Alenta Bilqis menurun. Orangtuanya kembali membawanya ke RSU Ryacudu Kotabumi. "Masuk kesini (RSU) beratnya 4,3 kilogram. Tapi sekarang sudah 4,7 kilogram," bebernya.

Saat masuk ke RSU Ryacudu, Anton ayahanda Bilqis menerangkan berdasarkan diagnosis dari dokter Ismi, anaknya mengalami gizi buruk. Dirinya berharap anaknya dapat sembuh dari penyakitnya. "Saya harap Pemerintah dapat memberikan pengobatan yang tuntas, hingga penyakit Bilqis tidak ada lagi," harapnya.

Selama ini, mereka mengaku Pemerintah setempat sudah memberikan bantuan berupa dana untuk pengobatan. Selain itu juga dalam berobat, Alenta memakai BPJS Kesehatan.

Menurut pantauan Tribunlampung, Alenta saat di temui di RSU Ryacudu Kotabumi, diruang perawatan anak, kondisinya memperihatinkan. Ia hanya menangis, meskipun sudah diberikan susu oleh orang tuanya. "Dia sehari-hari begini tiduran. Digendong juga tidak bisa lama-lama, karena kondisinya begitu," jelas Anton. (Ang)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved