Wisata Talang Dibangun Belanda Tahun 1928
Wakil Ketua Pengelola Wisata Alam Hutan Kota dan Talang Indah Supardi TS mengatakan bahwa talang merupakan jembatan air irigasi.
Penulis: Robertus Didik Budiawan Cahyono | Editor: soni
Laporan Reporter Tribun Lampung R Didik Budiawan
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, PRINGSEWU - Wakil Ketua Pengelola Wisata Alam Hutan Kota dan Talang Indah Supardi TS mengatakan bahwa talang merupakan jembatan air irigasi. Sehingga dengan talang, irigasi yang terputus lembah kurang lebih 100 meter jadi tersambung.
Irigasi ini merupakan saluran air yang berasal dari Bendungan Bumi Ratu, Kecamatan Pagelaran untuk mengairi areal sawah yang ada di Kecamatan Pringsewu. Talang yang tadinya hanya berfungsi untuk jembatan air, kini menjadi ruas jalan penghubung warga menuju lahan garapan. Yakni dengan memanfaatkan bagian atas talang sebagai jembatan.
Awalnya, warga melintas hanya dengan sebilah papan yang sambung menyambung di bagian permukaan talang. Lambat laun, papan itu dibuat melintang menyerupai permukaan jembatan.
Kini, pemerintah merehabnya permanen dengan membuat permukaan talang dengan besi. Sehingga dengan talang ini, menjadi jembatan penghubung antara tanah lapang yang dikelola pemuda Fajaresuk ke Bukit Pangonan yang ada di seberangnya.
Dia mengatakan, Bukit Pangonan dengan luas kurang lebih enam hektar merupakan lahan Pemkab yang telah ditetapkan sebagai wilayah Hutan Kota. Sementara itu keberadaan talang ini sudah sejak jaman Belanda.
Supardi mengungkapkan bahwa wilayah Fajar Esuk ini dibuka dengan tebang pada 1927. Baru setahun kemudian, 1928 dibangun talang oleh Belanda. Menurut Supardi, talang ini tidak hanya ada di wilayah Fajaresuk saja. Melainkan ada yang di Bumi Noto, Bumi Ayu dan Bumi Arum
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/wisata-talang-pringsewu_20160205_233209.jpg)