Balada Sang Penjaga, Ibarat Tubuh Gajah Adalah Darah bagi Hutan

Keberadaan populasi gajah di TNWK merupakan suatu keharusan. Namun, banyak kalangan yang belum mengetahui peranan hewan

Balada Sang Penjaga, Ibarat Tubuh Gajah Adalah Darah bagi Hutan

Laporan Reporter Tribun Lampung Indra Simanjuntak

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, SUKADANA - Keberadaan populasi gajah di TNWK merupakan suatu keharusan. Namun, banyak kalangan yang belum mengetahui peranan hewan bernama latin Elephas Maximus Sumatranus itu. Gajah merupakan penjaga keseimbangan ekosistem di TNWK yang merupakan salah satu wet land (lahan basah) terbesar di sumatera.

Jika harimau dikategorikan sebagai predator puncak untuk mengindikasikan ekosistem hutan yang sehat dan ketersedian air yang cukup bagi mahluk hidup di dalam kawasan, gajah merupakan juru kunci atau satwa payung untuk menyediakan dan mendukung kehidupan satwa lain. Hewan mamalia itu sebagai penyebar benih tumbuhnya tanaman atau pepohonan di dalam hutan. Gajah juga berfungsi sebagai menjadi pengendali ekosistem.

Beberapa tahun lalu, cerita Dedi Isnandar, pengendali ekosistem hutan TNWK, ada sebuah daerah bernama kali biru. Kali biru merupakan sungai menuju ke Way Kambas. Dahulu, sepanjang kanan kiri kali biru ditumbuhi padang rumput. Dan salah satu spot yang banyak dikunjungi gajah maupun rusa. Kini daerah itu menjadi semak belukar. Karena tidak ada gajah lagi yang ke sana.

“Ada beberapa tanaman fast growing di TNWK. Wet land, jika tidak ada gajah dalam 10 sampai 20 tahun bisa menjadi hutan dataran rendah, bukan lagi hamparan padangan rumput. Jadi gajah mengendalikan lahan basah atau hutan rawa. Dimana hutan rawa itu penyuplai terbesar ikan air tawar. Ekstremnya, kalau gajah tidak ada, ikan air tawar alami dan habitat lain pun berkurang di sungai-sungai,” imbuhnya.

Ibarat tubuh, Isnan mengumpamakan gajah sebagai darah bagi hutan. Karena daya jelajahnya yang jauh, dengan sumber makanan lebih dari 100 tumbuhan, mamalia itu menjadi penyebar benih tumbuhan pengisi TNWK. “Dan pantas sekali disebut satwa kunci. Cuma kerap dianggap pengganggu karena masuk lahan,” imbuhnya.

Catatan konflik menyebutkan terjadi sekitar 600 kali setiap tahunnya. Konflik ialah ketika gajah keluar kawasan dan memasuki wilayah perkebunan, pertanian, atau pemukiman warga. TNWK berbatasan langsung dengan 37 desa (tujuh kecamatan di Lampung Timur, empat kecamatan Lampung Tengah, dan satu kecamatan di Tulang Bawang).

Sebagian besar TNWK berbatasan langsung dengan pemukiman masyarakat. Sepanjang 29 kilometer pinggiran hutan hanya dibatasi dengan kanal. Sisanya sungai. Hanya ada satu buffer zone (lahan penyangga) sebelum memasuki TNWK di wilayah Lampung Tengah. Yakni Register 8. Dan kondisi Register 8 pun, pada saat Tribun Lampung mengunjungi tahun 2013, tak berbeda jauh seperti pemukiman. Dimana banyak tanaman dan rumah warga.

Halaman
12
Penulis: Indra Simanjuntak
Editor: soni
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved