Pawang TNWK Sebut Gajah Seperti Punya GPS

Bahkan, kalau kita patroli, kita percaya saja. Mau jalan kemana, itu pasti bisa pulang ke camp. Jadi enggak nyasar. Seperti punya GPS sendiri.

Pawang TNWK Sebut Gajah Seperti Punya GPS
Tribun Lampung/Indra Simanjuntak
Pawang gajah Tegal Yoso, SPTN wilayah II Bungur TNWK, Kamis (17/3). 

Laporan Reporter Tribun Lampung Indra Simanjuntak
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, LAMPUNG TIMUR - Selama berada di Tegal Yoso, SPTN wilayah II Bungur TNWK, pada Kamis (17/3) Tribun Lampung berkesempatan berpatroli gajah bersama salah satu pawang gajah ERU, Adi Sutirto.

Berkecamuk rasanya berada di atas gajah dengan ketinggian dua hingga tiga meter dari tanah. Pasrah dan berserah menyusuri lebatnya hutan TNWK. Dan tentu saja takjub, bagaimana hewan besar tinggi ini bisa mematuhi instruksi pawang.

"Gajah ini punya ingatan yang luar biasa. Sebagai pawang, biasanya kami butuh waktu tiga sampai enam bulan untuk gajah terlatih, baru bisa sepaham. Bahkan, kalau kita patroli, kita percaya saja. Mau jalan kemana, itu pasti bisa pulang ke camp. Jadi enggak nyasar. Seperti punya GPS sendiri," ujar Adi Sutirto.

Kemampuan ingatan gajah ini pun terbukti pada hari kedua berada di camp Eru. Di mana ketika kami tengah patroli sekitar pukul 17.30 WIB, satu gajah bernama boy secara mengejutkan berlari saat dimandikan pawangnya. Pencarian selama satu jam lebih pun dilakukan hingga gelap malam. Boy tak kunjung ditemukan. Tim memutuskan balik ke camp karena tidak membawa peralatan lengkap.

Pukul 23.30 WIB, saat beberapa di antara kami lelap tertidur, seorang rekan mendengar suara langkah gajah mendekati camp. Kami pun terjaga. "Boy. Itu boy," bisik Adi. Seketika perasaan bahagia menyelimuti camp Eru. Boy kembali dengan sendirinya. Luar biasa. Terbesit dalam hati, bagaimana mungkin, spesies penjaga keseimbangan ekosistem ini bisa dianggap hama perusak kebun maupun lahan pertanian.

Balai TNWK secara resmi mengungkap beberapa faktor penyebab gajah keluar kawasan. Di antaranya, kebiasaan atau merupakan daerah lintasan gajah (desa konflik) secara turun temurun, kemudian tersedianya makanan di perkebunan atau pertanian. Namun, hipotesa faktor makanan ini dibantah Humas TNWK Sukatmoko. Karena luas 125.621,5 hektare dianggap cukup menyediakan makanan bagi populasi gajah yang ada.

Artinya, hipotesa daerah lintasan lebih pas ketimbang makanan. Walau saat gajah keluar kawasan kerap memakan tanaman warga. Konflik di TNWK sendiri mulai dicatat sejak awal tahun 1980. Setelah proyek transmigrasi pada era Presiden Soeharto diluncurkan, yang menempatkan masyarakat berdekatan dengan kawasan. Hingga kini, konflik tak pernah selesai. Bahkan cenderung meningkat.

TNWK sendiri telah melakukan berbagai upaya penanganan konflik. Pun demikian dengan sejumlah organisasi lingkungan ataupun masyarakat yang peduli. "Metode sudah banyak. Mulai dari bangun kanal, pagar cabai, pagar listrik sudah kita coba. Tapi ya itu tetap berhasil keluar kawasan," imbuh Sukatmoko.

Ini artinya, cita-cita zero konflik sulit direalisasikan. Yang menjadi pertanyaan, sampai kapan konflik ini terus terjadi. Terlebih selama kita, manusia, merasa memiliki sendiri hak atas bumi, air, dan udara. Hingga suatu masa, gajah sumatera tinggal menjadi sebuah cerita.(indra simanjuntak)

Penulis: Indra Simanjuntak
Editor: muhammadazhim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved