Breaking News:

Mimpi Wisata Lampung Oke? Benahi Kemacetan, Sampah, Hingga Kenyamanan Wisatawan

Momen libur Paskah membuat sejumlah objek wisata bahari yang ada di pesisir Lampung dipadati pengunjung.

Penulis: heru prasetyo | Editor: soni
Mimpi Wisata Lampung Oke? Benahi Kemacetan, Sampah, Hingga Kenyamanan Wisatawan

Laporan Reporter Tribun Lampung Heru Prasetyo

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Momen libur Paskah membuat sejumlah objek wisata bahari yang ada di pesisir Lampung dipadati pengunjung. Kepadatan kendaraan di jalanan menuju objek wisata pantai tersebut pun tidak bisa dihindari.

Meski demikian, hal tersebut belum bisa dikatakan parah. Hal ini normal, jika dibandingkan kemacetan yang terjadi di Puncak atau tol Jakarta-Cikampek jika libur panjang.

Tapi, ada beberapa hal yang harus dibenahi pemangku kepentingan untuk mendukung geliat pariwisata di daerah pesisir di Lampung. Paling utama adalah bagaimana pemerintah mulai memikirkan urusan kemacetan tadi.

"Sejauh ini, macet yang terjadi di akses wisata pantai di Lampung berkisar satu jam atau kurang dari itu. Ini terbilang normal," terang pegiat wisata Lampung Yopie Pangkey. Meski begitu, urusan macet dan menunggu yang begitu membosankan bisa menjadi bumerang jika tidak diberi sentuhan manajemen yang baik.

Upaya pelebaran jalan yang dilakukan Pemerintah Pesawaran, misalnya, dinilai Yopie perlu diapresiasi sebagai langkah antisipatif mengurangi kemacetan. Tapi, pertanyaan selanjutnya adalah, sampai kapan pelebaran jalan mampu menjadi solusi, mengingat jumlah kendaraan selalu meningkat setiap tahunnya.

Oleh karena itu, wacana pembangunan pelabuhan alternatif yang digunakan untuk menuju objek wisata bahari rasanya wajih direalisasikan. Pembangunan pelabuhan ini, menjadi solusi untuk mengurai kemacetan yang ada selama ini.

Nantinya, pelabuhan akan didirikan di Bandar Lampung, sehingga bagi mereka yang ingin ke Pahawang dan sekitarnya cukup naik perahu dari pelabuhan tersebut. Ini jauh lebih efisien dan cukup rasional.

Di luar masalah tadi, tren kunjungan wisata bahari Lampung yang meledak pada sejak 2012 silam diprediksi akan tetap hidup hingga tiga atau lima tahun ke depan. Destinasi wisata andalan di Lampung masih menjadi primadona di kalangan wisatawan. Maka masalah selanjutnya yang harus dicarikan solusi adalah urusan transportasi umum.

Bagi wisatawan yang datang secara rombongan dengan didampingi guide, tentu tidak jadi masalah untuk bepergian ke pantai-pantai Lampung. Tapi bagaimana dengan mereka yang datang berdua atau bertiga. Bagaimana wisatawan asal Palembang yang turun dari kereta dan mau ke Pahawang? Ke depan ini harus kita carikan solusi.

Belum lagi pemberdayaan masyarakat pantai, pengelolaan tiket dan harga masuk. Mestinya ini segera dilakukan penyeragaman atau dibuat regulasinya. Misalnya di Kiluan yang berstatus eko wisata, urusan tiket dan lainnya sudah ditetapkan bersama oleh musyawah masyarakat setempat. Artinya, ke depan jangan sampai wisata pantai kita jadi terpuruk hanya karena harga masuk, kenyamanan, dan keamanan wisatawan.

Terakhir dan yang tidak kalah penting adalah bagaimana manajemen sampah di lokasi wisata. Sampah wisatawan atau sampah rumah tangga yang terbawa arus hingga ke pantai sebaiknya sudah dijadikan perhatian serius. Jika tidak ditangani secara serius, maka hal ini akan menjadi musuh bagi kenyamanan wisatawan untuk berkunjung.

Selebihnya, wisata bahari kita memiliki potensi yang luar biasa dan tidak kalah menarik dibanding dengan daerah lain di Pulau Jawa. Buktinya, wisatawan luar kota dari Jakarta, Bandung, Palembang, kini mulai datang dan rela macet-macetan di tol Jakarta atau Merak, hanya untuk bisa ke pantai Lampung. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved