Press Gathering Telkomsel di Yogya
Dua Mitos di Candi Prambanan, Pasangan Kekasih Putus hingga Kesurupan
Menurut kepercayaan masyarakat sekitar, pasangan kekasih ini justru akan putus setelah masuk ke ruangan ini.
Penulis: Robertus Didik Budiawan Cahyono | Editor: Heribertus Sulis
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Pressgethring Telkomsel di Yogyakarta diawali dengan mengunjungi tempat wisata budaya, Candi Prambanan, Kamis (12/5) kemarin. Situs sejarah ini terletak di 17 kilometer timur laut Yogyakarta.
Peserta Pressgethring yang berjumlah sekitar 80 orang mengendarai dua bus ke lokasi wisata di Kecamatan Prambanan ini. Bertolak dari Hotel 101 yang berada dekat tugu nol kilometer Yogyakarta, kurang lebih 60 menit para peserta menempuh perjalanan ke Candi Prambanan.
Saat memasuki lokasi candi rombongan dipandu oleh dua orang pendamping, satu diataranya Subarno (62). Subarno sangat pasih menerangkan sejarah berdirinya candi yang berada di lahan seluas 80-an hektar ini.
Candi Prambanan yang juga disebut Candi Roro Jonggrang ini merupakan kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia. Candi ini dipersembahkan untuk Tri Murti, tiga dewa utama Hindu yakni Brahma sebagai Dewa Pencipta, Wisnu sebagai dewa pemelihara dan Siwa sebagai Dewa pemusnah.
Ketiga candi ini berjajar dengan candi tertinggi di tengah merupakan Candi Siwa ketinggian 47 meter. Diketahui candi ini dibangun sekitar 850 masehi era keluarga Sanjaya. Setelah memberikan sedikit penjelasan mengenai Prambanan, Subarno mengajak peserta masuk ke lokasi Candi.
Selama perjalanan tak henti Sabarno meberi penjelasan.Dalam perjalanan itu Subarno juga menyebutkan adanya mitos yang dipercayai pada Candi tersebut. Khususnya bagi pasangan kekasih yang datang ke lokasi untuk tidak bersama-sama melihat ke ruangan Roro Jonggrang.
Menurut kepercayaan masyarakat sekitar, pasangan kekasih ini justru akan putus setelah masuk ke ruangan ini. Sebaliknya kalau pasangan menikah akan semakin mempererat tali suci pernikahan yang dijalin.
Kisah lainnya, yakni terkait adanya hal yang bakal tidak diduga muncul apa bila pengunjung berprilaku tidak sopan di lokasi candi. Seperti bertindak semaunya, dengan memanjat candi dan merokok di lingkungan candi.
Rekan Subarno, yang turut mendampingi peserta Press Gethring menuturkan bahwa pihaknya pernah kualahan menanggulangi rombongan yang kesurupan setelah keluar dari komplek candi. Usut punya usut, ternyata rombongan ini melanggar aturan tata tertib candi.
Subarno menegaskan bila candi tersebut telah tercatat di UNESCO dan tata tertib itu juga telah diatur di sana. Sehingga kalaupun ada yang melanggar larangan bisa mendapat sanksi tegas.
Tak jarang dalam perjalanan keliling candi, Subarno selalu memperingatkan supaya peserta berprilaku sopan. Bahkan dia tak segan menegur apa bila ada peserta yang ia temukan memanjat candi.
Subarno mengatakan bahwa dulunya, candi ini dibangun dengan cara ditumpuk. Akan tetapi setelah ditemukan reruntuhannya, candi ini direkontruksi dengan bahan campuran semen supaya lebih kokoh. Selain itu,bangunan candi ini direkatkan dengan lem antara batu satu dengan lainnya.
Selama berada di candi, tidak jarang para peserta mengabadikan momen kunjungan. Mereka yang mayoritas wartawan ini berupaya mengabadikan foto dengan angle terbaik. Sebagian ada yang mengajak wisatawan asing untuk berfoto ria, sebagai kenang-kenangan.
Padatnya kegiatan, membuat waktu kunjungan di Prambanan lebih singkat. Sehingga para peserta pun melanjutkan perjalanan setelah mengunjungi lokasi terakhir di komplek wisata candi, yakni pasar yang menjual berbagai macam pernak-pernik Prambanan.
Seperti kaus dan cendera mata yang bisa menjadi oleh-oleh pengunjung Prambanan. Harga yang ditawarkan pun terjangkau untuk kantong pengunjung. Sehingga tidak sedikit dari mereka yang datang singgah ke pusat oleh-oleh ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/pressgethring-telkomsel-di-yogyakarta_20160515_112146.jpg)