Hasil Study: PR Tak Membuat Anak Jadi Lebih Rajin dan Pintar Secara Akademis

Studi ini menyimpulkan bahwa PR hanya memberikan banyak kerugian pada anak, ketimbang keuntungan.

Hasil Study: PR Tak Membuat Anak Jadi Lebih Rajin dan Pintar Secara Akademis
SHUTTERSTOCK
Ilustrasi 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Kurikulum pendidikan anak sekolah semakin kompleks, beban pelajar bergulir berat, dan pekerjaan rumah (PR) yang menumpuk membuat segalanya semakin kalut sempurna.

Ya… tak bisa dimungkiri bahwa kurikulum pendidikan di Indonesia kian rumit dan berat, dibandingkan beberapa negara maju sehingga tekanan siswa untuk belajar, otomatis pelik.

Kondisi ini, pada akhirnya, bisa membuat banyak siswa di Indonesia yang merasa dipaksa untuk menguasai materi atau keterampilan yang tidak sesuai dengan bakat mereka.

Selain itu, beban PR yang diberikan guru di sekolah, terkadang tidak memikirkan ketersediaan waktu anak dalam beristirahan dan belajar di rumah.

Tak ayal, banyak guru yang memberikan PR begitu banyak sehingga anak frustrasi dan kelelahan.

Sekarang, para orangtua dan guru, harus menyimak uraian mengenai studi yang dilakukan di sejumlah universitas di Amerika Serikat.

Studi ini menyimpulkan bahwa PR hanya memberikan banyak kerugian pada anak, ketimbang keuntungan.

Studi juga mengungkapkan, PR tidak membuat anak jadi lebih rajin dan pintar secara akademis.

Ulasan komperensif dari 180 riset dan studi di Duke University oleh Harris Cooper seorang neuroscientist, memperlihatkan bahwa beban pekerjaan rumah harus disesuaikan dengan usia anak-anak.

Studi menemukan bahwa anak usia sekolah menengah atas, batas maksimal mengerjakan PR hanya dua jam. Lalu, anak usia sekolah menengah pertama, batas maksimal mengerjakan PR hanya satu jam. Terakhir, anak sekolah dasar dan taman bermain, tidak boleh diberikan PR.

Anak-anak di taman bermain dan sekolah dasar masih dalam tahap tumbuh kembang yang aktif. Mengerjakan PR hanya akan membuat mereka berontak dan bertingkah.

Alhasil, mereka jadi semakin menjauhi buku pelajaran, trauma dengan sekolah, dan tidak bisa menikmati proses ajar mengajar secara menyenangkan.

Cooper menegaskan bahwa anak-anak taman bermain dan sekolah dasar dengan beban PR yang berat merupakan kabar buruk karena tidak akan memicu minatnya untuk lebih rajin belajar.

Editor: Reny Fitriani
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved