Disuruh Tinggalkan Ponsel Agar Tak Terlacak Polisi, Ini Pengakuan Terdakwa Korupsi RS Bob Bazar

Awalnya, kata Robinson, ia diajak Mantan Direktur RSU Bob Bazar, Armen Patria ke kantor Hendrik.

Ilustrasi. 

Laporan Reporter Tribun Lampung Wakos Gautama

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Robinson Sahroni, terdakwa kasus gratifikasi proyek alat kesehatan Rumah Sakit Umum (RSU) Bob Bazar, Kalianda, Lampung Selatan (Lamsel), akhirnya buka-bukaan mengenai pelariannya selama menjadi buronan kepolisian.

Robinson bersama empat orang lainnya, sempat menjadi buronan penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Lampung.

Mereka masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) karena dua kali tidak memenuhi panggilan penyidik, untuk pelimpahan tahap dua ke kejaksaan.

Robinson mengakui, ia tidak memenuhi panggilan penyidik karena disuruh pengacaranya ketika itu, Hendrik Mochammad Bunyamin.

Awalnya, kata Robinson, ia diajak Mantan Direktur RSU Bob Bazar, Armen Patria ke kantor Hendrik.

“Saya cuma diajak Pak Armen saja ke rumah dia (Hendrik), untuk meminta perlindungan hukum. Karena, kami dijadikan tersangka kasus gratifikasi,” jelas Robinson Sahroni, saat diwawancarai Tribunlampung.co.id di Pengadilan Negeri Tanjungkarang, Kamis (24/11/2016).

Setelah mendapatkan surat panggilan kedua untuk pelimpahan tahap dua, Robinson, Armen, Joni Gunawan, Subadri Tholib, dan Sutarman ke rumah Hendrik.

Menurut Robinson, Hendrik menyuruh mereka supaya tidak memenuhi panggilan penyidik karena mau mencari keadilan.

“Hendrik lalu menyuruh kami meninggalkan handphone kami. Baterai dan sim card-nya dicopot dari HP. Alasannya, supaya kami tidak terlacak polisi,” ujar Robinson Sahroni.

Halaman
123
Penulis: wakos reza gautama
Editor: Ridwan Hardiansyah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved