Bekas Bar dan Kos PSK Dolly yang Dulu untuk Melayani Tamu dan Minum-minum
Aroma harum menyeruak dari sebuah ruangan kecil di rumah eks wisma di komplek lokalisasi Dolly.
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Aroma harum menyeruak dari sebuah ruangan kecil di rumah eks wisma di komplek lokalisasi Dolly Surabaya. Aroma tersebut berasal dari bahan gel berwarna putih pucat.
Oleh seorang pria di rumah Jalan Putat Jaya Barat VIII B/ 16 itu, bahan tersebut diaduk dan dikemas dalam tempat berbentuk bulat pipih berukuran kecil dan dipajang di showroom atau ruang pamer.
Dalam setahun terakhir, rumah bekas bar tersebut dimanfaatkan sebagai rumah produksi minyak rambut atau pomade. Sejak ditutup 2014 lalu oleh Pemkot Surabaya, rumah yang kini bernama "Rumah Pomade" itu tidak berubah tatanan kamar dan ruang tamunya.
Tiga kamar kecil berukuran 1,5 meter persegi digunakan untuk tempat produksi dan ruang pamer. Sementara ruang tamu berukuran 2×3 meter selain untuk ruang pamer juga untuk menerima pembeli.
David Purwanto, pemilik rumah tersebut mengatakan, rumah tersebut milik keluarganya.
"Ruang tamu dulu tempat minum-minum. Sementara kamar-kamar kecil selain sebagai kamar kos PSK, juga sebagai tempat melayani tamu usai minum-minum," katanya, Selasa (17/1/2017).
Pomade diproduksi oleh David bersama keponakannya, Adi Gojes, dibantu sejumlah pemuda di eks lokalisasi Dolly. Hingga saat ini, setidaknya sudah empat pemuda dari eks lokalisasi Dolly dan Jarak yang sudah mahir meracik pomade.
"Mereka sekarang sudah punya merek sendiri," ujarnya.
Sedangkan para pemuda yang belum bisa saat ini masih membantu pemasaran melalui media sosial dan dunia maya. David mengaku cukup senang karena merasa bisa membantu rekan-rekannya yang sebelumnya berpenghasilan dari aktivitas prostitusi di lokalisasi Dolly.
Karena gencarnya promosi, produk pomade dari Rumah Pomade pun mulai dikenal khalayak. Bahkan kini statusnya disebut distributor karena menyuplai pomade ke berbagai toko diSurabaya bahkan ke luar Surabaya.
"Kalau beli di sini lusinan, dan dapat potongan harga," ucapnya.
Pomade buatan pemuda eks lokalisasi Dolly dikemas dalam bentuk produk bahan “Oil Based” seberat 100 gram dengan harga Rp 125.000. Serta satu lagi kemasan berbahan “Water Based” seberat 50 gram yang dijualnya seharga Rp 35.000.
Pemkot Surabaya, lanjut David, juga berperan dalam mempromosikan produk pomade melalui gerai-gerai milik Pemkot Surabaya. Pemkot Surabaya mengalihfungsikan lokalisasi yang konon terbesar di Asia Tenggara itu menjadi pemukiman dan sentra ekonomi.
Selain produsen minyak rambut, di eks lokalisasi Dolly kini juga ada sentra pembuatan sepatu, sentra pembuatan makanan ringan dan sebagainya.
Penulis: Kontributor Surabaya, Achmad Faizal
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/bekas-kamar-kos-psk-dolly-surabaya_20170117_155506.jpg)